FYP, Standar Hidup, dan Waktu yang Diam-Diam Habis

Ketika Waktu Kita Banyak Dihabiskan di Media Sosial

FYP, Standar Hidup, dan Waktu yang Diam-Diam Habis Oleh Putri Fajar Andini
Kadang kita hanya ingin scroll sebentar di FYP. Tapi tanpa terasa waktu berlalu cukup lama, dan standar hidup di media sosial ikut memengaruhi cara kita melihat hidup.

Oleh: Putri Fajar Andini

Coba ingat sebentar aktivitas sehari-hari kita. Berapa kali kita membuka media sosial dalam satu hari. Tanpa sadar, jawabannya sering lebih banyak dari yang kita kira. Media sosial kini menjadi ruang yang hampir selalu kita datangi. Rasanya seperti sudah menjadi bagian dari rutinitas harian.

Data menunjukkan pengguna media sosial di Indonesia mencapai sekitar 180 juta orang. Angka itu setara dengan sekitar 63 persen populasi Indonesia. Informasi tersebut tercatat dalam Digital Report 2026 yang dirilis oleh We Are Social dan Meltwater. Laporan ini sering dikutip dalam berbagai analisis digital global. Artinya, lebih dari setengah masyarakat Indonesia aktif menggunakan media sosial.

Menariknya, pengguna di Indonesia tidak hanya sekadar membuka aplikasi. Mereka juga menghabiskan waktu cukup lama di dalamnya. Laporan yang sama mencatat rata-rata orang Indonesia menghabiskan lebih dari 3 jam setiap hari di media sosial. Data tersebut juga banyak dirangkum oleh platform analisis digital DataReportal. Jika dihitung dalam satu minggu, waktunya bisa mencapai lebih dari 20 jam.

Coba bayangkan angka itu sebentar. Dalam satu tahun, waktu tersebut bisa berubah menjadi puluhan hari. Puluhan hari hanya untuk melihat layar ponsel. Bukan berarti semuanya sia-sia, karena media sosial juga memberi hiburan dan informasi. Namun angka itu cukup membuat kita berhenti sejenak dan berpikir.

 

BACA JUGA: Roda Hamster

 

Pemandangan yang Rasanya Sangat Dekat dengan Kehidupan Kampus

Sebagai mahasiswa semester akhir, saya cukup sering melihat fenomena ini dari dekat. Ketika teman-teman berkumpul untuk bersantai, ponsel hampir selalu hadir di tangan mereka. Ada yang membuka Instagram, ada juga yang langsung masuk ke TikTok. Awalnya hanya ingin melihat satu video. Namun beberapa detik kemudian muncul video lain yang terasa lebih menarik.

Scroll sedikit, lalu muncul lagi video berikutnya. Tanpa terasa, waktu berjalan cukup lama. Kadang saya melihat teman berhenti sejenak lalu berkata, “Eh kok sudah setengah jam ya?”. Situasi seperti itu terasa sangat familiar. Mungkin banyak dari kita juga pernah mengalaminya.

Hal serupa kadang terlihat di ruang kelas. Beberapa mahasiswa tetap menggulir layar ketika dosen sedang menjelaskan materi. Tidak semua orang melakukan hal itu. Namun pemandangan tersebut cukup sering terlihat. Media sosial seperti selalu berada di sela-sela aktivitas kita.

Menariknya, banyak percakapan mahasiswa juga berasal dari sana. Topik obrolan sering dimulai dari tren yang muncul di TikTok. Kadang seseorang berkata, “Eh kamu sudah lihat video yang viral itu belum?”. Dari situ percakapan bisa berkembang cukup panjang. Tren digital akhirnya ikut masuk ke ruang-ruang obrolan sehari-hari.

 

BACA JUGA: Cerpen: Cinta di Lirik Panji Sakti, Seperti Kamboja yang Abadi

 

TikTok dan Budaya Scroll yang Tidak Terasa

Salah satu platform yang paling sering muncul dalam percakapan adalah TikTok. Aplikasi ini memang memiliki format video pendek yang mudah dinikmati. Banyak orang membuka aplikasi ini hanya untuk hiburan sebentar. Namun sebentar itu sering berubah menjadi cukup lama. Video demi video muncul tanpa terasa.

