Di Negeri Mandang, standar hidup ditentukan oleh rupa. Wajah tampan dan tubuh sempurna adalah segalanya. Mereka yang memenuhi kriteria itu hidup di puncak kejayaan, disanjung dan dikelilingi banyak orang. Sementara itu, yang dianggap tidak menarik, seperti Bintang, harus menerima kenyataan pahit: dilupakan, diabaikan, dan dianggap tidak pernah ada. Negeri mandang.
Konflik Mulai Muncul
Bintang tumbuh menjadi pria yang baik hati, pekerja keras, dan penuh empati. Namun, semua usahanya tak berarti di mata orang-orang Negeri Mandang. Sejak kecil hingga dewasa, tidak ada satu pun perempuan yang mau mendekatinya. Ia selalu dianggap angin lalu, bahkan saat ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya layak dicintai bukan karena rupa, tetapi karena hatinya.
Hingga suatu hari di bangku kuliah, ia jatuh hati pada seorang perempuan bernama Aurora. Aurora adalah gadis yang selalu bersinar, berwajah sempurna seperti dewi, dan dikelilingi banyak pria tampan. Bintang tahu bahwa harapannya kecil, tapi entah mengapa, ia merasa harus mencoba.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan bertahun-tahun, ia mendekati Aurora setelah kelas selesai.
“Aurora, bolehkah aku bicara sebentar?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.
Aurora menoleh, bola matanya sejenak bertemu dengan Bintang, lalu seketika itu pula ia mengerutkan kening.
“Kamu siapa?” tanyanya datar.
Bintang terdiam. Hatinya seperti tertusuk. Mereka satu kelas selama dua tahun, tapi Aurora bahkan tidak tahu namanya.
“Aku… Bintang. Kita sudah satu kelas sejak semester pertama.”
Aurora menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil. “Oh, maaf. Aku tidak terlalu memperhatikan orang yang… ya, begitulah.”
Bintang tahu maksudnya. Ia tahu, dan itu menyakitkan.
“Aku hanya ingin mengenalmu lebih baik,” kata Bintang, tetap berusaha tersenyum meskipun hatinya terasa seperti dihancurkan berkali-kali.
Aurora tersenyum tipis, tetapi bukan senyum ramah—lebih seperti senyum kasihan. “Bintang, kamu baik, aku yakin. Tapi kamu tahu kan bagaimana dunia ini bekerja? Aku tidak bisa. Maaf.”
Setelah berkata demikian, Aurora melangkah pergi, meninggalkan Bintang dengan perasaan yang campur aduk antara sakit hati, kecewa, dan amarah yang terpendam.
Puncak Masalah di Negeri Mandang
Malam itu, Bintang duduk di ranjangnya, menatap langit malam melalui jendela kamar. Bulan bersinar terang, seolah ingin menghiburnya, tapi ia tetap merasa kosong.
“Apa aku memang tidak layak untuk dicintai?” gumamnya lirih.
BACA JUGA: Cerpen: Dinginnya Lantai dan Penghargaan yang Terlupakan
Kata-kata Aurora terus terngiang di kepalanya. Ia bukan sekadar ditolak, tetapi diremehkan. Seakan-akan keberadaannya tidak penting. Seakan-akan takdir telah mengutuknya untuk selamanya menjadi bayangan di dunia ini.
Air matanya mengalir. Ia tidak pernah menangis sebelumnya, tetapi kali ini, ia tidak bisa menahannya lagi.
Ia menggenggam erat selimutnya, menahan isakan yang mulai pecah di dadanya.
“Mengapa dunia ini begitu kejam?”
Di Negeri Mandang, seseorang seperti dirinya tidak akan pernah dihargai. Tidak peduli seberapa keras ia berjuang, seberapa tulus hatinya, atau seberapa besar ia mencintai seseorang—semua itu tidak ada artinya jika wajahnya tidak sesuai dengan standar mereka.
Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang dingin, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bintang merasa benar-benar sendirian.













