Merapah.com, Bandar Lampung— Di tengah tekanan efisiensi anggaran pendidikan yang hampir mencapai separuh, BGTK Lampung tetap menjalankan program peningkatan kompetensi guru secara konsisten.
Upaya ini dijalankan melalui pendekatan kolaboratif dengan pemerintah daerah agar pelatihan menjangkau lebih banyak guru di seluruh Provinsi Lampung.
Meskipun sumber daya terbatas, BGTK memastikan program tetap berkualitas melalui strategi inovatif yang melibatkan narasumber profesional dan mekanisme daring.
Pendekatan ini tidak hanya mengefisienkan anggaran, tetapi juga memperluas kesempatan bagi guru dari semua kabupaten dan kota untuk mengikuti pelatihan.
BACA JUGA: Pemetaan Kompetensi Guru Jadi Strategi BGTK Lampung Tingkatkan Mutu
Kolaborasi sebagai Solusi Efisiensi
Kepala BGTK Lampung, Hendra Apriawan, mengatakan mengandalkan APBN saja tidak cukup untuk melatih seluruh guru di provinsi.
“Kalau hanya mengandalkan APBN, jumlah guru yang bisa kami latih sangat terbatas. Karena itu, sejak September kami mulai menerapkan pola kolaborasi,” jelas Hendra.
Melalui pola kolaborasi, BGTK Lampung bekerja sama dengan Dinas Pendidikan kabupaten/kota. BGTK menghadirkan narasumber, sementara Dinas Pendidikan menerbitkan surat tugas bagi peserta.
Penyelenggara pelatihan tidak memberikan honor, uang harian, atau biaya transportasi, tetapi menyediakan konsumsi bagi peserta.
BACA JUGA: BGTK Lampung Meriahkan Hari Guru dengan Parade Baju Adat
Pelatihan Fleksibel dan Terjangkau
Penyelenggara melaksanakan pelatihan dengan dua pola: mengundang peserta ke Bandar Lampung atau kantor BGTK, serta mengadakan pelatihan langsung di kabupaten/kota.
Selain itu, BGTK membuka pelatihan daring agar semua guru memiliki kesempatan mendaftar.

Panitia memilih peserta berdasarkan kecepatan pendaftaran dan keterwakilan wilayah, sehingga setiap kabupaten/kota memiliki perwakilan.
“Kami pastikan tidak selalu orang yang sama yang ikut pelatihan. Semua daerah harus punya perwakilan,” ujar Hendra.
Hasil dan Dampak Program Kolaboratif
Beberapa pelatihan yang telah dilaksanakan meliputi pelatihan membaca lantang dan pelatihan memori PAUD.
Setiap kabupaten/kota mengirim sekitar 30 peserta, sehingga hampir 900 guru telah mendapatkan pelatihan.
Program kolaboratif ini rencananya akan terus dilanjutkan pada 2026 sebagai solusi efektif di tengah keterbatasan anggaran.
“Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa peningkatan kompetensi guru adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya BGTK,” tegas Hendra.
Langkah kolaboratif ini menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukan penghalang bagi upaya peningkatan mutu pendidikan.
BACA JUGA: Strategi Belajar Menjelang Ujian agar Lebih Efektif: 10 Tips Ampuh
Pendekatan berbasis kerja sama ini mendorong kesadaran bersama bahwa pengembangan kompetensi guru adalah tanggung jawab semua pihak, bukan hanya BGTK.
BGTK Lampung mengharapkan strategi kolaboratif ini menjadi model bagi pelatihan guru di daerah lain sekaligus memperkuat kualitas pembelajaran di seluruh provinsi.
Dengan konsistensi dan komitmen tersebut, peningkatan kompetensi guru di Lampung dapat berlangsung merata, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi generasi penerus.













