Hampir satu dekade ini, sayur hidroponik telah merubah gaya bercocoktanam masyarakat dunia bahkan di Indonesia. Sepuluh tahun lalu, sebagian masyarakat hanya memanfaatkan hidroponik sebagai hobi, namun kini hidroponik menjadi salah satu sektor rill yang menjanjikan di dunia hortikultura.
Sistem penanaman yang memanfaatkan air dengan campuran nutrisi atau pupuk cair atau bernama nutrisi AB mix ini telah memberikan kontribusi yang baik bagi suplai sayuran di beberapa wilayah Indonesia.
Beberapa tahun lalu, hidroponik sempat menjadi trend baik online maupun offline. Secara online banyak sekali konten di YouTube berseliweran yang membahas tutorial dan tahapan menanam hidroponik bahkan hingga ke proses pemasaran. Sementara, di offline banyak masyarakat yang mencoba membangun instalasi hidroponik baik sekadar hobi dan skala industri menengah.
Melihat begitu FOMO nya masyarakat terhadap hidroponik tidak beriringan dengan konsistensi mereka. Alhasil, dua tahun ke belakang, jumlah pemain hidroponik baik secara hobi maupun industri menengah berhenti dan tumbang.
Kondisi tersebut terdengar miris, namun bagi sebagian pemain hidroponik yang mampu bertahan, konsisten dan berkelanjutan justru menjadi peluang yang besar.
Awalnya sayuran dengan sistem hidroponik harga jualnya cukup mahal, sehingga sayuran hidroponik menjadi terkesan begitu eksklusif dan hanya kalangan menengah ke ataslah yang mampu membeli di pasar modern atau ritel.
Namun kini, sayuran hidroponik mendapatkan tempat di hati masyarakat semua kalangan. Alasannya, karena harga sayur hidroponik dan konvensional mulai bersaing.
Pantauan, merapah.com di pasar tradisional yang ada di wilayah Kota Bandar Lampung, sayuran hidroponik jenis pakcoy mulai eksis di meja lapak pedagang. Harganya mirip dengan sayur yang berasal dari sentra pertanian seperti Bandung.
Baca juga: 6 Permainan Sederhana yang Efektif Melatih Motorik Anak
Sementara di kota lainnya, sayuran hidroponik jenis selada menjadi primadona untuk mengisi stok keburu di hotel restoran dan kafe.
Pasar Ritel dan Tradisional
Merapah.com menelusuri salah satu ritel terbesar di Bandar Lampung. Pada bagian etalase aneka sayur di departement store itu, tampak belasan merek sayuran hidroponik yang berjejer rapi.
Jenis sayuran yang terpajang yakni selada keriting, kale, pakcoy, sawi caisim, kailan, sawi pagoda, kangkung, bayam dan masih banyak lagi.
Sayur yang terbungkus plastik bening dengan stiker label itu memiliki berat sekitar 2 ons atau 200 gram. Harga per bungkus yakni Rp11.000.
Kemudian tim Merapah.com menemukan sayuran hidroponik terpajang di meja toko sayur kecil di pasar tradisional tepatnya Kecamatan Rajabasa. Harga sayur hidroponik di toko sayur yang sederhana itu berkisar Rp5.000 per bungkus dengan bobot 2,5 ons atau 250 gram.
Baca juga: Mempercayai Weton Tulang Wangi dalam Perspektif Islam
Salah satu penjual sayur hidroponik di pasar tradisional itu mengaku senang karena sangat laku di kalangan ibu-ibu.
Menurutnya, tampilan sayur hidroponik lebih segar dan cerah. Selain itu, tidak mudah layu. Sangat berbeda dengan sayuran konvensional yang proses penanamannya memanfaatkan tanah dan penyemprotan pestisida kimia.
Bedanya, sayuran hidroponik di pasar modern atau ritel lebih menarik pengemasannya. Sementara, sayur Hidroponik yang tersedia di pasar becek tidak memiliki bungkus untuk menekan cost sehingga harga lebih terjangkau.








