Bandar Lampung yang kerap disebut sebagai Kota Pancasila, merupakan sebuah daerah yang terdiri dari bermacam suku, ras, dan agama yang berbeda, namun hidup harmonis dalam satu kesatuan. Salah satu contohnya adalah keberadaan etnis Tionghoa di kawasan ini. Sejalan dengan semboyan keberagaman di Kota Bandar Lampung, pada tahun 2023, Pemerintah Kota Bandar Lampung telah merencanakan pengembangan wisata Chinatown yang terletak di wilayah Teluk Betung Selatan.
Pemerintah kota menekankan bahwa pembangunan Chinatown Bandar Lampung ini diharapkan menjadi simbol keragaman dan kekayaan budaya di Bandar Lampung, sebuah kota yang dihuni oleh berbagai etnis.
Fenomena Chinatown sendiri yang tidak hanya terdistribusi di negara-negara Barat, tetapi juga banyak dijumpai di beberapa kota di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Bahkan, di beberapa tempat, Chinatown menjadi unsur penting dalam kehidupan sehari-hari kota tersebut, baik dari segi budaya maupun ekonomi yang tentu saja memberikan dampak positif bagi kemajuan sebuah daerah.
Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung juga mengonfirmasi bahwa rencana Pembangunan wisata Chinatown adalah inisiatif dari Walikota Bandar Lampung.
Nantinya, lokasi Chinatown Kota Bandar Lampung yang terletak di sekitar Jalan Ikan Kakap, Ikan Belanak, Ikan Tongkol, Ikan Tenggiri, dan Ikan Hiu.
Pemerintah Kota Bandar Lampung secara resmi telah memulai pembangunan Chinatown yang ditandai dengan pelaksanaan peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk Tugu Pagoda dan Gapura Pintu Masuk, yang dilakukan langsung oleh Walikota di Simpang Chandra, Jalan Ikan Hiu, Kecamatan Teluk Betung Selatan pada tanggal 20 Mei 2024.
Peletakan batu pertama ini menandai dimulainya pengerjaan pembangunan Tugu Pagoda dan Gapura sebagai pintu gerbang ke kawasan Chinatown.
Kontestasi Budaya yang Meningkatkan Sektor Perekonomian Lokal
Keberagaman budaya di Bandar Lampung akan semakin meriah dengan pembangunan dari Chinatown (pecinan) di Kota Tapis Berseri ini. Chinatown Bandar Lampung akan dilengkapi dengan empat akses masuk dan dua akses keluar.
Wilayah Teluk Betung Selatan dipilih karena menjadi pusat komunitas keturunan Tionghoa. Di area ini juga terdapat kelenteng atau Vihara Thay Hin Bio, yang merupakan vihara tertua di Bandar Lampung.
Sesuai dengan banyak sektor di wilayah Teluk Betung Selatan yang akan dihadirkan kawasan chinatown, tentunya akan ada pusat perdagangan yang maju dan bersejarah, dengan berbagai toko yang menyajikan barang-barang khas Tionghoa, baik itu bahan pangan, barang seni, maupun cendera mata. Chinatown Bandar Lampung juga pasti akan menjadi destinasi wisata, dengan banyak pengunjung yang tertarik untuk merasakan atmosfer budaya Tionghoa yang kental.
Dengan adanya proyek chinatown ini, pemerintah kota berharap dapat menjadi tujuan wisata perkotaan yang tidak hanya memberikan dampak positif terhadap perekonomian, dengan membangun infrastruktur yang memadai di wilayah berkualitas, seperti jalan, trotoar, dan jaringan listrik yang dapat meningkatkan konektivitas antar area di Bandar Lampung.
Hal ini jelas akan mempermudah distribusi barang dan jasa, serta menarik investasi. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) lokal juga merupakan aspek penting dalam ekonomi di Kawasan Teluk Betung Selatan.
Pemerintah perlu memberikan dukungan kepada UMKM dengan akses modal, pelatihan, dan pemasaran agar dapat meningkatkan persaingan di pasar domestik bahkan internasional.
Pemerintah harus memastikan adanya kebijakan ekonomi yang mendukung, termasuk dalam hal perpajakan, regulasi bisnis, dan insentif untuk para investor. Kebijakan yang jelas dan konsisten akan meningkatkan investasi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Meningkatkan distribusi pendapatan yang lebih seimbang melalui kebijakan redistribusi dapat membantu mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi. Pada gilirannya akan menciptakan stabilitas sosial dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di Bandar Lampung.
