Di Bawah Cahaya Bulan: Aku, Bintang, seorang mahasiswa dari Papua, merantau ke Universitas Lampung demi mengejar impian.
Jauh dari rumah membuatku mencari kenyamanan di tempat baru, dan aku menemukannya di Unit Kegiatan Mahasiswa Katolik.
Mereka seperti keluarga kecil yang baru—hangat, penuh tawa, dan saling mendukung.
Kehidupan kampus membawaku pada berbagai kegiatan, salah satunya Kegiatan Yayasan Dharma (KYD).
Acara ini adalah syarat penting untuk memenuhi nilai agama, sekaligus kesempatan untuk mempererat kebersamaan.
Hari keberangkatan tiba, dan kami semua menuju lokasi kegiatan di kaki bukit yang dikelilingi hutan. Menariknya, udara di sana begitu segar.
Kami meletakkan barang bawaan di asrama sederhana.
Malamnya, setelah sesi berakhir, aku memutuskan untuk keluar menikmati udara segar. Cahaya bulan menyinari jalan setapak menuju sungai.
Aku duduk di atas batu besar, memandangi bintang-bintang. Suara jangkrik mengiringi pikiranku yang melayang jauh—tentang rumah, masa depan, dan kerinduan pada keluarga.
Tiba-tiba, suara lembut memecah keheningan.
“Bintang, lagi apa?”
Dia Tersenyum Kecil
Aku menoleh dan mendapati Aurelia berdiri di belakangku. Dia teman baru dari UKM, seorang gadis Medan dengan senyuman yang menenangkan. Rambutnya tergerai, sebagian diterpa cahaya bulan.
“Oh, Aurelia. Aku lagi santai aja, menikmati malam yang indah ini. Sayang kan, kalau dilewatkan begitu saja?”
Dia tersenyum kecil, lalu duduk di sampingku. “Iya, sih. Malam di sini beda banget, ya. Rasanya damai.”
“Damai banget. Aku jarang lihat malam seindah ini di kampus. Kalau balik nanti, pasti kangen suasana kayak gini,” kataku sambil tersenyum ke arahnya.
Dia mengangguk. “Terkadang, tempat seperti ini kita jadi lebih banyak mikir, ya.”
Aku mengangguk. Suaranya yang lembut dan caranya berbicara perlahan menarik perhatianku.
Setelah kegiatan KYD selesai, aku dan Aurelia semakin sering menghabiskan waktu bersama. Kami saling berbagi cerita, menonton film di bioskop kampus, dan makan siang bersama di kantin.
Dia adalah gadis yang cerdas, sederhana, dan penuh semangat. Senyumnya tulus, tapi sorot matanya menyimpan ketegasan. Aku menyukai caranya berfikir. Apalagi, caranya memperhatikan hal-hal kecil.
Perasaan itu tumbuh begitu saja. Setiap kali aku melihatnya tertawa, aku merasa dunia menjadi lebih cerah. Tapi aku tahu, Aurelia bukan orang yang mudah ditebak. Dia memiliki caranya sendiri untuk menjaga jarak. Ku akui, kehadirannya begitu hangat.
Aku menghabiskan berminggu-minggu mempersiapkan diri untuk momen itu. Aku tahu, perasaanku tidak bisa terus kupendam.
Di Bawah Cahaya Bulan, Kunyatakan Perasaan
Sore itu, kami duduk di taman kampus yang sepi. Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan langit jingga yang hangat. Angin membawa aroma bunga kemuning yang tumbuh di sekitar taman.
“Aurelia,” panggilku, menatapnya yang sedang memainkan daun kering di tangannya.
“Iya?” Dia menoleh dengan senyum lembut seperti biasa.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan degup jantung yang semakin cepat.
“Aku mau ngomong sesuatu… ini mungkin tiba-tiba, tapi aku harus jujur.”
Dia menatapku dengan alis sedikit terangkat. “Apa itu?”
“Aku suka sama kamu.”
Dia terdiam. Senyumnya memudar, tergantikan oleh raut wajah yang sulit kumengerti. Aku akan tetap menunggu dan berharap.
“Bintang…” katanya pelan. “Aku hargai perasaanmu. Kamu baik, aku senang kita berteman, tapi… aku belum siap untuk pacaran. Aku ingin fokus sama kuliah dulu. Aku harap kita tetap bisa temenan seperti sekarang.”
Kata-katanya seperti petir di sore yang tenang. Hatiku remuk, tapi aku tetap mencoba tersenyum.
BACA JUGA: Cerpen: Lelaki Tua dan Sepatu Kecil di Tepi Jalan
“Aku ngerti. Terima kasih udah jujur.”
Dia menatapku, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi hanya mengangguk kecil. Kami duduk dalam keheningan, ditemani suara dedaunan yang bergesekan pelan dihembus angin.
Tak Lagi Sama
Sejak hari itu, hubungan kami tak lagi sama. Aurelia tetap ramah, tapi ada jarak yang tak kasat mata. Aku mencoba menerima kenyataan. Hatiku tetap merasakan kekecewaan.
Aku belajar banyak dari pengalaman ini—tentang keberanian untuk jujur, dan tentang menerima penolakan. Dari Aurelia, aku memahami bahwa cinta bukan sekadar tentang memiliki.
Di bawah cahaya bulan malam itu, aku tahu perasaan ini takkan pernah sia-sia. Momen ini, tidak akan berakhir dengan kebersamaan, aku tetap bersyukur pernah mengenalnya.
Tentang Penulis:
Sani Ngep, lahir di Kurumkim pada tanggal 25 September 2005, berasal dari Provinsi Papua Pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang, Distrik Iwur. Sanny, merupakan mahasiswa Universitas Lampung angkatan 2023. Ia masuk ke jurusan Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Akun Instagramnya adalah @sani_ngep23.













