Jakarta, Merapah.com — Pemerintah memantau hilal pada Kamis, 19 Maret 2026, untuk menentukan awal Syawal 1447 Hijriah.
Pengamatan ini menjadi penentu resmi penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia.
Data astronomi menunjukkan posisi hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam.
Namun, visibilitasnya masih sangat rendah dan sulit diamati secara langsung.
Posisi Hilal Tipis dan Sulit Terlihat
Perhitungan astronomi memperkirakan ketinggian hilal berada di kisaran 3 hingga 4 derajat. Angka ini menempatkan hilal tepat di batas minimal kriteria pengamatan.
Elongasi bulan terhadap matahari berkisar antara 6,3 hingga 6,4 derajat. Nilai ini juga berada di ambang batas standar yang digunakan di kawasan Asia Tenggara.
Persentase cahaya hilal tercatat sangat kecil, hanya sekitar 0,22 persen. Kondisi ini membuat hilal tampak sangat tipis dan redup di langit senja.
Para pengamat menyebut kondisi ini menyulitkan proses rukyatul hilal. Bahkan, alat bantu optik pun belum tentu mampu menangkap keberadaan hilal secara jelas.
Rukyatul Hilal Digelar di Puluhan Titik
Pemerintah menggelar rukyatul hilal di lebih dari 100 titik di seluruh Indonesia. Lokasi pengamatan tersebar dari wilayah barat hingga timur Indonesia.
Beberapa titik strategis meliputi Aceh, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Tim pemantau terdiri dari petugas Kementerian Agama dan lembaga terkait.
Setiap hasil pengamatan akan dilaporkan secara langsung ke pusat. Laporan tersebut menjadi bahan utama dalam sidang isbat yang digelar pada hari yang sama.
Cuaca menjadi faktor krusial dalam proses pengamatan. Langit berawan atau hujan dapat menghambat visibilitas hilal secara signifikan.
Sidang Isbat Jadi Penentu Resmi
Pemerintah akan menetapkan awal Syawal melalui sidang isbat. Forum ini menggabungkan hasil rukyat dan perhitungan hisab astronomi.
Jika tim tidak melihat hilal, pemerintah akan menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari. Metode ini dikenal sebagai istikmal dalam penanggalan hijriah.
Sebaliknya, jika pengamat berhasil melihat hilal, pemerintah akan menetapkan keesokan harinya sebagai 1 Syawal. Keputusan ini berlaku secara nasional.
Potensi Perbedaan Penetapan
Perbedaan metode berpotensi memunculkan variasi penetapan Idulfitri. Sebagian organisasi menggunakan metode hisab tanpa menunggu hasil rukyat.
Metode tersebut menetapkan awal Syawal berdasarkan posisi hilal secara matematis. Sementara pemerintah tetap menunggu konfirmasi visual di lapangan.
Kondisi hilal yang berada di ambang batas memperbesar potensi perbedaan. Hasil akhir tetap bergantung pada laporan rukyatul hilal pada Kamis petang.
Penetapan Idulfitri 2026 kini bergantung pada hasil pengamatan di lapangan. Pemerintah meminta masyarakat menunggu keputusan resmi melalui sidang isbat.













