Desa Maja, Hadapi Risiko Tinggi di Gunung Api

Desa Maja mulai menyusun rencana wisata pantai aman dan berkelanjutan melalui FGD Mitra Bentala.

Mitra bentala FGD
Mitra Bentala menggelar FGD pengembangan wisata Pantai Desa Maja berbasis PRB di Desa Maja, Lampung Selatan, Rabu (18/12/2025).

Merapah.com, Lampung Selatan, 18 Desember 2025 — Desa Maja, kawasan pesisir di Lampung Selatan, termasuk wilayah dengan risiko bencana tinggi. Ancaman seperti gelombang tinggi, abrasi pantai, gempa tektonik, hingga potensi tsunami menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan wisata di desa ini.

Menyikapi hal tersebut, Mitra Bentala menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) Rencana Pengembangan Wisata Pantai Desa Maja, Rabu, 18 Desember 2025.

Kegiatan ini bertujuan menyusun rencana wisata pantai yang aman, berkelanjutan, dan tangguh terhadap risiko bencana. Forum ini juga menjadi ruang bagi para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi konsep pengembangan wisata secara terukur dan partisipatif.

BACA JUGA: Pembudayaan Olahraga dalam Perspektif DBON dan Pembangunan Berkelanjutan

Integrasi Pengurangan Risiko Bencana dalam Perencanaan Wisata

Pengembangan wisata pantai Desa Maja tidak hanya menonjolkan daya tarik visual, tetapi juga memastikan keselamatan pengunjung. Mitra Bentala menekankan bahwa perencanaan berbasis mitigasi bencana harus menjadi fondasi utama pembangunan wisata pesisir.

Mitra bentala FGD.FGD menghimpun masukan peserta untuk menyempurnakan rencana kegiatan dan jadwal pengembangan wisata. Peserta juga menilai potensi, tantangan, dan kebutuhan desa dalam mengembangkan wisata pantai yang aman dan berdaya saing.

Pendekatan berbasis Pengurangan Risiko Bencana (PRB) membantu menciptakan destinasi wisata yang menarik sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan dan memperkuat ketahanan masyarakat pesisir terhadap bencana.

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Wisata Tangguh

FGD menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk BPBD Lampung Selatan, Dinas Pariwisata, Pemerintah Desa Maja, Pokdarwis, Destana, FPRB, dan media lokal.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Lampung Selatan, Ahmad Heru, menilai FGD sebagai ruang kolaborasi penting.

“FGD ini memungkinkan kami berkumpul mulai BPBD, Pokdarwis, Pemerintah Desa, hingga akademisi. Hal ini penting untuk membangun desa wisata yang aman sekaligus tangguh bencana,” ujar Ahmad Heru.

Ia menekankan bahwa desa wisata perlu memiliki karakter, ciri khas, dan sumber daya manusia mandiri. Kolaborasi lintas sektor memperkuat arah pengembangan ekowisata pesisir.

BACA JUGA: Pentingnya Quality Control untuk Menjaga Loyalitas Konsumen: Simak Selengkapnya

Akademisi dan BPBD Dorong Kesiapsiagaan Masyarakat

Akademisi Universitas Lampung, Goestyari Kurnia, menilai FGD sebagai langkah awal pengembangan ekowisata Desa Maja yang tangguh. Sementara akademisi Universitas Indonesia Mandiri Lampung Selatan, Diah Sumardiani, siap berkontribusi dalam proses pengembangan wisata desa.

“Kegiatan ini dapat menjadi awal penentu arah pengembangan ekowisata Desa Maja yang tangguh,” ungkap Goestyari.

Ia juga berharap Desa Maja menjadi desa binaan Universitas Lampung ke depannya.

Mitra bentala FGD..

BPBD Lampung Selatan menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat. Perwakilan BPBD, Septa Ferdinan, menyebut penguatan kapasitas warga menjadi prioritas, termasuk penyediaan rambu evakuasi, titik kumpul, dan sistem peringatan dini (EWS).

“Pengembangan wisata harus diawali dengan peningkatan kapasitas masyarakatnya,” jelas Septa.

Ia menambahkan perlunya rambu evakuasi, titik kumpul, serta sistem peringatan dini atau EWS.

Menuju Desa Wisata Pesisir Aman dan Berkelanjutan

Mitra Bentala berharap FGD menghasilkan konsep pengembangan wisata pantai yang partisipatif dan terintegrasi. Strategi tersebut diyakini meningkatkan keselamatan pengunjung sekaligus memperkuat daya tarik wisata Desa Maja.

Dengan pendekatan berbasis PRB, Desa Maja berpotensi menjadi desa wisata pesisir yang aman sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Lampung Selatan.