Merapah.com – Hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul kasus baru di kapal pesiar MV Hondius. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO ikut memantau perkembangan kasus tersebut.
Virus ini berasal dari kelompok Hantaviridae yang hidup pada hewan pengerat. Tikus dan mencit menjadi pembawa utama penyebaran virus ke manusia.
Manusia dapat tertular saat menghirup partikel dari urine dan kotoran tikus terinfeksi. Risiko penularan meningkat di lingkungan yang kotor dan tertutup.
WHO menjelaskan hantavirus terbagi menjadi dua kelompok penyakit utama. Amerika lebih banyak menemukan kasus yang menyerang paru-paru dan jantung.
Sementara itu, wilayah Asia dan Eropa lebih sering menemukan gangguan pada ginjal dan pembuluh darah. Penyakit ini dikenal memiliki tingkat kematian cukup tinggi.
BACA JUGA: Daun Sirih: Herbal Alami dengan Segudang Manfaat Kesehatan
Gejala Hantavirus Mirip Flu
Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa sehingga sulit dikenali. Penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, dan nyeri otot.
Sebagian pasien juga mengalami mual, muntah, dan nyeri perut. Kondisi tubuh biasanya memburuk dalam beberapa hari berikutnya.
Virus ini dapat menyerang paru-paru hingga menyebabkan sesak napas berat. Pada kondisi serius, paru-paru bisa terisi cairan dengan cepat.
Dokter biasanya membawa pasien ke ruang perawatan intensif saat kondisi memburuk. Penanganan cepat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang sembuh.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC mencatat tingkat kematian cukup tinggi. Beberapa jenis hantavirus bahkan memiliki fatalitas hingga 50 persen.
BACA JUGA: Masuk Usia 30? Ini Cara Menjaga Kesehatan Tulang
Penularan dan Kasus Terbaru
Sebagian besar hantavirus tidak menyebar antar manusia. Penularan umumnya terjadi melalui paparan tikus yang membawa virus.
Namun WHO menemukan beberapa kasus khusus yang memungkinkan penularan antar manusia. Kasus tersebut berasal dari strain Andes di Amerika Selatan.
Kasus terbaru di kapal pesiar MV Hondius membuat perhatian dunia kembali meningkat. Beberapa penumpang dilaporkan meninggal setelah mengalami gejala berat.
Otoritas kesehatan menduga penularan awal berasal dari paparan tikus di wilayah Amerika Selatan. Kontak dekat antarpasien kemudian diduga memperluas penyebaran kasus.
WHO menegaskan hantavirus tidak menyebar secepat COVID-19. Risiko penyebaran global juga masih tergolong rendah hingga saat ini.
BACA JUGA: Bayam Ungu: Superfood Sehat dengan Segudang Manfaat
Cara Mencegah Hantavirus
Pencegahan hantavirus berfokus pada pengendalian hewan pengerat di lingkungan sekitar. Masyarakat perlu menjaga rumah tetap bersih dan tertutup rapat.
WHO meminta masyarakat tidak membersihkan kotoran tikus dalam keadaan kering. Cara tersebut dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.
Petugas kesehatan menyarankan penggunaan cairan disinfektan saat membersihkan area terkontaminasi. Langkah itu membantu mengurangi risiko paparan virus.
Masyarakat juga perlu rutin mencuci tangan setelah membersihkan rumah atau gudang. Kebiasaan sederhana itu membantu menekan kemungkinan penularan.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk hantavirus. Dokter masih mengandalkan perawatan intensif untuk membantu pasien bertahan.













