KOMPASS Gelar Pelatihan Jurnalistik: Cetak Jurnalis Muda Papua di Sumatra

KOMPASS Gelar Pelatihan Jurnalistik..
KOMPASS gelar pelatihan jurnalistik, Setiaji Bintang menjadi pembicara.

Merapah.com, Bandar Lampung – KOMPASS (Komunitas Mahasiswa Papua Se-Sumatra) gelar pelatihan jurnalistik daring pada Jumat, 23 Mei 2025. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 17 peserta dari total lebih dari 500 anggota KOMPASS yang tersebar di 11 perguruan tinggi negeri (PTN) di Sumatra.

KOMPASS gelar pelatihan jurnalistik dengan tema “Jurnalisme yang Kritis dan Berpihak Untuk Masyarakat Adat” dengan menghadirkan jurnalis independen Setiaji Bintang Pamungkas sebagai pemateri utama.

Diikuti Mahasiswa Papua dari 11 PTN

KOMPASS mewadahi mahasiswa Papua dari berbagai daerah di Sumatra, antara lain:

  1. IKMAPAL (Ikatan Mahasiswa Papua Lampung) – PTN Lampung
  2. KOMPAS – Palembang
  3. HIMAPA – Bengkulu
  4. HMPJ – Jambi
  5. HIMAPA Sumbar – Padang
  6. HIMAPARI – Riau
  7. HIMAPATAU – Kepulauan Riau
  8. IPMAPA – Batam
  9. IMP SUMUT – Medan
  10. HIMAPAL – Lhokseumawe
  11. HIMAPA – Aceh

Peserta berasal dari perwakilan tiap-tiap daerah, yang aktif terlibat dalam diskusi dan praktik jurnalistik selama pelatihan berlangsung.

BACA JUGA: IHT 1 LPM Republica Bekali Anggota dengan Ilmu Jurnalistik

Setiaji Bintang: Mulailah Menulis, Belajar Untuk Kritis

KOMPASS Gelar Pelatihan Jurnalistik
Pesan Setiaji pada generasi muda untuk memulai menulis dan mampu berpikir kritis.

Jurnalis Setiaji Bintang Pamungkas mengatakan ilmu jurnalistik sangat penting bagi para mahasiswa yang tergabung dalam KOMPASS. Ia fokus memberikan materi yentang penulisan berita di era digital serta teknik mengkritisi persoalan yang dihadapi masyarakat adat.

Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan dasar jurnalistik, termasuk menyusun berita yang faktual dan berimbang, serta mendorong mereka menjadi agen perubahan melalui karya-karya jurnalistik yang berpihak pada keadilan sosial.

“Dalam pelatihan ini, saya ingin menekankan pentingnya jurnalisme yang tidak hanya informatif, tetapi juga kritis dan berpihak—khususnya dalam mengangkat suara masyarakat adat yang sering kali terpinggirkan dalam arus informasi arus utama,” ujar Setiaji Bintang Pamungkas peraih predikat terbaik Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat Madya 2023 itu.

Pelatihan ini menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa Papua agar mampu menyuarakan berbagai persoalan yang mereka saksikan di lapangan, mulai dari isu agraria, pendidikan, hingga pelanggaran hak adat. Dalam sesi pelatihan, peserta juga diajak mempraktikkan langsung cara menulis berita dengan pendekatan digital yang sesuai dengan perkembangan media saat ini.

“Menjadi seorang jurnalis adalah profesi yang mulia. Karena bisa membantu banyak orang khususnya kaum marjinal. Maka, mulailah menulis, belajar untuk kritis. Tentukan mentor untuk belajar bersama,” ujar dia.

BACA JUGA: Cerpen: Mimpi dari Ujung Papua

Cetak Produsen Informasi yang Kritis dan Kredibel

KOMPASS gelar pelatihan jurnalistik dengan tiga tujuan utama kegiatan ini. Pertama, memberikan pemahaman dasar tentang jurnalisme kritis dan independen. Kedua, melatih peserta dalam menulis berbagai jenis karya jurnalistik seperti berita, opini, dan feature. Ketiga, memperkuat kapasitas mahasiswa Papua sebagai produsen informasi yang kredibel dan berpihak.

“Pelatihan ini penting karena kami ingin mahasiswa Papua mampu mengangkat suara masyarakat adat yang sering dibungkam,” kata Anderian Kamo, perwakilan Kominfo KOMPASS.

Media Alternatif dan Jaringan Jurnalis Muda

Usai pelatihan, KOMPASS menargetkan tiga capaian utama. Pertama, setiap peserta menulis dan menerbitkan minimal satu laporan hasil liputan komunitas. Kedua, terbentuknya jaringan jurnalis muda Papua di wilayah Sumatra. Ketiga, munculnya media alternatif berbasis komunitas mahasiswa Papua.

Anderian menyatakan bahwa KOMPASS berkomitmen membangun ruang informasi sendiri yang dikelola mahasiswa Papua. Mereka ingin menciptakan media alternatif dengan semangat sadar, bangkit, bersatu, dan lawan.

BACA JUGA: Langkah Menjadi Pengusaha: Panduan Menuju Kesuksesan

Respon Positif dan Antusias Peserta

KOMPASS Gelar Pelatihan Jurnalistik.
Setiaji Bintang, memaparkan materi piramida terbalik pada struktur berita.

Peserta menunjukkan antusiasme tinggi selama pelatihan berlangsung. Mereka menilai metode penyampaian pemateri sangat interaktif, komunikatif, dan menyenangkan.

Anderian menilai penyampaian materi dari Setiaji Bintang Pemungkas sangat membantu peserta memahami dasar jurnalistik dengan lebih jelas.

Ia juga mengungkapkan bahwa materi pelatihan membuka wawasan peserta mengenai peran penting jurnalis sebagai penjaga kebenaran.

“Dalam gelapnya bias media, kami melihat jurnalis harus menjadi lentera. Jurnalis bukan sekadar penyalur informasi, tetapi harus menjadi penjaga kebenaran dan suara masyarakat adat yang sering dibungkam,” tegas Anderian.

Diskusi Kritis: Inklusivitas, Citizen Journalism, dan Disinformasi

Selama pelatihan, peserta aktif mengajukan pertanyaan reflektif dan kritis. Anderian Kamo, misalnya, mengangkat isu keberagaman dalam peliputan, citizen journalism, serta tantangan menghadapi disinformasi.

Kristianus Bobi bertanya tentang cara jurnalis menghadapi tekanan atau ancaman saat meliput isu sensitif. Sementara itu, Kemis Kobak mempertanyakan teknik menulis berita dari kejadian yang terjadi di luar kota tempat tinggal.

Narasumber menjawab setiap pertanyaan dengan pengalaman dan pendekatan praktis, sambil menekankan pentingnya integritas dan keberpihakan dalam setiap liputan.

BACA JUGA: 10 Aplikasi Produktif untuk Mahasiswa, Bantu Kuliah Lebih Efisien

Jurnalisme sebagai Alat Perjuangan

Pelatihan jurnalistik ini menjadi langkah awal KOMPASS dalam membangun kesadaran kolektif dan kapasitas mahasiswa Papua di Sumatra sebagai agen perubahan.

Dengan semangat “Sadar, Bangkit, Bersatu, dan Lawan,” KOMPASS terus mendorong mahasiswa Papua agar aktif menjadi produsen narasi, bukan sekadar objek pemberitaan.