IHSG Menguat di Tengah Pelemahan Rupiah, Mengapa?

IHSG menguat, sementara rupiah rupiah melemah.

Oleh : Erson Agustinus (Praktisi Ekonomi)

Dalam beberapa pekan ini, rupiah terus tertekan mendekati Rp17.000 per Dolar AS. Bahkan, bank-bank dalam negeri dan money changer telah menjual di atas poin Rp17.000 per Dolar AS. Sementara itu, terjadi pelemahan rupiah, di mana rupiah mencatat rekor kurs terlemah sepanjang sejarah di pasar luar negeri/pasar offshore: Non-Deliverable Forward (NDF) tembus Rp17.000 per Dolar AS per 19 Februari 2026.

Mengapa Rupiah Terpuruk?

Terus tergerusnya rupiah, menurut pengamat valuta, disebabkan adanya beberapa faktro yakni tekanan eksternal. Tekanan global menjadi faktor utama dalam pergerakan kurs dan terus meningkatnya kebutuhan valas domestik. Selain itu, issue dadakan tentang pergantian posisi Deputi Gubernur BI kepada Thomas Djiwandono turut mempengaruhi sentimen negatif terhadap pelemahan rupiah.

Padahal Bank Indonesia (BI) selalu sigap secara simultan melakukan intervensi pasar untuk menjaga stabilitas kurs di pasar global dan domestik untuk jangka pendek.

Pemerintah selaku pemangku kebijakan fiskal dalam hal ini Depkeu berkeyakinan rupiah dalam waktu dekat akan membaik, seiring dengan intennya koordinasi antara Departemen Keuangan dan Bank Indonesia untuk sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.

 

BACA JUGA: Barter Pejabat Fiskal-Moneter, akankah Mengusik Independensi Lembaga?

 

Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) Terus Menguat

Sementara itu di pasar domestik IHSG pada penutupan perdagangan sore, 20 Januari 2026 menguat di 9.155,41. Artinya, meningkat sampai 22%, dan pada waktu yang bersamaan rupiah terus terpuruk di Rp16.965 per Dolar AS.

IHSG menguat signifikan pada saham-saham Konglomerasi; seperti Barito Pacific, Chandra Asih, Petrosea. Sementara, pada saham-saham Blue Chip seperti saham perbankan mengalami penguatan tidak begitu signifikan.

Mengapa IHSG Menguat, Rupiah Melemah

Fenomena IHSG menguat sementara rupiah melemah itu hal yang biasa terjadi. Bukan suatu yang membuat anomali keadaan. Sebab, kedua instrumen itu digerakkan oleh faktor yang berbeda.

IHSG bergerak lebih banyak merefleksikan keuntungan laba perusahaan, likuiditas domestik, dan selera keinginan investor.

 

BACA JUGA: Masyarakat Gagal Paham tentang Ekonomi Akibat Minim Informasi dan Komunikasi Publik yang Tidak Sederhana

 

Sedangkan pergerakan rupiah sangat sensitif terhadap keluar masuk nya valuta asing setiap hari untuk kebutuhan impor, pembayaran hutang dan bunga, repatriasi deviden, serta arus dana asing di pasar surat utang dan valuta asing.

Dari sisi domestik, rupiah bisa tertekan bila pasar melihat risiko fiskal membesar, kebutuhan pembiayaan pemerintah naik, atau pasokan valuta asing dari ekspor melambat.

Dapat diartikan, IHSG menguat saat rupiah melemah dapat terjadi karena pasar saham didorong oleh optimisme laba emiten tertentu atau modal masuk, sementara rupiah tertekan oleh sentimen global(dolar menguat) atau keluarnya modal dari pasar obligasi.