Tantangan Sosial Budaya dalam Pembangunan Chinatown
Seiring dengan pembangunan area Chinatown di Bandar Lampung, yang dimulai dengan pembangunan Tugu Pagoda dan Gerbang Chinatown, tentu saja menimbulkan pro dan kontra sosial budaya di antara masyarakat Kota Bandar Lampung.
Proyek ini diluncurkan dengan desain yang mengadaptasi bentuk pagoda, proyek ini diharapkan menjadi simbol baru di kawasan Teluk Betung.
Ada sejumlah kelompok masyarakat yang pemerhati terhadap proyek pembangunan Gapura dan Tugu Pagoda. Proyek itu berada di dekat Supermarket Chandra Teluk Betung Selatan itu.
Kelompok pertama yang disebut sebagai Aliansi Masyarakat Peduli Bandar Lampung (AMPBL) yang sangat menolak pembangunan proyek ini. Mereka menyebutkan penolakan ini bukan permasalahan agama, melainkan pelanggaran kearifan lokal kultural sosial budaya setempat.
BACA JUGA: Partisipasi Politik Etnis Tionghoa di Indonesia
AMPBL menyebut pentingnya pembangunan harus selaras dengan identitas lokal dan kebutuhan adat istiadat masyarakat. Pembangunan semestinya ada kaitannya dengan filsafat budaya Lampung.
Forum Masyarakat Pesisir Peduli Pembangunan juga menyatakan komitmennya terhadap realisasi Tugu Pagoda tersebut.
Komunitas ini dengan tegas menolak segala bentuk provokasi yang berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Mereka juga menolak tuntutan bernuansa politik dari pihak manapun yang berupaya menggagalkan pembangunan gapura selamat datang, Tugu Pagoda, dan proyek-proyek lanjutan di Kawasan Chinatown Bandar Lampung.
Ketua Forum Masyarakat Pesisir Peduli Pembangunan, M. Irfandi, mendukung adanya pembangunan sebagai langkah maju bagi wilayah Pesisir Teluk Lampung. Sebab, selama ini wilayah itu tertinggal dalam hal infrastruktur dibandingkan Tanjungkarang dan daerah sekitarnya.
Menciptakan kawasan ini sebagai chinatown menarik perhatian serta menjadi pusat bagi komunitas Tionghoa dari berbagai daerah di Bandar Lampung. Tentu dengan banyaknya fasilitas seperti tempat ibadah seperti vihara, restoran, pasar tradisional. Bahkan terdapat toko herbal, serta sekolah agama dan lembaga Bahasa lokal.
Perayaan-perayaan tradisional Tionghoa, seperti Tahun Baru Imlek dan Festival Musim Gugur, yang biasanya dirayakan dengan meriah di kawasan ini.
Setiap Negara Miliki Keunikan Destinasi Wisata
Setiap negara maupun kota di seluruh dunia memiliki berbagai destinasi wisata yang beragam serta daya tarik masing-masing. Tiap daerah memiliki keunikan yang menjadi ciri khas dari lokasi wisata tersebut. Hal yang sama untuk sektor pariwisata dan kuliner di Kota Bandar Lampung. Dalam konteks ini, perkembangan sektor pariwisata telah mendorong Bandar Lampung untuk menjadi kota yang kaya akan keragaman budaya dan di mana masyarakatnya hidup berdampingan, meski dengan perbedaan. Tentunya hal ini sebagai upaya untuk mendorong pertumbuhan pariwisata serta pengembangan aspek budaya, ekonomi, dan sosialnya dalam sektor pariwisata. Salah satu yang kan menjadi ikon wisata adalah proyek Chinatown Bandar Lampung.
Pembangunan Chinatown Bandar Lampung adalah hasil kolaborasi antara pemerintah dan berbagai lembaga serta komunitas Tionghoa yang ada di Bandar Lampung.
Diharapkan nantinya kedepan, Chinatown Bandar Lampung dapat menjadi destinasi wisata yang termasuk dalam kategori wisata budaya yang kaya. Tentunya dapat memberikan pengalaman bagi pengunjung untuk merasakan suasana budaya khas masyarakat Tionghoa.
Penulis:
Pandu Pamungkas
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Sriwijaya













