Lampung, Merapah.com — Serikat Tani Islam Indonesia (STII) kembali menyelenggarakan program rutin Ngaji Pertanian pada Sabtu, 22 Oktober 2025. Mengusung tema “Dari Sampah Menuju Kedaulatan”, sesi ini menyoroti bagaimana pengelolaan sampah dapat menjadi fondasi kemandirian desa dan ketahanan pangan nasional.
Acara berlangsung secara virtual melalui Zoom dan dibuka oleh Ketua Umum PB STII 2024–2029, Fathurrahman Mahfudz, BIRK., MM. Ridho Iqbal Firdaus, S.A.B sebagai Direktur Yayasan Boemi dan Kita sekaligus aktivis lingkungan turt menyampaikan materi inti. Maya Rosmala turut memandu sesi tersebut.
Sampah: Ancaman Lingkungan dan Sumber Daya Baru
Dalam presentasinya, Ridho menegaskan bahwa desa-desa di Indonesia sedang menghadapi masalah serius. Di mana terjadi penumpukan sampah, pencemaran air, hingga tanah yang kehilangan nutrisi. Situasi ini mengancam produktivitas lahan dan ketahanan pangan.
Namun Ridho menawarkan narasi baru. “Sampah selama ini menjadi masalah. Kini narasi itu harus berubah. Sampah adalah modal ekologi sekaligus modal ekonomi,” ujarnya.
Ia menjelaskan sampah organik dapat menjadi kompos, bioenzim, dan MOL untuk memperbaiki kesehatan tanah. Pengolahan sampah anorganik bisa melalui bank sampah atau industri daur ulang.
“Bahkan siapa pun bisa melakukan konversi limbah rumah tangga menjadi energi melalui biogas,” kata Ridho.
Ekonomi Sirkular Desa: Model Mandiri dan Berkelanjutan
Ia memaparkan, konsep ekonomi sirkular desa menjadi fokus utama sesi ini. Dalam model ini, setiap limbah kembali ke desa dalam bentuk manfaat, yakni kompos meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi biaya tanam. Kemudian Plastik menghasilkan nilai ekonomi baru bagi warga.
“Juga limbah organik menjadi sumber energi murah untuk rumah tangga,” ujar dia.
BACA JUGA: Boemikita Gandeng China Perkuat Daur Ulang Sampah Plastik
Pendekatan ini mampu menekan biaya produksi pertanian, meningkatkan hasil panen, menciptakan sumber pendapatan baru, menjaga lingkungan desa tetap sehat.
“Desa yang mampu mengelola sampahnya dengan baik akan menjadi desa yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan,” jelas Ridho.
Empat Strategi Menuju Kedaulatan Desa terungkap di Ngaji Pertanian
Ridho memaparkan roadmap praktis yang dapat desa terapkan yakni mendirikan Unit Pengelolaan Limbah Desa (UPLD). Di unit ini, tidak hanya bank sampah, tetapi sistem terintegrasi mulai dari pemilahan, produksi kompos, hingga digitalisasi data pengelolaan sampah.

Selain itu, meningkatkan produktivitas pertanian. Seperti pemanfaatan kompos dan biokompos membantu memulihkan struktur tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Hal yang tidak kalah penting yakni membangun Ekonomi Sirkular Desa. Ridho yakin, setiap limbah memiliki nilai ekonomi yang kembali memperkuat kesejahteraan kolektif.
Selanjutnya, mewujudkan kemandirian pangan. Ridho mendorong desa memiliki lumbung pangan, cadangan logistik, dan sistem hortikultura lokal berbasis komunitas.
Ridho juga memperkenalkan konsep THR Desa (Tabungan Hasil Recycle). ” Ini adalah sistem tabungan berbasis daur ulang yang dapat dicairkan jelang Idulfitri, musim tanam, atau kebutuhan sekolah anak,” katanya.
Terobosan lain yang harus bergerak secara paralel yakni menggerakkan pemuda, muslimat, dan digitalisasi desa.
Sebab, perubahan pengelolaan sampah menurut Ridho tidak hanya soal teknologi, tetapi juga gerakan sosial.
“Pemuda dan kelompok Muslimat disebut sebagai penggerak utama yang mampu mempercepat transformasi ekologi desa,” tutur Ridho.
Digitalisasi turut tersorot melalui aplikasi bank sampah, dashboard ekonomi sirkular, pencatatan komoditas desa.
Landasan Islam dalam Gerakan Ekologi
Sebagai organisasi berbasis nilai keislaman, STII menegaskan bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari ajaran agama. QS Al-A’raf: 56 menjadi rujukan moral untuk tidak melakukan kerusakan di muka bumi.
Ngaji Pertanian Menuju Peradaban Hijau
Ngaji Pertanian edisi ini juga mengajak masyarakat untuk melihat sampah bukan sebagai beban, melainkan aset strategis yang mampu membuka jalan menuju kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, kedaulatan desa, hingga bangunan peradaban hijau.
STII mengajak publik untuk mendukung gerakan dakwah dan pemberdayaan petani melalui infaq ke BSI 7305361725 a.n. Sekretariat PB STII.













