Merapah.com, Washington DC — Pada Rabu pagi, 6 November, kandidat Partai Republik Donald Trump menyatakan kemenangan atas Wakil Presiden Kamala Harris dalam pemilu 2024. Trump, yang mendukung keputusan Mahkamah Agung pada 2022 untuk membatalkan Roe v Wade, menuai kontroversi. Penyebabnya, keputusan ini menghapus hak aborsi di seluruh AS. Isu ini juga mendorong banyak perempuan untuk menggunakan hak pilih mereka pada Hari Pemilihan.
Apa Itu Gerakan 4B?
Melansir independent.co.uk Gerakan 4B pertama kali muncul di Korea Selatan pada tahun 2019, dipimpin oleh kaum perempuan yang memilih untuk menolak sistem yang mereka anggap mendukung patriarki. Empat prinsip utama gerakan ini adalah bihon (tidak menikah heteroseksual), bichulsan (tidak melahirkan), biyeonae (tidak berkencan), dan bisekseu (tidak berhubungan seksual heteroseksual). Melalui prinsip-prinsip ini, perempuan yang mendukung gerakan 4B menolak untuk berkencan, menikah, berhubungan intim, atau memiliki anak dengan pria.
Kesenjangan Gender dan Kebutuhan Mandiri
Para pengikut gerakan ini melihat pernikahan sebagai ancaman bagi kemandirian perempuan. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Korea. Seperti di AS, perempuan Korea Selatan juga mengalami kesenjangan upah. Sementara perempuan Amerika memperoleh sekitar 82 sen untuk setiap dolar yang diperoleh pria. Perempuan Korea Selatan mendapatkan 31 persen lebih sedikit dari pria, kesenjangan tertinggi di negara demokrasi.
BACA JUGA: Aziz Ahmad, Dosen Muda yang Konsisten Dorong UMKM Naik Kelas
Menghindari Keterikatan Tradisional untuk Kemandirian
Menghadapi situasi tersebut, banyak perempuan dalam gerakan 4B memilih untuk tidak terikat dalam hubungan tradisional. Mereka percaya bahwa menghindari pernikahan atau pacaran heteroseksual adalah cara untuk mengurangi risiko yang muncul dari sistem yang dianggap tidak adil terhadap perempuan. Seorang aktivis dari Busan, Yeowon, mengungkapkan kepada The Cut bahwa “praktik *bihon* berarti menghindari risiko dari hubungan atau pernikahan heteroseksual.”
Mengapa Gerakan Ini Mulai Mendunia?
Selain itu, meskipun sifatnya anonim dan sebagian besar berlangsung secara offline. Maka, gerakan ini berkembang di Korea Selatan dan banyak pertisipasi oleh kaum terpelajar. Di Korea Selatan, perempuan melampaui pria dalam angka pendaftaran kuliah sejak 2013. Perubahan ini memicu ketegangan antara pria dan wanita, dengan sejumlah pria menstereotipkan wanita berpendidikan tinggi sebagai egois atau hanya memanfaatkan pasangan mereka.
Pantulan Tren di AS: Konservatisme dan Pergeseran Peran Gender
Fenomena ini mencerminkan tren di AS, di mana pria merasa menghadapi perubahan peran gender yang cepat. Dengan berkurangnya kesempatan pendidikan dan pekerjaan kasar, banyak pria AS mendukung kandidat konservatif seperti Trump, yang menawarkan kembalinya nilai-nilai tradisional. “Konsep maskulinitas sedang berubah,” ujar antropolog Treena Orchard, menggambarkan tekanan pada pria modern.
4B sebagai Bentuk Protes Radikal
Bagi perempuan di Korea Selatan, gerakan 4B bukan sekadar simbol — ini adalah deklarasi sosial untuk mengambil alih kendali atas kehidupan dan tubuh mereka. Dalam konteks politik AS, gerakan ini mungkin menarik perhatian lebih banyak perempuan sebagai bentuk protes radikal terhadap ancaman terhadap hak-hak mereka, termasuk hak reproduksi.
Setelah Kemenangan Trump, Akankah 4B Menyebar di AS?
Minat perempuan Amerika terhadap gerakan 4B mencerminkan keresahan serupa tentang hak-hak yang mulai terkikis. Dengan gerakan ini semakin ramai di media sosial, muncul pertanyaan: Akankah perempuan Amerika ikut serta dalam gerakan ini. Kemudian, mereka bisa menciptakan versi mereka sendiri sebagai bentuk perlawanan terhadap masa jabatan kedua Trump?













