Merapah.com — Secara naluriah, manusia selalu berusaha bertahan hidup. Setelah mampu bertahan, ia ingin berkembang, itulah naluri. Setelah berkembang, ia ingin menguasai hal-hal yang belum ia miliki. Ambisi itu wajar. Sampai akhirnya berubah menjadi cermin dari sebuah perusahaan yang kehilangan kepercayaan antara pimpinan, manajer, bawahan, dan antardepartemen.
Tidak berlebihan jika kita analogikan, bahwa perusahaan itu, ibarat kapal pesiar megah. Setiap dek harus diisi orang-orang profesional agar para pelanggan merasa aman menikmati perjalanan. Idealnya, kapal ini menjadi pusat kepercayaan, tempat orang menginvestasikan dana dan harapan mereka.
Namun apa jadinya ketika kapal pesiar itu mulai goyah? Ada kebocoran kecil di lambung kapal, dibiarkan bertahun-tahun tanpa perbaikan. Korosi, hantaman arus, dan kelalaian perlahan mengubah kebocoran kecil menjadi jurang menganga. Air masuk tanpa ampun. Kondisinya semakin kronis, sampai para ahli sekalipun tak mampu menahan kerusakan itu. Mereka mencoba memperbaiki, tetapi taruhannya adalah nyawa.
Akhirnya, semua orang pasrah.
Pasrah dan sebagian lagi mengambil jalan pintar. Mereka yang paling culas mulai menguasai sekoci. Diam-diam, mereka memastikan jalur pelarian aman, terjaga, dan hanya untuk mereka sendiri jika kapal benar-benar tenggelam. Biasanya yang paling dulu mengamankan sekoci adalah para petinggi yang selama ini lihai bermain kuasa.
BACA JUGA: Cerpen: Sendiri Tapi Kuat
Di level menengah, manajer-manajer mulai menengok ke kejauhan. Mereka berharap ada mercusuar yang memberi sinyal keselamatan, atau pelabuhan yang bersedia menerima kapal yang hampir karam ini. Di tengah tekanan, naluri mereka harus tetap memikirkan bagaimana menyelamatkan aset, penumpang, dan sisa-sisa kru yang masih loyal.
Sementara di level bawah, sebagian kecil juga tergoda melakukan kecurangan. Mereka menawarkan “jasa penyelamatan” kepada pelanggan yang sudah mencium aroma bahaya. Intinya, setiap orang berusaha mengambil untung dari kapal yang perlahan-lahan karam.
Ketika atas dan bawah sibuk memikirkan diri sendiri, justru posisi menengah harus berlari ke segala arah—memadamkan api, menutup lubang, menggiring kru, menenangkan penumpang, dan tetap berhadapan dengan tekanan atasan yang tak mau mengaku bahwa lambung kapal sudah berlubang.
Pertanyaannya, bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap saat kapal karam?
Pemimpin sejati adalah orang yang seharusnya tenggelam paling akhir. Setelah memastikan seluruh penumpang dan anak buahnya selamat. Namun kini, banyak pemimpin justru berlomba menyelamatkan diri pertama kali, meninggalkan kapal, kru, dan semua orang yang pernah mempercayakan hidup kepadanya.
Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan itu sederhana, jika kapalnya selamat, dia layak kita panggil pemimpin. Jika kapalnya tenggelam dan dia yang lebih dulu kabur, ia hanya penumpang yang kebetulan duduk di kursi kapten.













