Cuaca Tak Menentu, Pendapatan Nelayan Sukaraja Menyusut

Pendapatan Nelayan Sukaraja Menyusut, Hasil Tangkapan Turun Drastis

nelayan di Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.
Nelayan Sukaraja menarik jaring di tepi pantai saat hasil tangkapan ikan menurun akibat cuaca laut yang tidak menentu.

Merapah.com, Bandar Lampung – Cuaca laut yang tidak menentu terus menekan hasil tangkapan nelayan di Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.

Kondisi ini membuat nelayan kesulitan melaut dan berdampak langsung pada pendapatan harian mereka, Kamis, 22 Januari 2026.

Nelayan mengaku perubahan angin dan gelombang laut membuat pergerakan ikan sulit diprediksi.

Situasi tersebut memaksa nelayan mengurangi aktivitas penangkapan di laut.

 

BACA JUGA: Kampung Sungai Burung: Sehari Belajar dan Bertumbuh Bersama Nelayan Pesisir

 

Hasil Tangkapan Turun Drastis

Salah satu nelayan sekaligus juragan kapal, Dedi (53), menyebut hasil tangkapan ikan mengalami penurunan signifikan dibandingkan pertengahan 2025.

Ia mengaku sebelumnya mampu memperoleh hingga satu ton ikan per hari.

“Dulu bisa dapat satu ton sehari dengan tiga sampai empat kali penebaran jaring. Sekarang, setiap kali tarik jaring paling hanya 30 sampai 50 kilogram,” jelas Dedi.

Menurut Dedi, cuaca yang tidak menentu menjadi faktor utama penurunan hasil tangkapan.

Angin kencang dan gelombang laut yang berubah cepat membuat nelayan tidak bisa melaut secara maksimal.

nelayan di Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung..
Aktivitas nelayan di Pantai Sukaraja terhambat gelombang dan angin kencang yang berdampak pada pendapatan harian mereka.

Ia menjelaskan nelayan biasanya menggunakan jaring sepanjang ratusan meter untuk menangkap ikan.

Jenis ikan yang tertangkap cukup beragam, mulai dari ikan selar, bandeng, udang, hingga jenis ikan lainnya.

“Ikan yang paling sering kita tangkap itu ikan selar, bentuknya panjang seperti pedang,” ujarnya.

 

BACA JUGA: Kandungan Omega-3 Ikan Ini Lebih Tinggi dari Salmon

 

Sistem Kerja dan Upah Nelayan

Dedi telah tinggal di kawasan Pantai Sukaraja sejak era 1980-an dan menggantungkan hidup sebagai nelayan selama belasan tahun.

Saat ini, ia mengelola empat hingga lima kapal nelayan.

Setiap kapal mempekerjakan sekitar 12 orang untuk menebar dan menarik jaring dari laut hingga ke tepi pantai.

Aktivitas tersebut biasanya dilakukan tiga hingga empat kali dalam sehari.

Upah pekerja nelayan bergantung pada jumlah hasil tangkapan.

nelayan di Pantai Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.. (2)
Nelayan Sukaraja menurunkan hasil tangkapan ikan yang kini menyusut seiring perubahan cuaca laut dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam kondisi normal, penarik jaring bisa memperoleh Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per orang untuk setiap kali penarikan.

Namun, penurunan hasil tangkapan memaksa Dedi menyesuaikan besaran upah.

Saat ini, ia hanya mampu membayar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per orang setiap kali menarik jaring.

“Kalau sekarang ikannya sedikit, jadi cuma bisa kasih 50 sampai 100 ribu per orang tiap tarikan. Ya, lumayan buat bertahan hidup,” kata Dedi.

 

BACA JUGA: Mitra Bentala dan EDF Perkuat Ekonomi Pesisir dengan Pemanfaatan Limbah Rajungan

 

Harapan Nelayan Pesisir

Para nelayan Pantai Sukaraja berharap kondisi cuaca segera membaik dalam waktu dekat.

Mereka menilai cuaca yang stabil akan memudahkan aktivitas melaut dan meningkatkan hasil tangkapan ikan.

Nelayan juga berharap hasil tangkapan kembali normal agar pendapatan mereka pulih.

Peningkatan hasil tangkapan dinilai penting untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga nelayan di kawasan pesisir Sukaraja.