Merapah.com – Stres pada anak kini menjadi perhatian serius di dunia kesehatan dan pendidikan.
Tekanan akademik, tuntutan sosial, serta pola asuh yang tidak ramah anak memicu masalah ini.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menegaskan masa kanak-kanak menentukan kesehatan mental sepanjang hidup.
Karena itu, para ahli menilai anak tidak boleh mengalami stres berlebihan, terutama secara berkepanjangan.
WHO menyebut gangguan kesehatan mental sering berakar dari pengalaman masa kecil yang penuh tekanan.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi perkembangan otak, emosi, dan perilaku anak hingga dewasa.
BACA JUGA: Anak Demam Boleh Mandi? Ini Panduan Aman dari Dokter Anak
Stres Mengganggu Perkembangan Otak Anak
Otak anak masih berkembang hingga usia remaja akhir. Bagian otak bernama prefrontal cortex belum bekerja sempurna pada anak-anak. Bagian ini mengatur emosi, logika, dan pengambilan keputusan.
American Psychological Association (APA) menjelaskan stres kronis meningkatkan hormon kortisol dalam tubuh.
Kortisol berlebih dapat mengganggu perkembangan struktur otak anak. Dampaknya terlihat pada kemampuan belajar dan daya konsentrasi.
Anak yang sering merasakan ini cenderung sulit fokus di sekolah. Prestasi akademik anak bisa menurun secara signifikan.
Rasa stres juga membuat anak kesulitan mengendalikan emosi sehari-hari.
BACA JUGA: Cara Mengenalkan Agama kepada Anak Sejak Dini dengan Menyenangkan
Merusak Kesehatan Emosional dan Sosial Anak
Stres berlebihan membuat anak sulit mengenali perasaannya sendiri. Anak sering memendam emosi karena tidak memahami tekanan yang ia alami.
Kondisi ini menurunkan rasa aman dan kepercayaan diri anak. UNICEF menegaskan lingkungan aman sangat penting bagi perkembangan sosial anak.
Anak yang stres cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Ia mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya.
Padahal, masa anak-anak menjadi fase penting belajar empati dan kerja sama. Tanpa dukungan emosional, anak berisiko mengalami gangguan kecemasan.
Beberapa penelitian mengaitkan stres dini dengan depresi usia remaja.
Menurunkan Daya Tahan Tubuh Anak
Stres juga berdampak langsung pada kesehatan fisik anak. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa hal ini melemahkan sistem imun.
Anak menjadi lebih mudah sakit dibandingkan anak tanpa tekanan emosional. Keluhan fisik sering muncul tanpa penyebab medis yang jelas.
Anak mengeluhkan sakit kepala atau nyeri perut berulang. Dokter menyebut kondisi ini sebagai gangguan psikosomatis.
Stres kronis juga memperlambat proses pemulihan tubuh anak. Tubuh membutuhkan kondisi emosional stabil untuk tumbuh optimal.
BACA JUGA: Waktu Ideal Mengajarkan Anak Berhijab, Usia Berapa Ya?
Anak Belum Mampu Mengelola Tekanan Sendiri
Anak belum memiliki kemampuan coping yang matang. Ia belum mampu memahami masalah secara rasional.
Tanpa pendampingan, anak sering menyalahkan dirinya sendiri. APA menyebut anak bisa merasa gagal dan tidak berharga.
Pola ini berbahaya bagi pembentukan kepribadian jangka panjang.
Stres ringan masih dapat membantu anak belajar beradaptasi. Namun, stres berkepanjangan tanpa dukungan emosional sangat berbahaya.
Orang tua dan pendidik memegang peran penting dalam pencegahan. Lingkungan yang aman membantu anak tumbuh sehat secara mental.
Memahami batas kemampuan anak menjadi kunci utama perlindungan. Perhatian sejak dini menentukan kualitas masa depan anak.













