Pilkada adalah momen demokrasi yang membawa harapan dan euforia, namun tak jarang menyisakan luka sosial yang mendalam. Di balik dinamika kampanye dan perdebatan politik yang intens, Pilkada bisa memperburuk polarisasi sosial, yang mengancam keharmonisan masyarakat. Ini menjadi tantangan sosial yang harus dipecahkan bersama.
Setelah Pilkada selesai, tantangan utama adalah bagaimana merajut kembali persatuan yang terkoyak oleh perbedaan pilihan politik. Di sinilah ujian sebenarnya bagi pemimpin terpilih dan masyarakat untuk membangun kembali ikatan yang kuat.
Ketika Pilkada berlangsung, masyarakat seringkali terbagi dalam mendukung calon yang berbeda. Kampanye yang penuh warna dan debat yang sengit di ruang publik maupun di media sosial menciptakan atmosfer politik yang sangat intens.
Namun, dalam suasana ini, perbedaan pilihan politik sering kali dipolitisasi menjadi lebih besar daripada sekadar masalah pilihan calon. Tantangan sosial muncul. Seperti isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) sering muncul, memperburuk ketegangan dan memperdalam perpecahan hingga dapat menyebabkan konflik horizontal.
Saling tuduh dan saling menyerang antara pendukung calon yang berbeda dapat mengarah pada perpecahan yang lebih jauh. Hasilnya, masyarakat yang seharusnya hidup rukun dan damai, malah terbelah dalam beberapa kubu.
Pecahkan Tantangan Sosial untuk Satukan Masyarakat
Pascapilkada, meski proses demokrasi telah selesai, tantangan untuk menyatukan kembali masyarakat yang terpecah itu tetap ada. Mereka yang kalah merasa kecewa dan seringkali merasa terpinggirkan, sedangkan mereka yang menang merasa kemenangan itu adalah bukti kebenaran pilihan mereka.
Ketegangan ini menjadi hambatan dalam menciptakan persatuan sosial. Pemimpin yang terpilih, yang seharusnya menjadi simbol persatuan, kini harus bekerja keras untuk mengatasi polarisasi yang telah terjadi. Tidak hanya untuk mengayomi mereka yang memilihnya, tetapi juga merangkul mereka yang tidak mendukungnya.
BACA JUGA: Pengaruh Pariwisata Terhadap Perekonomian Daerah: Cara Mengelola Potensi dan Mengatasi Tantangan Sosial Budaya
Pemimpin yang berhasil merajut kembali persatuan adalah pemimpin yang mampu melihat perbedaan politik sebagai sesuatu wajar. Mereka harus bisa menunjukkan sikap inklusif, mendengarkan mereka yang tidak memilihnya, dan memastikan kebijakan yang diambil mencakup semua pihak.
Kemenangan dalam Pilkada bukan hanya tentang memegang tampuk kekuasaan, tetapi tentang menjalin hubungan yang lebih kuat dengan masyarakat dari segala lapisan. Kepemimpinan yang bijak bukan hanya untuk mereka yang mendukung, tetapi juga untuk mereka yang merasa kalah dan kecewa. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu mempersatukan perbedaan dan membangun jembatan antara yang terpisah.
Masyarakat Harus Berperan Aktif
Namun, tantangan besar dalam merajut persatuan pasca Pilkada bukan hanya terletak pada pemimpin. Masyarakat juga harus berperan aktif dalam membangun kembali keharmonisan sosial. Masyarakat yang sudah terpecah karena pilihan politik harus belajar untuk kembali menghargai keberagaman.
Keberagaman adalah kekuatan yang seharusnya dipelihara, bukan dianggap sebagai sumber perpecahan. Setelah Pilkada, masyarakat perlu diberi ruang untuk berdialog, berbagi pandangan, dan mendiskusikan bagaimana melangkah maju bersama.
Dialog yang terbuka dan jujur memungkinkan masyarakat untuk saling memahami perasaan masing-masing. Ketika masyarakat mendengarkan dengan hati yang terbuka, mereka akan menyadari bahwa perbedaan adalah hal yang wajar dan bukan ancaman.
Perlu Kebijakan Inklusif Jawab Tantangan Sosial
Selain itu, kebijakan yang inklusif sangat penting untuk menciptakan rekonsiliasi pasca Pilkada. Pemimpin harus memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya menguntungkan kelompok yang mendukung mereka, tetapi juga mereka yang tidak memilihnya.
Hal ini akan memperkecil ketidakpuasan di masyarakat dan mengurangi ketegangan. Pemimpin harus berusaha untuk merangkul semua elemen masyarakat, dengan menjadikan mereka bagian dari proses pembangunan. Dengan demikian, masyarakat merasa dilibatkan dan dihargai, yang pada gilirannya akan mengurangi potensi perpecahan.
Ingatkan Tentang Tujuan Utama Pilkada
Pascapilkada juga saat yang tepat untuk mengingatkan masyarakat tentang tujuan utama Pilkada: menciptakan daerah yang lebih baik. Meskipun terdapat perbedaan dalam pilihan politik, semua pihak pada akhirnya menginginkan kemajuan bersama. Untuk itu, penting untuk memupuk rasa kebersamaan dan gotong royong di masyarakat.
Semua pihak harus diingatkan bahwa kemajuan daerah tidak bisa dicapai oleh satu kelompok saja, melainkan harus melibatkan seluruh elemen masyarakat, terlepas dari perbedaan politik mereka. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan perubahan positif, dan mereka yang merasa kalah dalam Pilkada pun harus diberi kesempatan untuk berkontribusi.
Menghadapi tantangan pasca Pilkada juga berarti mengakui perasaan kecewa dan marah dari mereka yang kalah. Perasaan ini sangat manusiawi dan harus dihargai. Kekalahan dalam Pilkada bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari tanggung jawab untuk bekerja bersama demi kemajuan daerah.
Pemimpin yang bijaksana harus mampu mengubah rasa kecewa ini menjadi energi positif, dengan memberikan ruang bagi mereka yang kalah untuk berperan dalam pembangunan. Jika mereka yang kalah merasa dilibatkan dan dihargai, mereka akan lebih mudah menerima kenyataan dan berkolaborasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.
Pada akhirnya, merajut kembali persatuan pasca Pilkada adalah tugas bersama. Pemimpin, masyarakat, dan semua elemen terkait harus saling mendukung untuk menciptakan daerah yang lebih baik.
Satukan Tujuan
Proses ini memang tidak mudah, tetapi dengan kesabaran, dialog yang terbuka, dan kebijakan yang inklusif, perbedaan yang semula menjadi jurang pemisah bisa berubah menjadi jembatan yang menghubungkan kita. Kita harus meyakini bahwa meskipun kita berbeda dalam politik, kita tetap satu dalam tujuan untuk membangun daerah bersama-sama ke arah yang lebih baik.
Pascapilkada adalah waktu yang tepat untuk menatap masa depan dengan optimisme dan kebersamaan. Kita harus melangkah maju, mengatasi polarisasi, dan membangun daerah yang lebih inklusif, adil, dan harmonis.
Keberagaman adalah kekuatan yang harus dipelihara dan dihargai. Dengan komitmen bersama untuk menjaga persatuan, kita dapat mewujudkan perubahan yang lebih baik bagi daerah dan bangsa.
Penulis:
Irsad Munawir, M.Si | Dosen Administrasi Publik Fisip
Universitas Sriwijaya













