Merapah.com, Bandarlampung – Permasalahan sampah organik rumah tangga masih menjadi tantangan di Kelurahan Perwata, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung.
Masyarakat belum mengelola volume sampah yang cukup tinggi secara optimal.
Di sisi lain, peternak burung skala rumahan menghadapi kenaikan biaya pakan.
Kondisi ini mendorong mahasiswa Kelompok 1 KKN Unila 2026 Kelurahan Perwata menghadirkan solusi inovatif berbasis lingkungan.
Mereka menginisiasi program budidaya maggot Black Soldier Fly sebagai pengurai sampah sekaligus pakan alternatif burung.

Program ini berlangsung di Lingkungan Kelurahan Perwata secara bertahap dan berkelanjutan.
Mahasiswa memulai kegiatan dengan sosialisasi pada 18 Januari 2026 pukul 08.00 WIB.
Tim kemudian melanjutkan pendampingan hingga penyerahan maggot kepada warga pada 5 Februari 2026 pukul 19.00 WIB.
Solusi Sampah Organik Berbasis Maggot BSF
Mahasiswa memanfaatkan maggot BSF untuk mengurai sampah organik secara cepat dan efisien. Mereka mengolah sekitar 10 hingga 15 kilogram sampah organik setiap minggu sebagai pakan larva.
Dalam satu siklus panen, tim menghasilkan sekitar 4 hingga 6 kilogram maggot. Peternak dapat langsung menggunakan hasil panen tersebut sebagai pakan burung karena maggot mengandung protein tinggi.
Tim KKN menggunakan peralatan sederhana seperti baskom, waring, dan kawat loket. Mereka juga memanfaatkan ampas tahu sebagai tambahan pakan agar biaya produksi tetap terjangkau.
Program ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi. Mahasiswa memperkenalkan konsep pengelolaan limbah yang produktif kepada warga.
Libatkan Warga dan Peternak Burung
Kegiatan ini melibatkan pemuda, aparat kelurahan, dan peternak burung setempat. Salah satu pihak eksternal yang terlibat adalah Pak Adi, warga RT 01 Lingkungan 02.

Pak Adi menekuni hobi memelihara burung dan berinisiatif membudidayakan maggot untuk mendukung rencana usaha pakan burungnya. Ia mengikuti seluruh rangkaian sosialisasi dan praktik budidaya bersama mahasiswa.

“Adanya ulat maggot ini selain menjadi pakan, sangat membantu juga untuk kualitas suara burung dan cara budidayanya tidak terlalu rumit,” ujar Pak Adi.
Mahasiswa melihat antusiasme tinggi dari peserta saat praktik berlangsung. Warga yang sebelumnya belum mengenal maggot mulai tertarik mencoba secara mandiri.
Salah satu anggota KKN, Rasya Aulia, menegaskan pentingnya kolaborasi masyarakat.
“Kami ingin warga melihat sampah sebagai sumber daya yang bisa dikelola bersama, bukan sekadar dibuang,” jelasnya.
Komitmen Kelompok 1 KKN Unila 2026
Program ini dijalankan oleh 13 mahasiswa lintas fakultas. Mereka berasal dari FISIP, FEB, FMIPA, FH, dan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Wahyu Aziz Saputra, Dimas Aji Purnama, Arlia Sabrina Utami, dan Desinta Putri Nuraini bergabung dalam tim KKN tersebut dan menjalankan program budidaya maggot di Kelurahan Perwata. Uliya Armina Maulidani, Dhea Anastasya Br Perangin-angin, dan Alfaritsi Hardiansyah Suadi turut memperkuat tim dalam menjalankan program budidaya maggot.
Selain itu, Monika Theresia Simarmata, Apta Ardianti, Elia Kurnia Sari, Mutia Sani, Reinhart Yehezkiel William Hutabarat, dan Rasya Aulia Adhi Putri turut berperan aktif.
Kelompok 1 KKN Unila 2026 menargetkan keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir. Mereka mendorong warga untuk mengembangkan budidaya maggot sebagai peluang usaha mandiri.
Melalui inovasi ini, mahasiswa mengubah sampah organik menjadi sumber daya bernilai.
Mahasiswa KKN Unila 2026 mendorong budidaya maggot BSF sebagai langkah nyata menuju pengelolaan sampah berkelanjutan di Kelurahan Perwata.













