Merapah.com – Ketika masukan-masukan objektif tidak mampu diejawantahkan oleh pimpinan, maka roda organisasi sejatinya hanya akan berputar seperti hamster di dalam kandangnya sibuk bergerak, namun tak pernah benar-benar maju. Energi terkuras, waktu terbuang, dan tujuan bersama semakin menjauh dari kenyataan.
Padahal, masukan konstruktif yang lahir dari fakta lapangan kerap menjadi amunisi terbaik untuk melakukan evaluasi dan bergerak secara akseleratif. Tak selalu harus disajikan dalam angka dan grafik yang kaku. Paparan kualitatif pun sering kali justru menghadirkan kedalaman konteks dan kejujuran realitas. Sayangnya, tidak semua organisasi cukup dewasa untuk menampungnya.
BACA JUGA: Singkirkan Karyawan Toxic Bikin Performa Perusahaan Ciamik
Ironisnya, ada kalanya sebagian pihak bahkan enggan sekadar mendengarkan. Masukan yang sejatinya bisa dibawa ke meja rapat, didiskusikan secara terbuka, lalu dirumuskan menjadi solusi bersama, justru berhenti di lorong-lorong sunyi birokrasi. Bukan karena ide itu lemah, melainkan karena ego terlalu kuat untuk memberi ruang.
Sikap egosentris, superior, otoriter, dan sejenisnya sejatinya sudah tak relevan lagi di zaman ini. Dunia bergerak cepat, kompleks, dan menuntut kolaborasi lintas perspektif. Kepemimpinan tidak lagi tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu merangkul dan mengorkestrasi potensi.
BACA JUGA: “If You Come to San Francisco”
Saya pernah berdiskusi dengan seorang Direktur hotel bintang empat di Lampung. Menariknya, ia menyebut bahwa nilai hospitality tidak semestinya berhenti di ruang tamu hotel. Hospitality, menurutnya, adalah cara memperlakukan manusia, termasuk di dalam organisasinmanapun. Di sana diperlukan orkestrasi yang selaras antara ketegasan otoritas, semangat egaliter, dan ruang bagi kreativitas untuk tumbuh.
Sejatinya, gagasan semacam ini bukan hal baru. Tiga dekade lalu, Helen Schwartzman, seorang antropolog, telah mengemukakan Teori Pertemuan sebagai Ritual Sosial. Ia memandang rapat bukan semata alat pengambilan keputusan, melainkan sebuah ritual organisasi. Rapat adalah ruang pembentuk makna, tempat budaya organisasi divalidasi, serta arena di mana hierarki, kekuasaan, dan identitas kelompok dinegosiasikan.
BACA JUGA: Teori Kuda Mati: Saat Kita Tak Mau Mengakui Kegagalan
Dengan perspektif itu, rapat seharusnya menjadi medium gagasan, bukan panggung monolog kekuasaan. Ia mestinya hidup, dialogis, dan produktif, bukan sekadar formalitas untuk menggugurkan kewajiban struktural.
Maka pertanyaannya, di era struggle dan disrupsi seperti hari ini, apakah rapat satu arah masih layak dipertahankan? Ataukah justru ia menjadi simbol paling nyata dari organisasi yang terus berlari, namun tak pernah benar-benar bergerak ke mana-mana? Bak roda Hamster.













