Merapah.com – Destana Lampung menghadapi tantangan meningkatnya risiko bencana dalam beberapa tahun terakhir.
Banjir, longsor, dan cuaca ekstrem semakin sering terjadi di berbagai wilayah. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan masyarakat sejak tingkat paling dasar.
Desa pun menjadi garda terdepan dalam menghadapi ancaman bencana.
Dalam konteks tersebut, peran Desa Tangguh Bencana atau Destana menjadi krusial. Destana memperkuat kapasitas warga sebelum bantuan eksternal tiba.
Merespons tantangan ini, Mitra Bentala memperkuat peran Destana Lampung melalui peningkatan kapasitas dan penguatan jejaring lintas daerah.
Kegiatan tersebut berlangsung di Bandar Lampung pada 22–23 Desember 2025.
BACA JUGA: Desa Maja, Hadapi Risiko Tinggi di Gunung Api
Mitra Bentala Dorong Kesiapsiagaan Destana
Mitra Bentala melaksanakan kegiatan sebagai bagian Pengurangan Risiko Bencana berbasis komunitas.
Program ini menargetkan penyelesaian persoalan pembangunan di wilayah rawan bencana.

Pendekatan berbasis komunitas menjadi strategi utama dalam penguatan ketangguhan.
Salah satu implementasi program tersebut adalah pembentukan dan penguatan Destana.
Destana merupakan kelompok relawan yang dibentuk di tingkat desa. Kelompok ini berperan mengenali ancaman bencana di wilayahnya.
Selain itu, Destana mengorganisir sumber daya masyarakat secara mandiri. Tujuannya untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas desa.
Peran ini semakin penting di wilayah dengan risiko tinggi seperti Lampung. Provinsi Lampung menghadapi beragam ancaman bencana.
Risiko tersebut meliputi banjir, banjir rob, dan kekeringan. Kebakaran hutan dan lahan juga kerap terjadi.
Ancaman lain mencakup angin puting beliung dan tanah longsor. Lampung juga memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.
BACA JUGA: DLH Lampung Selatan Dukung Pengurangan Sampah Destana dan Bank Sampah Maja
Risiko letusan gunung api dan likuifaksi turut menjadi perhatian. Dampak perubahan iklim memperburuk kondisi tersebut.
Frekuensi dan intensitas bencana tercatat terus meningkat. Situasi ini menuntut kesiapsiagaan yang lebih sistematis.
Meski pemerintah mendorong pembentukan Destana, tantangan masih ada. Banyak Destana memerlukan penguatan kapasitas organisasi. Kemampuan analisis risiko dan koordinasi juga masih terbatas.
Oleh karena itu, peningkatan kapasitas Destana menjadi langkah penting. Destana menjalankan fungsi perlindungan bagi masyarakat desa.
Peran ini krusial sebelum bantuan dari instansi terkait tiba.
Materi Teknis dan Peringatan Ancaman Hidrometeorologi
Mitra Bentala melibatkan perwakilan Destana se-Provinsi Lampung dalam kegiatan peningkatan kapasitas. Peserta menerima materi strategis dan teknis kebencanaan.
Materi dirancang untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan lapangan.
BACA JUGA: Kejati Lampung dan Pelindo Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir
Materi mencakup kebijakan kebencanaan dan kelembagaan Destana. Peserta mempelajari kajian risiko bencana secara partisipatif. Materi pelatihan mencakup pembahasan sejarah bencana dan pemetaan wilayah.
Selain itu, peserta mempelajari analisis risiko bencana.Pemetaan kapasitas dan kerentanan menjadi fokus utama.
Peluang kerja sama pengurangan risiko bencana juga diperkenalkan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lampung, Yovi Humara, menyampaikan kondisi daerah.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap terbangun ruang berbagi pengetahuan antarpeserta Destana, serta mendorong mereka menjadi pionir di daerah masing-masing, khususnya dalam mengajak lebih banyak keterlibatan generasi muda. Kita perlu terus memperluas jangkauan dan membangun lebih banyak Desa Tangguh Bencana,” ujarnya.
Ia menyatakan Lampung siaga bencana hidrometeorologi hingga Maret dan menekankan peran kesiapsiagaan masyarakat. Pemateri dari BPBD, Aziz Salam, menekankan pentingnya kesadaran risiko.
“Setelah pelatihan ini, masyarakat dapat memetakan potensi kerentanan dan risiko di wilayahnya. Aksi yang dilakukan lebih awal membantu meminimalisir dampak bencana,” jelasnya.
Forum Destana Memperkuat Koordinasi Lintas Wilayah
Selain peningkatan kapasitas, kegiatan menghasilkan kesepakatan strategis. Peserta membentuk Forum Komunikasi Destana Provinsi Lampung. Forum diikuti 17 perwakilan Destana dari berbagai daerah.

Direktur Eksekutif Mitra Bentala, Rizani, menjelaskan tujuan forum tersebut.
“Forum ini memperkuat komunikasi dan koordinasi Destana tingkat provinsi agar dapat berbagi pengalaman dan peluang. Melalui forum ini, Destana dapat saling belajar, berbagi praktik baik, serta memperkuat posisi dan peran mereka dalam sistem penanggulangan bencana. Kami berharap forum ini menjadi ruang kolektif yang mampu menjembatani kebutuhan Destana dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil,” ungkapnya.
Forum ini memperkuat komunikasi lintas desa dan lintas wilayah. Forum juga menjadi wadah berbagi pembelajaran dan inovasi. Jejaring kemitraan lintas sektor menjadi target utama.
Perwakilan peserta menyampaikan pengalaman dari wilayah masing-masing. Marzuki dari Destana Padang Cermin menyoroti kerentanan wilayahnya.
“Peningkatan kapasitas Destana sangat penting bagi kami agar memperoleh penguatan pengetahuan dan keterampilan melalui pendampingan yang tepat,” ujarnya.
Sementara itu, Vanny Yuniarti dari Destana Karang Maritim berharap dukungan pemerintah.
“Kami adalah garda terdepan saat bencana terjadi. Oleh karena itu, sinergi dengan program pemerintah sangat dibutuhkan,” tuturnya.
BACA JUGA: Gempa Afghanistan: Magnitudo 6,0 Telan Ratusan Korban Jiwa
Forum menunjuk A Rifai sebagai Koordinator Forum Destana Lampung. Ia berharap forum mendorong terbentuknya lebih banyak Destana.
“Destana merupakan garda terdepan sebelum bantuan dari instansi terkait datang. Jiwa kerelawanan inilah yang menjadi kekuatan utama kami dalam melayani masyarakat,” ujarnya.
Para pihak terkait menandatangani berita acara kesepakatan pembentukan forum. BPBD Provinsi Lampung turut mengetahui kesepakatan tersebut.
Langkah tersebut memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.
Jejaring lintas desa membuka ruang berbagi pengetahuan dan praktik baik.
Koordinasi lintas pihak mendorong Destana merespons risiko bencana secara cepat.













