Oleh: Putri Fajar Andini (Mahasiswa Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Lampung)
Merapah.com – Media sosial membuat kebahagiaan tidak lagi cukup untuk dirasakan secara pribadi, tetapi juga mendorong banyak orang untuk menunjukkannya kepada publik.
Bagi pemuda, media sosial perlahan membentuk standar tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup. Masyarakat kerap menganggap seseorang berhasil ketika ia terlihat produktif, bahagia, aktif, dan tetap relevan. Ketika pemuda gagal memenuhi standar tersebut, tekanan pun muncul.
Sering kali, pemuda tidak menyadari tekanan itu. Banyak dari mereka merasa hidupnya berjalan baik, tetapi tetap merasakan kecemasan karena terus melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih ideal.
Masalahnya bukan karena kehidupan mereka buruk. Tekanan muncul karena pemuda terus melakukan perbandingan di ruang digital.
BACA JUGA: Cuan dari Sosmed: Ini 5 Cara Halal Raih Penghasilan di Era Digital
Media Sosial dan Standar Hidup yang Seragam
Media sosial kini berfungsi sebagai ruang sosial tempat pemuda membangun dan menampilkan citra diri. Mereka tidak hanya menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi juga secara sadar memilih apa yang layak ditampilkan ke publik.
Pemuda membagikan prestasi, memperlihatkan kebahagiaan, dan memamerkan kesibukan. Proses ini secara perlahan membentuk standar hidup yang seragam.
Akibatnya, banyak pemuda merasa harus selalu terlihat “baik”. Mereka terus berusaha tampil produktif, tampak bahagia, dan rutin hadir di media sosial.
Ketika mereka gagal melakukannya, rasa tertinggal dan takut dianggap gagal pun muncul. Padahal, tidak semua aspek kehidupan perlu atau pantas untuk ditampilkan.
BACA JUGA: Solo Traveling Pertama? Ini Tips Aman dan Nyaman untuk Pemula
Data Menunjukkan Perubahan Makna Kebahagiaan
Data mencerminkan perubahan cara pemuda memaknai kebahagiaan. Survei yang dilakukan oleh Diginex bekerja sama dengan Inventure dan ivosights pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 79 persen responden menyatakan media sosial memengaruhi cara mereka memaknai kebahagiaan. GoodStats melaporkan temuan tersebut.
Data ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi menilai kebahagiaan semata dari perasaan batin atau kondisi nyata seseorang. Media sosial juga mendorong orang mengukur kebahagiaan dari tampilan kehidupan di ruang digital, seperti unggahan, jumlah interaksi, dan respons publik.
Survei tersebut melibatkan 625 responden, dengan mayoritas berdomisili di wilayah Jabodetabek. Komposisi responden terdiri atas 69 persen Gen Z, 26 persen Milenial, dan 3 persen Gen X, serta sebagian kecil dari latar belakang profesi lain.
Komposisi ini menegaskan bahwa kelompok usia muda yang aktif menggunakan media sosial paling kuat merasakan tekanan sosial digital.
BACA JUGA: Apa Itu Literasi Digital? Ini Pengertian dan Contoh Penerapannya
Perbandingan Sosial dan Rasa Tertekan yang Muncul
Media sosial mendorong pemuda untuk lebih sering membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Namun, mereka tidak membandingkan kehidupan secara utuh, melainkan potongan terbaik yang orang lain tampilkan.
Meskipun demikian, perbandingan tersebut tetap berdampak. Banyak pemuda merasa hidupnya kurang berarti karena melihat orang lain tampak lebih sukses atau lebih bahagia.
Rasa tertekan ini tidak muncul karena kegagalan nyata, tetapi karena pemuda terus menghadapi penilaian sosial. Dalam kondisi ini, gawai bukan sumber masalah utama. Tekanan justru muncul dari standar sosial yang terbentuk dan dipaksakan secara kolektif.
Mengembalikan Kendali atas Makna Hidup
Untuk menghadapi tekanan sosial digital, pemuda perlu kembali memegang kendali atas cara mereka menilai hidup sendiri.
Mereka tidak perlu menjadikan semua penilaian publik sebagai ukuran keberhasilan. Mereka juga tidak wajib mengikuti seluruh standar yang beredar di media sosial.
Di sisi lain, masyarakat perlu berhenti menyederhanakan persoalan ini sebagai masalah individu. Pemuda tidak lemah atau manja. Mereka hidup dalam sistem sosial yang terus menuntut pengakuan, visibilitas, dan pencapaian yang harus ditampilkan.
BACA JUGA: Apa Itu Artificial Intelligence (AI)? Ini Pengertian dan Dampaknya pada Kehidupan
Media sosial telah mengubah cara masyarakat memahami kebahagiaan. Berdasarkan data GoodStats, mayoritas responden mengakui bahwa media sosial memengaruhi cara mereka memaknai kebahagiaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan kini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga dinilai secara sosial.
Ke depan, tantangan utama bukan sekadar mengurangi penggunaan gawai. Tantangan yang lebih penting adalah membangun kesadaran agar pemuda tidak selalu menggantungkan nilai hidup pada penilaian publik.
Ketika pemuda menilai hidup berdasarkan pengalaman dan nilai pribadi, tekanan sosial digital dapat berkurang. Kebahagiaan pun kembali menjadi sesuatu yang benar-benar dirasakan, bukan sekadar dipertontonkan.













