Merapah.com – ASI Eksklusif di Indonesia masih belum merata. Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 mencatat cakupannya hanya 51,6% hingga 67,7%. Angka ini belum sepenuhnya memenuhi target minimal WHO sebesar 50% secara nasional. Pemerintah terus mendorong peningkatannya di Indonesia.
Survei Paediatrica Indonesiana mencatat cakupan ASI Eksklusif hanya sebesar 46,3% di Indonesia. Wilayah Nusa Tenggara memiliki cakupan tertinggi, yaitu sekitar 72 persen. Sementara itu, Kalimantan mencatat angka terendah dengan hanya 37,5 persen cakupan nasional.
BACA JUGA: Cara Mengenalkan Agama kepada Anak Sejak Dini dengan Menyenangkan
Perbedaan antar wilayah menunjukkan adanya ketimpangan edukasi dan akses informasi ibu menyusui. Fakta tersebut menegaskan bahwa peningkatan ASI Eksklusif masih butuh perhatian serius pemerintah.
Persepsi Ibu Jadi Hambatan Utama
Persepsi bahwa produksi ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi masih menjadi hambatan utama dalam praktiknya. Penelitian yang dilakukan di Jawa Tengah, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, menunjukkan bahwa banyak ibu memutuskan berhenti menyusui secara eksklusif karena merasa suplai ASI mereka rendah.
Selain itu, faktor lain seperti kondisi kesehatan bayi dan kesulitan menyusui (latch problem) turut menjadi alasan dominan (Scholar Hub, Universitas Indonesia). Secara ilmiah, persepsi ini dikenal sebagai perceived insufficient milk (PIM), yakni keyakinan subjektif bahwa ASI tidak cukup, meskipun secara fisiologis produksi ASI masih normal.
BACA JUGA: Ide Bekal Sehat dan Lezat untuk Anak Sekolah, Ibu Wajib Coba!
Studi yang dipublikasikan oleh Universitas Indonesia dan terdaftar dalam basis data PubMed menegaskan bahwa PIM menjadi salah satu penyebab paling umum kegagalan pemberian ASI Eksklusif di berbagai wilayah (PubMed, Scholar Hub, Universitas Indonesia).
Mitos Menyesatkan di Media Sosial
Media sosial menyebarkan banyak mitos tentang ASI Eksklusif dan manfaat susu formula. Narasi populer menyebut ASI tidak cukup dan formula membuat bayi tidur lebih nyenyak. Fakta tersebut tidak terbukti secara ilmiah, namun tetap dipercaya banyak ibu muda.
Industri susu formula menyasar pengguna media sosial dengan kampanye tersembunyi berbayar. Ibu influencer sering mempromosikan produk formula melalui konten tanpa edukasi medis. Algoritma media sosial menciptakan echo chamber yang menyebarkan informasi salah secara masif.
Pengguna menerima konten serupa dan akhirnya percaya informasi keliru tersebut secara berulang. Situasi ini memperparah kebingungan ibu dalam menjalani proses ASI Eksklusif secara konsisten.
Dampak ASI terhadap Kesehatan Anak
Penelitian di Indonesia Timur menunjukkan bayi ASI Eksklusif lebih kecil risiko terkena stunting. Anak yang mendapat ASI selama enam bulan memiliki pertumbuhan lebih optimal. Risiko stunting menurun antara 20% hingga 50%, terutama pada keluarga berpenghasilan rendah.
BACA JUGA: Waktu Ideal Mengajarkan Anak Berhijab, Usia Berapa Ya?
Studi di Sumatera Selatan menunjukkan korelasi ASI Eksklusif dan penurunan stunting sangat signifikan. Peneliti mencatat hasil p-value 0,02 sebagai bukti dampak positif ASI. Fakta ini membuktikan bahwa ASI mendukung tumbuh kembang anak secara ilmiah. ASI mengandung nutrisi lengkap yang bayi butuhkan selama enam bulan pertama kehidupannya.
Edukasi Jadi Kunci Perubahan
Edukasi menjadi kunci untuk meningkatkan angka keberhasilan program ASI Eksklusif di Indonesia. Tenaga kesehatan wajib memberikan pendampingan menyeluruh sejak kehamilan hingga pasca melahirkan.
Puskesmas, rumah sakit, dan Posyandu harus aktif menyebarkan informasi mengenai ASI. Pemerintah perlu mengawasi promosi susu formula yang melanggar aturan etika pemasaran bayi.
Platform digital wajib mendorong informasi valid dan membatasi konten menyesatkan tentang ASI. Jika semua pihak bergerak bersama, cakupan ASI akan meningkat secara nasional. Anak tumbuh sehat, ibu percaya diri, dan masyarakat meraih generasi kuat di masa depan.













