Kamar kecil menyimpan begitu banyak rahasia di balik pintunya. Sebagai seorang introvert, saya selalu merasa tempat yang terlalu ramai hanya menguras energi. Kenyamanan yang Terjebak di Antara Pintu dan Ruang
Kelelahan datang begitu cepat saat berada di keramaian. Sebaliknya, ketika kembali ke kamar, energi itu seolah terisi kembali.
Namun, di balik kenyamanan yang ditawarkan, dibalik pintu dan ruang, kamar ini menyimpan sesuatu yang tak pernah saya duga sebelumnya.
Pintu yang saya tutup rapat itu menciptakan ruang bebas, tempat di mana saya bisa melakukan apa saja, tanpa ada batasan. Ketenangan yang melingkupi kamar ini sering kali terasa seperti pelukan hangat, memberikan kebebasan tanpa syarat.
Pikiran Bekeliaran di Balik Pintu dan Ruang
Di dalam kamar yang sunyi ini, pikiran saya bebas berkeliaran. Tetapi, di sisi lain, saya mulai menyadari bahwa tempat ini juga membawa bahaya. Teknologi yang semakin canggih memberikan akses tanpa batas ke dunia luar, dan saya sering kali tanpa sadar terjebak dalam kesenangan instan yang ditawarkan.
Awalnya, saya merasa nyaman. Kamar ini adalah dunia kecil saya, tempat saya bisa menjadi diri sendiri tanpa tekanan. Namun, semakin lama, saya menyadari sesuatu yang mengganggu: kenyamanan ini bukanlah solusi, melainkan jebakan. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru mulai mengisolasi saya dari kenyataan.
BACA JUGA: Cerpen: Mencintaimu Adalah Hobiku
“Tidak ada yang salah dengan menyendiri, kan?” saya sering bertanya pada diri sendiri. Tetapi pertanyaan itu tidak pernah terjawab sepenuhnya. Dalam keheningan kamar, ada suara-suara kecil di dalam kepala saya yang kerap berbicara. Mereka bukan suara orang lain, melainkan suara yang muncul dari relung terdalam hati saya, suara yang semakin hari semakin mengganggu.
“Lalu, sampai kapan kamu akan begini?” suara itu bertanya suatu malam. Saya mencoba mengabaikannya, tetapi ia terus kembali.
Pintu kamar itu, yang sebelumnya terasa seperti pelindung, mulai tampak seperti penghalang. Sebuah dinding yang memisahkan saya dari dunia luar. Saya mulai memandangnya dengan perasaan yang bercampur aduk, seperti seorang tawanan yang rindu akan kebebasan.
“Kenapa aku lebih suka di sini daripada di luar?” tanya saya pada diri sendiri suatu malam, menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikiran itu mengusik saya, tetapi saya menepisnya.
Hari demi hari berlalu. Kebiasaan saya semakin aneh. Pintu kamar jarang saya buka, bahkan untuk sekadar menyapa orang-orang di rumah. Keluarga mulai mempertanyakan kebiasaan saya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Ibu suatu sore, mengetuk pintu kamar pelan.
“Saya baik, Bu,” jawab saya singkat, meski suara saya terdengar ragu.
Namun, Ibu tidak menyerah. “Kamu jarang keluar. Apa kamu nggak merasa kesepian?”
Saya hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.
Hembusan Angin Sejuk Masuk ke Kamar Kecil
Malam itu, saat duduk di lantai dengan ponsel di tangan, saya merasa kosong. Cahaya layar memantul di wajah saya, tetapi saya tidak benar-benar melihat apa yang ada di layar.
Saya mendengar suara angin dari luar jendela, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, saya merasa ingin keluar.
Saya berdiri perlahan, membuka jendela sedikit untuk menghirup udara segar. Bau tanah basah menyeruak masuk, membawa kenangan masa kecil saya bermain di luar, jauh sebelum saya mengenal istilah introvert.
Pikiran saya mulai melayang. Saya ingat betapa menyenangkannya dulu berlari di bawah hujan, mendengar suara tawa teman-teman, dan merasa hidup. Semua itu terasa seperti mimpi yang sudah lama hilang.
“Tapi sekarang, dunia luar itu terlalu menakutkan,” saya bergumam pelan.
Malam itu, saya memutuskan untuk mengubah sesuatu. Bukan hal besar, hanya langkah kecil. Saya membuka pintu kamar saya perlahan, membiarkan cahaya dari ruang tamu masuk. Rasanya seperti membiarkan cahaya matahari pertama setelah lama terkurung dalam kegelapan.
Langkah pertama saya terasa berat, tetapi saya tahu, untuk menemukan apa yang benar-benar saya butuhkan, saya harus keluar dari kamar ini.
Di luar pintu, saya menemukan bahwa dunia tidak seburuk yang saya bayangkan. Ada kehidupan, ada tantangan, tetapi juga ada keindahan yang menunggu untuk ditemukan. Saya menyadari bahwa kamar kecil saya, meskipun nyaman, bukanlah tempat saya seharusnya terus berada.
Kini, saya berdiri di depan pintu kamar saya yang terbuka lebar, memandang ke luar dengan harapan baru. Dunia mungkin tidak selalu ramah, tetapi saya siap untuk melangkah ke dalamnya.
Tentang Penulis:
Sani Ngep, lahir di Kurumkim pada tanggal 25 September 2005, berasal dari Provinsi Papua Pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang, Distrik Iwur. Saat ini, ia merupakan mahasiswa Universitas Lampung angkatan 2023, jurusan Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Akun Instagramnya adalah @sani_ngep23.













