Oleh : Erson Agustinus
Masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim memiliki kebiasaan dan tradisi keagamaan menyambut puasa ramadan dan perayaan lebaran idul fitri dengan semarak dan meriah. Dari berbelanja untuk kebutuhan sahur dan buka puasa dengan menu istimewa, membeli baju baru untuk hari raya hingga tradisi mudik lebaran, hal tersebut menyebabkan prilaku ekonomi berbiaya tinggi (high-cost economic behavior) alias berpola hidup konsumtif.
Ramadhan selalu menjadi salah satu momen puncak konsumsi bagi masyarakat Indonesia dan juga identik sebagai momentum musiman untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bulan Ramadhan semestinya membuat pengeluaran rumah tangga menurun. Pasalnya, frekuensi makan berkurang, aktivitas nongkrong siang hari menurun, bahkan sebagian orang mengurangi perjalanan dan hiburan.
Namun, realitas menunjukkan hal yang berbeda. Pengeluaran selama bulan puasa justru meningkat, hingga menjelang hari raya Idul Fitri.
Data nasional menunjukkan proyeksi perputaran uang selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026 berpotensi tembus Rp 190 triliun. Momentum ini dinilai dapat memperkuat konsumsi rumah tangga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026.
Ramadan dan Idul Fitri tahun ini menjadi fenomena strategis karena seluruh siklus konsumsi akan terkonsentrasi pada awal tahun karena peningkatan perputaran uang tidak hanya berasal dari konsumsi primer seperti makanan dan pakaian, tetapi juga dari lonjakan signifikan pada sektor transportasi, akomodasi, dan pariwisata. Dari perspektif makroekonomi, dampak ini menjadi penting karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Terlebih, faktor utama penggerak konsumsi tetap pada peningkatan pendapatan meski inflasi turut memengaruhi pola belanja. Namun dilain sisi, pergeseran permintaan agregat biasanya memicu kenaikan harga yang kemudian berdampak pada penurunan jumlah barang yang diminta. Ketika harga meningkat, maka terjadi pergeseran yaitu barang yang diminta cenderung akan berkurang. Nah, disinilah pemerintah perlu memastikan inflasi akan tetap terkendali dengan menjaga pasokan agar tidak terjadi kelangkaan barang.

Inflasi pada Februari 2026 secara tahunan mencapai 4,54% year on year (yoy), atau meningkat dari Januari 2026 yang hanya 3,55% YoY. Sementara itu, inflasi secara bulanan diperkirakan mencapai 0,48% secara month to month (mtm).
Kenaikan inflasi didorong oleh efek musiman dari Ramadan yang mulai menaikkan harga bahan pokok, selain dari efek low base tarif listrik (tahun lalu ).
Inflasi inti juga diperkirakan meningkat menjelang Lebaran imbas masyarakat yang berbondong-bondong membeli produk pakaian dan kebutuhan Lebaran lainnya. Di sisi lain, harga emas yang masih meningkat turut jadi penyumbang.
Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi selama Ramadan dan Idulfitri 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran, meski ada potensi kenaikan sedikit di atas 3% akibat efek low base diskon listrik awal 2025. Stabilitas didukung panen hortikultura dan koordinasi TPIP/TPID untuk menjaga harga pangan
Kenaikan terutama disumbang volatile food (pangan) karena permintaan Ramadan dan administered prices (harga diatur pemerintah) akibat perbandingan rendah dari diskon listrik Jan-Feb 2025.
Secara keseluruhan, BI menegaskan tekanan harga selama Ramadan 2026 bersifat sementara dan berada dalam kontrol.













