Oleh: Erson Agustinus (Praktisi Ekonomi)
Customer Base Muslim
Bicara syariah tentu tidak lepas dari aturan tata cara islam dalam menerapkan aturan sesuai syariat berdasarkan Alquran, Hadits serta tak lepas dari pengawasan Dewan Pengawas Syariah.
Indonesia yang memang mayoritas penduduknya muslim (87,2%), yang juga merupakan negara jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, artinya ketika Indonesia mencanangkan target untuk menjadi pusat keuangan syariah sudah tepat kiranya, karena modal dasar Customer Base Muslim yang dimiliki.
Purbaya mengkritisi Sektor Keuangan Syariah Indonesia
Bank-bank syariah sering kali dinilai tidak kompetitif, biaya produk dan jasa layanan lebih mahal, seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa beberapa waktu lalu, disela acara Sharia Economic Forum. Menurutnya cara yang keliru ketika istilah riba dihalalkan dengan mengganti dengan istilah-istilah syariah namun cost of fund masih tetap mahal, sehingga belum maksimal memberikan manfaat di perekonomian Indonesia.
Keuangan Syariah Tumbuh Positif, Pricing?
Diketahui bahwa aset keuangan syariah nasional melonjak hingga sekitar Rp12.698 triliun dan tumbuh 26,4% (yoy) pada 2025, satu pertanyaan justru menguat di kalangan pelaku pasar dan nasabah: mengapa pembiayaan perbankan syariah masih terasa mahal??
Pertanyaan ini semakin relevan ketika likuiditas perbankan syariah berada dalam kondisi longgar, tercermin dari Financing to Deposit Ratio (FDR) sekitar 84% dan Capital Adequacy Ratio (CAR) di atas 24%, yang secara teoritis menunjukkan ruang intermediasi yang masih lebar.
Paradoks inilah yang kini menjadi ujian nyata daya saing keuangan syariah. Di satu sisi, industri terus membesar dengan aset perbankan syariah yang telah menembus Rp1.006 triliun, dana pihak ketiga (DPK) sekitar Rp794 triliun, dan pembiayaan mencapai Rp676 triliun
Namun pricing pembiayaan masih kerap dipersepsikan kalah kompetitif dibandingkan perbankan konvensional, khususnya di segmen UMKM dan pembiayaan produktif. Bagi pasar, ini bukan sekadar isu persepsi, melainkan persoalan efisiensi struktural dan fungsi intermediasi.
4 Hal Yang Harus Dilakukan Agar Biaya Produk dan Jasa Layanan Bisa Berdaya Saing
Produk dan jasa layanan perbankan syariah saat ini memang masih relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan bank konvensional, ada 4 hal yang perlu dilakukan untuk menekan biaya bank syariah agar bisa kompetitif :
Pertama, perlunya penguatan permodalan untuk mencapai skala ekonomi yang lebih memadai. Dengan demikian, bank syariah dapat secara lebih memacu kompetitif dan resilient dalam persaingan pasar perbankan nasional yang didominasi oleh bank-bank yang sudah mature dan berskala besar.
Ukuran usaha dalam industri perbankan memiliki pengaruh signifikan terhadap efisiensi operasional, kapasitas investasi teknologi, memperluas ekspansi pembiayaan, dan dapat memperbaiki struktur penetapan harga sehingga lebih kompetitif.
Kedua, peran pemerintah dalam memberikan ruang kebijakan bagi tumbuh kembang perbankan syariah sangat diperlukan guna akselerasi.
Skala usaha yang lebih kuat juga akan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara perbankan syariah dan pemerintah dalam mendukung program prioritas pembangunan nasional, sekaligus lebih meningkatkan kepercayaan pemerintah untuk mengalokasikan penempatan dananya pada bank syariah.
Ketiga, mengoptimalkan produk yang ada yang masih bersifat produk dasar menjadi produk yang lebih efisien dan inklusif. Membuat produk baru yang unik dan bernilai tambah tinggi harus segera diatasi diimplementasikan agar mampu menjadi game changer dan menarik minat masyarakat secara lebih luas.
Keempat, industri perbankan syariah perlu mendorong diversifikasi akad, seperti mudharabah dan musyarakah, agar pembiayaan lebih berbasis bagi hasil dan lebih fleksibel. Tanpa inovasi model bisnis, bank syariah akan terus dinilai kurang kompetitif.
Hal-hal diatas akan dapat menekan biaya produk dan jasa layanan menjadi tidak mahal dan bersaing, dengan demikian dapat kompetitif dengan bank konvensional, dan perbankan syariah dapat secara optimal berperan dalam pertumbuhan sektor keuangan di Indonesia.













