43 Tahun yang Tak Terhapus Jarak: Sebuah Pesan dari Curitiba

Matalensaku Seri 7

43 Tahun yang Tak Terhapus Jarak Sebuah Pesan dari Curitiba
Dari sebuah catatan kecil tentang rindu. Matalensaku.

Merapah.com – Saya bukan pengguna Facebook yang setia. Seringkali, kotak masuk itu tertutup debu digital selama berbulan-bulan. Namun sore itu, sebuah dorongan iseng membawa saya membuka Messenger, dan di sana, sebuah nama muncul membawa kembali ribuan kilometer ingatan: Pericles Picanco. Ucapan selamat ulang tahun darinya bukan sekadar kata-kata, melainkan jembatan menuju tahun 1983 di sebuah sudut kota Lowell, Massachusetts.

 

BACA JUGA: Kabar Baik! Vatican News Kini Hadir dalam Bahasa Indonesia

 

Kenangan di Cluster C

Empat puluh tiga tahun lalu, saya adalah satu-satunya wajah dari Asia Tenggara di antara ratusan peserta training dari seluruh penjuru dunia. Apartemen saya saat itu adalah Apartemen Princeton Park, Cluster C lantai 1. Dari jendela besar di sana, saya menjadi saksi bisu bagaimana alam berganti rupa—dari hijaunya akhir musim semi, jingganya musim gugur, hingga putihnya salju yang membekukan suhu hingga -15C. Di apartemen itulah, takdir mempertemukan saya dengan Pericles, pria hangat asal Brazil yang menjadi teman seapartemen saya.

 

BACA JUGA: Kim Ju Ae Naik Tank, Sinyal Kuat Penerus Kim Jong Un?

 

Tawa dalam Perbedaan

Meski bidang pelatihan kami berbeda, kebersamaan kami tumbuh di sela-sela waktu luang. Saya ingat betapa sering kami berkeliling berdua di akhir pekan, menonton American Football sambil tertawa heran; bagi Pericles yang negaranya adalah kiblat sepak bola dunia, permainan itu terasa asing namun menghibur. Kami juga pernah bersorak di tepian Charles River, menyaksikan persaingan kano antara mahasiswa MIT dan Harvard. Dapur menjadi saksi betapa berbedanya selera kami, namun di sanalah tawa paling kencang terdengar. Kami memasak berdampingan, berbagi ruang tanpa harus berbagi selera.

 

BACA JUGA: Menjemput Magis di Jantung Aegea: Petualangan Volcano & Hot Spring

 

Asap Daging dan Rahasia Kecil

Ada satu momen yang tak mungkin terlupa: saat Pericles mencoba memanggang daging. Dapur mendadak berubah menjadi kepulan asap tebal, memicu alarm kebakaran hingga seluruh penghuni apartemen berhamburan keluar ke udara musim gugur yang menusuk tulang. Di antara kerumunan orang yang panik, kami berdua berdiri di sana—saling lirik dan “pura-pura bego”—menyembunyikan tawa di balik kerah jaket.

 

BACA JUGA: Palet Warna Tradisional Norwegia: Lebih dari Sekadar Estetika

 

Persahabatan yang Melampaui Benua

Ternyata, asap daging dan tawa di pinggir sungai itu mengikat kami begitu kuat. Siapa sangka, meski terpisah jarak antara Amerika Selatan dan Asia Tenggara, komunikasi kami tetap terjaga. Empat puluh tiga tahun telah berlalu. Rambut mungkin memutih atau menghilang dan ingatan mungkin memudar, tapi rasa hangat sebagai sahabat tetap utuh. Waktu boleh berlari kencang, namun bagi persahabatan yang tulus, ia tak pernah benar-benar mampu menjauhkan dua jiwa.

Dari sebuah catatan kecil tentang rindu.

Matalensaku