Buronan Tak Sengaja: Ketegangan 25 Jam dan Aksi Kejar-kejaran di Atlantic City Expressway

Matalensaku Seri 3:

Orang Indonesia itu memang kreatif, apalagi kalau urusan melanggar aturan. Saya salah satunya.
Kejadian ini berlangsung pada tahun 1985, saat saya menetap beberapa bulan di Lowell, Massachusetts—kunjungan kedua saya ke Amerika Serikat setelah tahun 1983.

Ambisi 1.500 Kilometer

Akhir pekan bagi kami adalah waktu untuk berkelana. Bersama dua teman asal Indonesia, kami merencanakan sebuah road trip ambisius: menembus Atlantic City,Las Vegas-nya Pesisir Timur”.

Bayangkan rutenya: dari Lowell ke Boston (60 km), lalu menuju New York (300 km), dan lanjut ke Atlantic City (300 km). Kami berangkat jam 3 pagi dengan target kembali ke Lowell esok malamnya. Total perjalanan sekitar 1.500 km karena ditambah plan keliling kota harus tuntas dalam waktu kurang dari 24 jam menggunakan sebuah Chevrolet (Chevy) putih.

Provokasi di Tengah Kantuk

Cerita serunya bukan saat kami di kasino, melainkan saat perjalanan pulang dari New York menuju Boston sekitar jam 1 dini hari. Rasa kantuk luar biasa menyerang karena jalanan sangat sepi. Teman saya yang memegang kemudi saat itu, saya saat berangkat. mulai terlihat lelah.

Tiba-tiba, sebuah sedan tua berukuran besar melaju kencang menyalip kami. Bentuknya sangat mirip dengan mobil ikonik di serial polisi jadul, Starsky & Hutch. Spontan, adrenalin kami terpacu. Inilah obat kantuk paling ampuh: balapan!

Teman saya langsung tancap gas. Chevy kecil kami dipaksa meraung hingga berhasil menyalip balik “mobil polisi gadungan” itu. Kami merasa menang, sampai tiba-tiba… tet..tet..tet! Lampu rotator polisi menyala dari balik kaca depan mobil tersebut. Kami diminta menepi.

Ternyata itu bukan sekadar mirip, itu memang mobil polisi asli.

Diplomasi “Muka Culun” dan KTP

Kami panik. Terpikir dalam benak, berapa denda yang harus dibayar karena speeding di Amerika? Mungkin sekitar $75 atau lebih—angka yang cukup besar saat itu. Speeding di Amerika besarnya tergantung negara bagian, beda-beda nilainya.
Kami pun berbagi tugas: pasang muka “culun” dan pura-pura tidak lancar berbahasa Inggris.

Polisi itu mengetuk kaca jendela dengan senter besarnya. Teman saya menurunkan kaca dengan tangan gemetar, sementara saya sudah menyiapkan “senjata” andalan.
Percakapan saat itu kira-kira seperti ini.

Fragmen Dialog: Diplomasi KTP

Polisi: “License and registration, please. You were doing 90 in a 65 zone.”

Saat polisi meminta SIM Internasional, dengan percaya diri saya malah menyodorkan KTP Indonesia.

Saya menyodorkan kartu plastik berwarna kuning kusam dengan raut muka sebingung mungkin.
Saya: “Oh, mister… sorry, sorry. In-do-ne-sia? This… my card. Driving… yes?” (Saya bicara terbata-bata sambil memeragakan gerakan menyetir dengan tangan kosong).

Polisi itu mengernyit, membolak-balik KTP saya di bawah sinar senter. Matanya menyipit membaca tulisan “Kartu Tanda Penduduk” dan “Warga Negara Indonesia“.

Polisi: “What is this? This is not an International License. Where is the English translation?”
Saya: (Sambil mengangguk-angguk berlebihan) “Yes, yes… Indonesia. Very far. This is official… in my country. Look, there is a Garuda bird. Very fast bird, Mister.”

Teman saya di kursi sopir hanya bisa menunduk, menahan tawa sekaligus kencing karena takut.
Polisi itu menatap saya, menatap KTP itu lagi, lalu menatap temannya di mobil patroli dengan tatapan “Aduh, urusannya bakal panjang kalau harus memproses turis ajaib ini.”

Polisi itu menghela napas panjang, mengerinyitkan dahi, menatap kartu plastik bertulisan bahasa yang tidak ia mengerti. Mungkin karena gengsi atau bingung, ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia kemudian mengambil surat-surat mobil rental kami dan kembali ke mobilnya untuk berdiskusi dengan rekannya.

Keajaiban di Balik Kecelakaan

Beberapa menit berlalu dengan ketegangan. Polisi itu kembali, mengembalikan KTP dan surat rental, lalu hanya memberi peringatan tegas: “Don’t speed, go!” Tanpa surat tilang, tanpa denda. Mereka langsung melesat pergi dengan terburu-buru.

Awalnya kami heran, namun misteri itu terjawab beberapa kilometer di depan. Ternyata ada kecelakaan besar yang baru saja terjadi dan Polisi itu ada disana.

Rupanya, panggilan darurat untuk menangani kecelakaan tersebut jauh lebih penting daripada mengurusi tiga pemuda asing yang sedang “main-main” dengan kecepatan.

Saya akhirnya mengambil alih kemudi lagi karena teman saya masih gemeteran dan kami tiba di apartemen jam 4 pagi. Total 25 jam di jalanan Amerika.

Sebuah kenangan yang tak terlupakan: ditilang di negeri orang, bermodalkan KTP, dan lolos karena faktor keberuntungan.

Matalensaku