Menurut data yang pernah dirilis oleh GoodStats, pengguna Indonesia bisa menghabiskan sekitar 44 jam per bulan di TikTok. Data tersebut merujuk pada laporan digital yang dirangkum oleh DataReportal. Jika dibagi rata, waktunya hampir dua jam setiap hari. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik video pendek. Algoritma aplikasi membuat orang terus menonton tanpa terasa.

Setiap selesai satu video, video lain langsung muncul. Sistem ini membuat pengguna terus menggulir layar. Kadang kita hanya ingin mencari hiburan sebentar setelah aktivitas panjang. Namun algoritma membuat kita ingin melihat satu video lagi. Lalu satu video lagi setelahnya.

Pada titik tertentu, kita mungkin baru sadar bahwa waktu sudah berjalan cukup lama. Ponsel masih di tangan, tetapi waktu sudah berlalu. Hal ini sebenarnya wajar dalam dunia digital. Namun tetap menarik untuk direnungkan bersama.

 

BACA JUGA: Menjemput Magis di Jantung Aegea: Petualangan Volcano & Hot Spring

 

Konten FYP yang Lewat Itu Sekarang Ubah Gaya Hidup Kamu

Selain soal waktu, ada fenomena lain yang juga menarik. Media sosial sering menampilkan gaya hidup tertentu yang terlihat “normal”. Banyak konten membahas penghasilan, hubungan, hingga gaya hidup ideal. Video-video tersebut muncul berulang kali di halaman FYP. Tanpa sadar, sebagian orang mulai menganggapnya sebagai standar umum.

Misalnya soal penghasilan. Ada konten yang menyebut gaji lima juta rupiah sebagai batas minimal hidup layak. Ada juga yang membahas pasangan ideal dengan uang belanja jutaan rupiah. Konten seperti ini sering disampaikan dengan gaya santai. Namun pesan yang muncul bisa terasa cukup kuat.

Padahal kondisi ekonomi setiap orang berbeda. Realitas kehidupan juga jauh lebih beragam dibandingkan yang terlihat di media sosial. Banyak orang menjalani hidup dengan situasi yang sangat berbeda. Namun media sosial sering hanya menampilkan sisi yang paling menarik.

Fenomena ini dalam ilmu sosial sering dikaitkan dengan perbandingan sosial. Orang mulai menilai kehidupannya dari apa yang mereka lihat di layar. Jika tidak disadari, perbandingan itu bisa menimbulkan tekanan. Padahal standar hidup tidak selalu harus mengikuti apa yang sedang viral.

 

BACA JUGA: Reminder Diri: Belajar Bersyukur di Tengah Perasaan yang Selalu Kurang

 

Mungkin Ini Saatnya Kita Melihatnya dengan Lebih Tenang

Tulisan ini bukan upaya menyalahkan siapa pun. Saya juga menggunakan media sosial seperti kebanyakan orang lainnya. Kadang saya juga tertawa melihat video yang lewat di timeline. Dunia digital memang menawarkan banyak hiburan. Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun melihat data dan pengalaman sehari-hari membuat saya berpikir ulang. Waktu yang kita habiskan di sana ternyata cukup besar. Tanpa sadar, banyak jam berlalu hanya untuk menggulir layar. Padahal waktu tersebut sebenarnya bisa digunakan untuk banyak hal lain.

Media sosial tentu memiliki banyak manfaat. Ia membantu kita menemukan informasi dan terhubung dengan banyak orang. Banyak ide kreatif juga lahir dari sana. Namun mungkin kita juga perlu mengambil jarak sesekali.

Bukan untuk meninggalkannya sepenuhnya. Hanya untuk mengingat bahwa tidak semua yang muncul di FYP harus menjadi standar hidup kita. Kadang kita hanya perlu melihatnya sebagai hiburan. Selebihnya, kita tetap kembali pada realitas kehidupan yang kita jalani sendiri.