Harvest Unila: Menjembatani Akademisi dan Petani dalam Menghadapi Krisis Produktivitas lahan pangan di Bumi Jaya

Merapah.com, Lampung Selatan – Komunitas Harvest Unila baru saja merampungkan aksi kolaboratif yang menjembatani riset akademik dengan realitas agraris di lapangan. Melalui rangkaian kegiatan sepanjang pekan, komunitas ini tidak hanya memetakan akar masalah produktivitas, tetapi juga merasakan langsung kehangatan dan denyut kehidupan masyarakat petani di Kampung Bumi Jaya.

 

BACA JUGA: Langkah yang Berasal dari Bekas Luka

 

​Perjalanan hari pertama dimulai dengan sambutan hangat khas pedesaan, di mana para mahasiswa langsung diperkenalkan dengan berbagai sayuran hasil bertani warga setempat. Agenda awal diisi dengan mengunjungi kebun sayur dan melakukan panen bersama. Hasil panen segar tersebut kemudian dimasak dan dinikmati bersama dalam suasana kekeluargaan. Melimpahnya porsi makanan dari hasil bumi yang disajikan menjadi bukti nyata potensi kesuburan tanah Bumi Jaya. Setelah energi terisi, kegiatan langsung dilanjutkan dengan peninjauan ke area persawahan untuk melihat kondisi tanaman dari dekat.

Memasuki hari kedua, tim langsung bergerak menuju hamparan padi untuk melakukan observasi teknis dan audiensi mendalam bersama para petani di pematang sawah. Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengumpulan data formal. Pada malam harinya, di sela-sela waktu bebas, para mahasiswa memanfaatkan momen untuk mempererat silaturahmi dengan warga sekitar. Suasana cair dan akrab tercipta melalui interaksi sederhana seperti bermain Ludo King bersama, yang menjadi jembatan komunikasi informal yang efektif.

 

BACA JUGA: Tangis Haru dan IPK Sempurna Warnai Yudisium FEB IIB Darmajaya 2026

 

​Namun di balik melimpahnya hasil sayuran dan kehangatan warganya, diskusi lapangan mengungkap data yang cukup mengkhawatirkan bagi keberlangsungan pangan lokal. Petani melaporkan adanya penurunan hasil panen padi yang signifikan, dari rata-rata 6 ton menjadi 5 ton per hektare. Hasil identifikasi tim menunjukkan adanya fenomena “kelelahan” lahan yang dipicu oleh tiga faktor kunci:

1. Praktik Monokultur: Tidak adanya rotasi tanaman membuat unsur hara tanah terkuras habis karena lahan terus-menerus ditanami padi tanpa jeda.

2. ​Ketergantungan Kimia: Penggunaan input pupuk dan pestisida kimia yang masih mencapai 100% tanpa adanya diversifikasi atau penggunaan bahan organik yang memadai.

3.​Tantangan Alam: Kondisi elevasi lahan yang rendah menyebabkan kerentanan tinggi terhadap banjir, bahkan memaksa petani melakukan tanam ulang hingga tiga kali dalam satu musim.

​Menanggapi temuan tersebut, Harvest Unila merumuskan beberapa rekomendasi teknis yang adaptif, seperti optimalisasi teknik Jajar Legowo dengan orientasi timur-barat untuk menekan hama, integrasi Mina Padi (budidaya ikan di sela padi) sebagai diversifikasi penghasilan, serta manajemen air terpadu melalui land leveling untuk meminimalisir dampak genangan banjir.
​Rangkaian kegiatan ini mencapai puncaknya pada Kamis, 14 Mei 2026 melalui sesi presentasi hasil observasi di Gedung BKM Lantai 2, FAKULTAS FISIP, Universitas Lampung. Di hadapan audiens akademis, tim menekankan bahwa data yang dikumpulkan dari Kampung Bumi Jaya bukan sekadar angka statistik, melainkan rekomendasi akademik nyata untuk mendorong perubahan pola pikir tata kelola pertanian desa.

 

BACA JUGA: 600 Tanaman Melon Hidroponik di Green House SPP Lampung, Jadi Media Belajar hingga Peluang Komersial

 

​Presentasi ini menjadi bukti nyata peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Penutupan kegiatan di kampus bukan sekadar akhir formalitas, melainkan awal dari komitmen bersama untuk terus mengawal isu ketahanan pangan demi kesejahteraan para petani di musim tanam mendatang.

Penulis & Editor: Sani Ngep
Lokasi: Bandar Lampung & Lampung Selatan