Merapah.com – Hati yang keras membuat seseorang sulit menerima kebenaran. Ia menolak nasihat meski datang dengan cara baik. Padahal Islam menempatkan nasihat sebagai inti ajaran.
Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum muslimin.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Sahih Muslim nomor 55. Hadis tersebut menegaskan posisi nasihat dalam kehidupan beragama.
BACA JUGA: Qana’ah dalam Islam: Makna Hidup Cukup yang Membentuk Ketenangan
Nasihat adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial. Namun banyak orang justru tersinggung. Ego sering menutup pintu hati.
Perasaan merasa benar mengalahkan keinginan memperbaiki diri. Sikap ini membuat nasihat terdengar seperti serangan. Padahal niatnya sering kali untuk kebaikan.
Hati yang Lembut dan Tanda Kebaikan
Rasulullah mengingatkan pentingnya kelembutan dalam bersikap. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan.” Hadis ini tercantum dalam Sahih Bukhari nomor 6927 dan Sahih Muslim nomor 2165.
Kelembutan membuka ruang dialog. Lalu kelembutan meredam amarah. Kelembutan juga memudahkan hati menerima kebenaran.
Orang yang lembut tidak merasa terancam oleh nasihat. Ia melihatnya sebagai cermin diri. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki kekurangan.
Sebaliknya, hati yang keras cenderung defensif. Ia sibuk membela diri daripada mendengar. Ia menilai nasihat sebagai serangan pribadi.
Padahal sikap terbuka menunjukkan kedewasaan spiritual. Sikap itu juga mencerminkan kekuatan karakter.
BACA JUGA: Mencari Nafkah Adalah Jihad: Nasihat Islam untuk Pekerja yang Lelah
Muhasabah sebagai Jalan Membuka Hati
Islam mendorong umatnya melakukan evaluasi diri. Umar bin Khattab pernah berkata, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Pesan ini mengajarkan pentingnya introspeksi sebelum menilai orang lain.
Muhasabah membantu seseorang melihat kekurangan secara jujur. Ia mengurangi dorongan menyalahkan pihak lain. Ia menumbuhkan kesadaran untuk berubah.
Rasulullah juga bersabda, “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat.” “Orang kuat adalah yang mampu menahan marah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Sahih Bukhari nomor 6114 dan Sahih Muslim nomor 2609.
Karena itu, kemampuan menahan marah berperan besar saat seseorang menerima nasihat. Emosi yang stabil membantu akal berpikir jernih dan memahami maksud baik orang lain.
BACA JUGA: Keutamaan Hari Jumat Menjadi Waktu Paling Mulia dalam Syariat Islam
Oleh sebab itu, melembutkan hati tidak terjadi secara instan. Proses ini menuntut latihan dan kesadaran yang terus menerus agar setiap pesan menjadi peluang memperbaiki diri.
Pada akhirnya, hati yang lembut akan membentuk pribadi yang lebih matang. Seseorang tidak lagi alergi terhadap kritik dan menjadikan nasihat sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah.













