“If You Come to San Francisco”

Have you finished your meal?

“If You Come to San Francisco”
Matalensaku

Matalensaku Seri 2:

If You Come to San Francisco

Have you finished your meal?

San Francisco bagi saya tetap menjadi kota terindah dari semua kota dunia yang pernah saya kunjungi. Kota ini bahkan diabadikan dalam lagu San Francisco karya Scott McKenzie, yang erat dengan kenangan kaum hippies di tahun 60-an.

Saya pertama kali menginjakkan kaki di sana pada September 1983. Setelah itu, saya kembali lagi di tahun 1985, 1988, dan 1996. Setiap kali ada kesempatan ke Amerika, hati saya selalu ingin kembali ke kota ini.

San Francisco berbeda dengan Boston. Sama-sama kota pelabuhan, tetapi salju jarang turun di sini. Ombaknya pun lebih tenang, mirip pantai utara Jawa yang tidak seganas pantai selatan.
Jalan-jalan di San Francisco naik turun, trem masih beroperasi, dan bus listrik sudah digunakan sejak lama—membuat lalu lintas lebih tertib.

 

BACA JUGA: Ketukan Pintu di Princeton Park: Sebuah Butterfly Effect

 

Golden Gate Bridge adalah ikon paling terkenal, disusul Alcatraz yang kini menjadi objek wisata. Market Street selalu ramai, penuh warna, dengan klub malam dan komunitas yang beragam.

Kenangan pertama saya di tahun 1983 begitu jelas. Saya tiba pukul 19.00 waktu setempat dan menginap di Holiday Inn dengan tarif USD 95 per malam.
Esoknya, saya mencoba menuju Santa Clara. Rencana naik Greyhound bus gagal karena hari Minggu tidak ada jadwal. Akhirnya saya naik bus umum SamTrans, dan di perjalanan ada kejadian lucu yang masih saya simpan untuk cerita lain.

Setelah urusan selesai di Santa Clara, saya kembali ke San Francisco dan tinggal di Britton Hotel. Murah, hanya USD 35 per malam, tapi lokasinya strategis dekat Market Street.

Dari sana saya sering berjalan kaki, menikmati suasana kota yang hidup.

Ada satu pengalaman yang tak terlupakan. Saat mencari sarapan di sebuah restoran China, saya memesan nasi goreng tanpa melihat menu.
Baru setelah selesai makan, saya sadar ada tulisan kecil: Fried Rice with Pork. Masya Allah, tanpa sengaja saya memakan daging babi.
Besoknya saya lebih hati-hati, memilih menu seafood. Porsinya sangat besar, bahkan untuk dua orang.
Ketika saya tidak menghabiskan makanan, seorang pria asing berkulit hitam dengan jas rapi dan kalung emas mendekat, lalu bertanya, “Have you finished your meal?” Saya jawab “Yes”, lalu dengan santai dia duduk dimeja saya dan melahap sisa makanan saya.
Itulah culture shock pertama yang saya alami.

 

BACA JUGA: Kebijakan Penilaian Negatif Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) Bikin Anjlok IHSG

 

San Francisco juga menawarkan tur kota seharga USD 20 saat itu. Kita bisa melihat taman bunga, City Hall, Chinatown, Fisherman’s Wharf, hingga menyeberang ke Alcatraz.
Sayang, waktu saya terbatas sehingga belum sempat masuk ke penjara paling terkenal di dunia itu.

Dan setiap kali saya berjalan di jalanan San Francisco, seakan terdengar suara Scott McKenzie mengalun:

If you’re going to San Francisco
Be sure to wear some flowers in your hair
You’re gonna meet some gentle people there

San Francisco… kenangan manis yang sudah 43 tahun berlalu, namun tetap hidup di hati saya.

Matalensaku