Di Kampung Kurumkim yang terpencil, jauh dari kota, hiduplah seorang anak bernama Sani Ngep bersama kedua kakaknya. Penduduk kampung ini sedikit, namun mereka hidup berdampingan dengan penuh kebersamaan. Aku akan mewujudkan mimpi dari ujung Papua.
Sejak kecil, Sani memiliki mimpi besar: melanjutkan pendidikan hingga ke luar Papua. Mimpi itu selalu ia genggam erat meskipun hidup penuh tantangan, terutama setelah ibunya meninggal dunia akibat penyakit misterius yang tak terdiagnosis.
Kedua kakaknya, yang penuh kasih sayang, berperan sebagai orang tua bagi Sani. Mereka merawat dan mendukungnya sepenuh hati. Berkat perhatian mereka, Sani tumbuh menjadi anak yang ceria dan penuh semangat, meskipun hidup sederhana.
Sani memulai pendidikannya di SD Inpres Iwur, sekolah kecil di kampungnya. Namun, letak kampung yang terpencil menyebabkan banyak guru kesulitan mengajar dengan konsisten. Beberapa bahkan berhenti karena jauhnya perjalanan.
Meski demikian, Sani tetap tekun menimba ilmu, walaupun harus berjalan jauh setiap hari.
Ketika duduk di kelas lima, Sani bersahabat dengan seorang gadis bernama Ferona. Persahabatan mereka sangat erat hingga tanpa disadari, perasaan berbeda mulai tumbuh di hati masing-masing. Namun, rasa malu dan takut merusak persahabatan membuat mereka memilih memendam perasaan itu.
Saat Sani naik ke kelas enam, ia mulai memikirkan masa depan dengan serius. Dukungan kakaknya yang penuh kasih, terutama kakaknya yang perempuan, menjadi penyemangatnya. Meskipun keterbatasan finansial menjadi hambatan, Sani bertekad melanjutkan pendidikan sejauh mungkin.
Ia tahu bahwa di kampungnya, hanya sedikit anak yang mampu melanjutkan pendidikan setelah SMP, apalagi ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, Sani percaya bahwa ia bisa menjadi pengecualian.
Beasiswa Misterius
Pada suatu sore di bulan Juli, kabar mengejutkan datang. Setelah pulang dari ladang bersama kakaknya, mereka sedang beristirahat saat paman mereka yang tinggal di kota datang dengan kabar penting.
Paman itu menginformasikan bahwa Sani mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Bali!
Kabar ini mengejutkan seluruh kampung.
Belum pernah ada siswa dari Kampung Kurumkim yang mendapat kesempatan seperti itu. Beasiswa tersebut bahkan dijuluki “beasiswa misterius” karena asal-usulnya yang tidak jelas, seolah datang sebagai jawaban doa dari langit.
Perasaan bahagia dan berat bercampur dalam hati Sani. Ia merasa bersyukur atas kesempatan ini, namun tak bisa melupakan teman-teman dan Ferona.
Dalam hatinya, ia berjanji akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Dengan dukungan penuh dari kakaknya, Sani akhirnya memutuskan untuk berangkat.
Memulai Petualangan dari Ujung Papua
Hari keberangkatan Sani tiba dengan suasana haru. Ia meninggalkan kampung halamannya, kakak-kakaknya, dan Ferona, gadis yang diam-diam telah mengisi hatinya. Kepergiannya berlangsung mendadak, tanpa sempat berpamitan kepada banyak orang. Ketika kabar ini sampai ke telinga Ferona, ia merasa sangat terpukul dan kehilangan.
Hari-hari berlalu, tetapi rasa sedih Ferona tak kunjung mereda. Ia menjadi lebih pendiam dan menutup diri. Beberapa tahun kemudian, orang tua Ferona memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang pria dari kampung tetangga.
Meski hatinya masih terikat pada kenangan bersama Sani, Ferona menerima keputusan itu dengan berat hati, menyembunyikan perasaan terdalamnya.
Di Bali, Sani menghadapi berbagai tantangan dalam pendidikannya. Ia selalu merindukan kampung halamannya, kakaknya, dan Ferona. Kenangan masa kecil mereka menjadi penyemangat di saat-saat sulit. Dalam hatinya, Sani bertekad untuk kembali suatu hari nanti dan mengabdi pada kampung tercintanya.
Namun, waktu terus berjalan, dan takdir membawa Sani dan Ferona ke jalan yang berbeda. Meski terpisah oleh jarak dan keadaan, kenangan indah masa kecil tetap hidup dalam hati mereka, seperti bintang yang jauh namun selalu bersinar terang.













