Cerpen: Dua Bab Tanpa Jejak

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap melalui sela-sela tirai kamar. Anehnya, tubuh saya terasa ringan meskipun malam sebelumnya saya tidur larut, hampir pukul dua dini hari. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi tanpa jejak.

“Ini baru luar biasa,” pikir saya sambil bangkit dari tempat tidur. Biasanya, saya baru terbangun setelah matahari sudah tinggi. Hari ini terasa seperti hadiah kecil dari semesta.

Saya duduk di lantai, menarik napas panjang, dan memutuskan untuk meditasi. Udara pagi yang sejuk terasa menyegarkan. Lima menit kemudian, pikiran saya mulai tenang. Usai meditasi, seperti biasa, saya mencari buku yang sedang saya baca: Power vs Force. Sebagian besar sudah saya lahap sebelumnya, tetapi hari ini saya bertekad melanjutkannya walaupun tanpa jejak.

Langkah saya menuju sudut ruang tamu, tempat favorit saya untuk membaca, terdengar ringan. Tempat itu sederhana, hanya sebuah kursi kayu tua dekat jendela. Dari situ, saya bisa melihat halaman depan yang dipenuhi tumbuhan hijau.

Saya mulai membaca. Lembar demi lembar saya nikmati. Kata-kata di halaman pertama terasa menyentuh. Halaman kedua, ketiga, hingga tanpa sadar saya sudah menyelesaikan dua bab. Namun, ada yang aneh.

Seperti Angin yang Lewat tanpa Jejak

Tidak ada satu pun isi buku yang menempel di kepala saya. Kata-kata terasa seperti angin yang lewat, tanpa meninggalkan jejak. Saya mencoba mengingat, tetapi semuanya kosong. Alih-alih memahami isi buku, pikiran saya malah dihantui pertanyaan-pertanyaan aneh.

“Kenapa bisa begini?” Saya bertanya pada diri sendiri, setengah bingung. Apakah mungkin otak saya sedang lelah? Atau mungkin, membaca buku ini justru memicu banyak ide liar?

Saya menutup buku itu perlahan dan bersandar. “Baiklah, saya butuh istirahat,” gumam saya. Mata saya menatap ke luar jendela, ke arah dedaunan yang bergoyang ditiup angin. Lima menit saya habiskan untuk menenangkan pikiran.

Namun, ketika saya mencoba membaca lagi, hasilnya tetap sama. Tidak ada perubahan. Pikiran saya seperti kabur. Dengan rasa frustrasi yang mulai muncul, saya akhirnya menutup buku itu untuk kedua kalinya.

“Mungkin lebih baik aku bersiap-siap ke kampus saja,” bisik saya dalam hati. Saya menatap buku itu sekali lagi, kali ini dengan rasa bersalah.

Saat merapikan buku di meja, pikiran saya terlempar ke masa lalu.

Tidak Suka Membaca

Dulu, saya bukanlah orang yang suka membaca. Ketika masih SMP, saya bahkan menganggap buku hanya sebagai pengisi rak. Namun, semuanya berubah ketika salah satu guru mendorong kami untuk membaca setiap hari. Awalnya saya terpaksa, tetapi lambat laun, saya menemukan kenyamanan di antara lembar-lembar halaman.

Ketika SMA, kebiasaan itu mulai menjadi rutinitas. Saya membaca kapan pun ada waktu luang—di jam istirahat, saat makan siang, bahkan sebelum tidur. Perlahan tapi pasti, membaca buku menjadi pelarian dari kebosanan.

Namun, kebiasaan membaca benar-benar menjadi inti kehidupan saya ketika masuk perguruan tinggi. Jurusan yang saya ambil di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menuntut saya untuk membaca banyak hal. Salah satu dosen favorit saya selalu berkata, “Jika kamu ingin memahami dunia, mulailah dengan membaca.” Kalimat itu melekat di hati saya.

Hari ini, meski pikiran saya terasa kacau, saya tetap bersyukur telah menemukan dunia membaca. Saya percaya, tidak semua hari harus sempurna. Ada kalanya pikiran butuh ruang untuk beristirahat, meski hanya sejenak.

Namun, dua bab yang berlalu tanpa meninggalkan jejak tetap menjadi tanda tanya yang menggantung di benak saya. Mungkin esok akan lebih baik, atau mungkin ini hanya pengingat bahwa otak pun memiliki batasnya.

 

Penulis: Sani Ngep

 

Tentang Penulis:

Sani Ngep, lahir di Kurumkim pada 25 September 2005, berasal dari Papua Pegunungan, tepatnya di Pegunungan Bintang, Distrik Iwur. Ia adalah seorang mahasiswa Universitas Lampung jurusan Administrasi Negara, angkatan 2023, yang dikenal dengan nama angkatan “Gementara.” Selain aktif di dunia akademik, Sani juga seorang penulis buku berjudul Pelukan Rahasia dalam Dunia Ilusi dan memiliki kanal YouTube bernama Sani Ngep Channel.