Berita  

Gerhana Bulan Total 2–3 Maret 2026, Ini Jadwalnya

Fenomena Langka di Awal Maret

gerhana bulan total
Gerhana bulan total 2–3 Maret 2026 menghadirkan fenomena blood moon yang dapat disaksikan di Indonesia selama hampir satu jam fase totalitas.

Merapah.com – Gerhana bulan total akan terjadi pada 2–3 Maret 2026. Fenomena ini menjadi satu-satunya gerhana bulan total sepanjang 2026.

Badan antariksa seperti NASA mencatat gerhana dimulai pada 08.44 UTC. Fase penumbral menjadi tanda awal peristiwa tersebut.

Bulan mulai memasuki bayangan luar Bumi atau penumbra. Cahaya Bulan tampak sedikit meredup pada fase ini.

Fase parsial kemudian berlangsung saat sebagian Bulan tertutup umbra. Bayangan gelap terlihat perlahan menutupi permukaan Bulan.

Thomas Djamaluddin, pakar astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional, mengatakan, “Gerhana bulan total terjadi pada 3 Maret 2026, mulai pukul 16.10 hingga 20.17 WIB.”

 

BACA JUGA: Gerhana Matahari Cincin Muncul Februari 2026, Ini Faktanya

 

Puncak gerhana terjadi saat fase totalitas. Seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi.

Totalitas berlangsung sekitar 58 hingga 59 menit. Fase ini terjadi sekitar pukul 11.04 hingga 12.02 UTC.

Gerhana berakhir pada 14.23 UTC setelah Bulan keluar dari penumbra. Total durasi seluruh rangkaian fenomena ini mencapai lebih dari lima jam.

Mengapa Bulan Berwarna Merah?

Gerhana bulan total terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Posisi itu membuat bayangan Bumi menutupi Bulan sepenuhnya.

Atmosfer Bumi membiaskan cahaya Matahari ke arah Bulan. Atmosfer menyaring cahaya biru dan menyisakan spektrum merah.

Proses itu membuat Bulan tampak berwarna kemerahan. Fenomena ini populer dengan sebutan blood moon.

Warna merah bisa berbeda-beda tergantung kondisi atmosfer. Debu dan partikel udara memengaruhi intensitas warna yang terlihat.

Semakin bersih atmosfer, warna merah terlihat lebih cerah. Sebaliknya, polusi tebal membuat warna tampak lebih gelap.

 

BACA JUGA: Alasan Pluto Didepak dari Daftar Planet Tata Surya

 

Wilayah yang Bisa Menyaksikan

Sebagian besar Asia dapat menyaksikan fenomena ini. Asia Tenggara termasuk Indonesia berada dalam jalur pengamatan ideal.

Australia dan kawasan Pasifik juga bisa melihat fase totalitas. Sebagian wilayah Amerika Utara turut menikmati pemandangan tersebut.

Wilayah Eropa dan sebagian Afrika tidak dapat menyaksikan fase utama. Posisi Bulan berada di bawah horizon saat gerhana berlangsung.

Di Indonesia, seluruh wilayah berpeluang melihat totalitas. Warga bisa mengamati fenomena ini jika langit cerah.

Waktu pengamatan di Indonesia berlangsung sore hingga malam 3 Maret 2026. Perbedaan zona waktu memengaruhi jam pengamatan di tiap daerah.

 

BACA JUGA: Hari di Bumi Bisa Menjadi 25 Jam? Ini Penjelasan Ilmiahnya

 

Aman Dilihat Tanpa Alat Khusus

Gerhana bulan total aman dilihat dengan mata telanjang. Pengamat tidak memerlukan kacamata khusus seperti saat gerhana matahari.

Penggunaan binokular dapat memperjelas detail permukaan Bulan. Teleskop kecil membantu melihat gradasi warna merah secara lebih tajam.

Pengamat disarankan memilih lokasi minim polusi cahaya. Langit yang gelap membantu meningkatkan kualitas pengamatan.

Fenomena ini menjadi momen penting bagi pecinta astronomi. Gerhana bulan total berikutnya baru akan terjadi beberapa tahun setelahnya.

Peristiwa ini menawarkan kesempatan langka bagi masyarakat Indonesia. Publik dapat menyaksikan langsung perubahan warna Bulan di langit malam.

Masyarakat menantikan gerhana bulan total 2–3 Maret 2026 sebagai tontonan langit paling spektakuler tahun ini. Publik perlu mencatat tanggalnya dan bersiap menyaksikan fenomena tersebut.