Cerpen: Dinginnya Lantai dan Penghargaan yang Terlupakan

Malam itu, hujan turun dengan deras. Rintiknya memukul genting seperti irama yang tidak beraturan. Aku baru saja pulang setelah lembur, dengan tubuh lelah dan pikiran kacau. Suara percikan air di genangan membuat langkahku terhenti. Penghargaan

Ketika hendak membuka pintu rumah, aku tersandung sebuah batu kecil yang tak terlihat di bawah bias lampu temaram halaman. Tubuhku terhuyung ke depan, dan… bruk! Aku jatuh, menabrak lantai teras yang dinginnya langsung menembus kulit. Penghargaan

“Aduh…” Aku meringis, mengusap lutut yang lecet. Tapi, anehnya, rasa sakit itu justru membangkitkan sesuatu di kepalaku. Pikiranku melayang pada seseorang—Dita.

Dita adalah teman kerjaku yang tak pernah mengeluh, meskipun beban pekerjaan sering menghimpit. Dia bukan tipe orang yang suka menyuarakan keluhan atau menuntut pengakuan. Setiap kali aku kehilangan motivasi, dia selalu ada dengan secangkir kopi dan senyum kecil. Penghargaan

Namun, aku selalu bersikap dingin. Tidak tahu kenapa, tapi mungkin karena aku terlalu sibuk dengan ego dan pikiranku sendiri.

Ruang Kerja yang Dingin penghargaan

Esok paginya, aku datang ke kantor dengan langkah berat. Di ruang kerja yang dingin itu, kulihat Dita sedang berbicara dengan salah satu rekan kami, Andi. Senyumnya terlihat seperti biasa—hangat, tapi samar-samar tampak lelah.

memperhatikan dari kejauhan. Suasana pagi itu seperti menghimpit dadaku. Aku mulai menyadari, selama ini aku tidak pernah benar-benar melihatnya.

“Dita, laporan minggu ini sudah kamu kirim?” tanyaku dengan nada datar.

Dia menoleh, masih dengan senyum ramahnya. “Sudah, kemarin malam aku kirim. Kalau ada yang kurang, kabari saja.”

Kemudian, ia beri jawaban seperti biasa—ringkas, tanpa beban. Tapi aku merasa ada yang lain. Tatapannya sesaat kehilangan cahaya sebelum ia kembali tersenyum, seolah berusaha menutupi apa pun yang ia rasakan.

Hari itu, aku baru tahu dari Andi bahwa Dita sebenarnya sedang menghadapi masalah besar. Ayahnya sakit keras, dan seluruh tabungannya habis untuk biaya rumah sakit. Tapi, meski sedang dilanda badai, ia tetap hadir ke kantor, bekerja seperti biasa tanpa pernah meminta bantuan siapa pun.

Malam itu, ketika semua orang sudah pulang, aku masih duduk di meja kerja, merenungi semua yang baru saja kudengar. Dita masih ada di ruangannya, sibuk membereskan dokumen. Aku tahu ini bukan saatnya untuk bersikap dingin lagi.

“Dita,” panggilku pelan.

Dia menoleh, sedikit terkejut. “Iya, ada apa, Arya?”

Aku mendekat, mencoba menyusun kata-kata. “Kenapa kamu nggak cerita soal… keadaanmu? Maksudku, soal ayahmu.”

Dita terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Karena aku nggak mau merepotkan siapa pun. Semua orang punya masalahnya masing-masing, kan?”

“Tapi kamu nggak perlu selalu kuat sendirian. Maksudku… kalau kamu butuh bantuan, kita semua pasti mau membantu.”

Dia menghela napas, tatapannya melunak. “Mungkin aku terlalu takut terlihat lemah. Tapi, terima kasih, Arya. Aku nggak menyangka kamu memperhatikan.”

Say menunduk, merasa malu. “Aku minta maaf kalau selama ini aku terlalu dingin sama kamu. Aku sadar, kamu selalu ada buat orang lain, tapi aku bahkan nggak pernah benar-benar menghargai itu.”

Lebih Tulus

Dita tersenyum lagi, kali ini lebih tulus. “Kamu tahu, erengyap? Sadar saja sudah cukup buatku. Dan jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.”

Namun, hujan masih turun ketika kami meninggalkan kantor malam itu. Dalam perjalanan pulang, aku kembali teringat kejadian semalam—jatuh di lantai dingin yang mengajarkanku sesuatu.

Terkadang, kita terlalu sibuk dengan diri sendiri sampai lupa menghargai perjuangan orang lain. Padahal, mereka yang diam dan tidak pernah mengeluh mungkin sedang menghadapi badai yang lebih besar dari yang kita duga.

Selanjutnya, di depan pintu rumahku, aku berjanji pada diriku sendiri: mulai sekarang, aku akan lebih peka. Karena, seperti lantai yang dingin, perhatian yang sederhana pun bisa menghangatkan hati seseorang yang lelah.

Penulis Cerpen:

Sani Ngep