Oleh: Agus Kristiyanto (Guru Besar Sport Policy FKOR dan Dosen Prodi S3 Penyuluhan Pembangunan)
Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dewan Penasihat KORMINAS.
PEMBANGUNAN olahraga yang berkelanjutan menjadi sebuah tantangan baru yang strategis dalam semesta proses pembangunan yang berkelanjutan. Di samping memiliki tantangan spesifik tersendiri, pembangunan olahraga memiliki peluang ganda. Peluang pertama, secara internal, olahraga memiliki fungsi “reservoir” sistemik yang bertumbuh berkelanjutan dalam ‘”membuncahkan” tujuan olahraga secara multilingkup paripurna. Peluang kedua, menjadikan olahraga sebagai pemantik (trigger) dari capaian keberlanjutan program global, yakni Sustainable Development Goals (SDGs).
Deklarasi SDGs telah ditetapkan oleh PBB untuk Tahun 2015-2030. Diperlukan reformulasi dan strategi baru untuk mewujudkan target SDGs. Pasalnya, secara global, besar kemungkinan target tidak tercapai di Tahun 2030. Setidaknya hal tersebut telah disampaikan oleh Sekjen PBB, Antonio Gutteres pada Sidang Umum PBB 2024. Bahkan, diperlukan waktu ekstra 42 tahun lagi untuk mewujudkannya, jika tidak ada inisiatif baru. Bagaimana dengan nilai kontributif olahraga untuk keberlanjutan, baik dalam perspektif internal maupun sebagai trigger capaian SDGs?
BACA JUGA: Pembudayaan Olahraga dalam Perspektif DBON dan Pembangunan Berkelanjutan
Mindset Bertumbuh pada Masyarakat
Menyandingkan olahraga dengan keberlanjutan, tak bisa dipisahkan dengan mengundang peran strategis masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dalam dimensi olahraga yang komprehensif. Masyarakat (UU Nomor 11/2022) yang dimaksudkan adalah orang perseorangan warga negara Indonesia, kelompok masyarakat, dan/ atau organisasi kemasyarakatan yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang keolahragaan. Sedangkan komprehensif yang dimaksudkan adalah me-mindset-kan olahraga dalam pengertian utuh meliputi cakupan lingkup olahraga pendidikan, olahraga prestasi, dan olahraga masyarakat.
Pertama, pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah konsep “pembangunan ekonomi” yang merangkum aneka nilai sosial. Konsep tersebut merefleksikan paradigma baru pembangunan, yang bersifat “people-centered, participatory, empowering, and sustainable“. Pendekataan pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada manusia (people-centered development) melandasi mindset bertumbuh (Growth mindset) pengelolaan sumber daya lokal, keperilakuan perseorangan maupun kolektif. Berdasarkan Teori Belajar Sosial (Bandura, 2017) bahwa manusia dan lingkungan keduanya merupakan faktor dominan dan determinan yang berinteraksi membentuk wujud perubahan. Olahraga menghubungkan orientasi berprestasi, kesehatan, lingkungan, kohesivitas sosial, dan pertumbuhan ekonomi.
BACA JUGA: Roadmap Olahraga Lampung Dibahas dalam FGD DOD KONI
Kedua, secara umum tujuan yang ingin dicapai dari proses pemberdayaan adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengaktualisasikan dirinya. Pemberdayaan pada intinya ditujukan untuk memberikan daya pengambilan keputusan, termasuk mengurangi efek hambatan yang bersifat pribadi maupun sosial dalam melakukan tindakan. Hal yang dilakukan dalam pemberdayaan, melalui proses dan fase percaya diri dalam mengembangkan daya yang dimiliki dipadukan dengan trasfer daya dari lingkungannya. Pemberdayaan memiliki unsur utama: kemandirian, partisipasi, jaringan kerja, dan pemerataan akses dalam olahraga.
Ketiga, pemberdayaan masyarakat pada lingkup olahraga masyarakat merupakan bagian integral dari orientasi pemberdayaan masyarakat dan pembangunan masyarakat yang bersifat multidimensional berkelanjutan. Lingkup olahraga masyarakat adalah olahraga yang dilakukan oleh masyarakat berdasarkan kegemaran dan kemampuan yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat yang dilakukan secara terus-menerus (baca: berkelanjutan) untuk kesehatan, kebugaran, dan kegembiraan. Membangun relasi sosial, pelestarian budaya, serta berbagai multiplier effect untuk akselerasi pembangunan.
Keempat, pemberdayaan pada lingkup olahraga prestasi menyangkut pada kebutuhan “komunitas spesifik”. Lingkup olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan olahragawan secara terencana, sistematis, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan. Keberlanjutan diarahkan pada capaian prestasi dan daya saing yang mengundang komponen masyarakat yang berminat, berbakat, dan bertalenta olahraga melalui penguatan peran organisasi, sentra olahraga, dan penetapan standar yang ketat. Tentu saja juga memerlukan dukunangan penganggaran yang memadai.
Kelima, pemberdayaan melalui lingkup olahraga pendidikan bersifat lebih luas dan mendasar. Olahraga dalam lingkup ini dijadikan sebagai alat utama pendidikan sepanjang hayat. Prinsip “life long learning, life long training” menggarisbawahi bahwa olahraga pendidikan memang memiliki karakter berkelanjutan. Persoalannya adalah bagaimana peran strategis yang harusnya dimainkan oleh masyarakat agar olahraga pendidikan memiliki maruah yang membaik dari masa ke masa. Mindset bertumbuh diperlukan untuk membangun keyakinan kolektif dalam mewujudkan masa depan olahraga pendidikan yang makin cemerlang.
BACA JUGA: BSN KC Bandar Lampung Gelar Friendly Match Mini Soccer Bersama PT Pelabuhan Bukit Prima
Pemantik Capaian SDGs
Dalam tataran global, penempatan olahraga sebagai pemantik capaian SDGs, sebenarnya sudah menjadi resolusi PBB, tepatnya telah tertuang dalam United Nations Resolution 58/5 paragraph 7th 2003. Intinya bahwa olahraga itu memiliki makna untuk memromosikan pendidikan, kesehatan, perdamaian, dan pembangunan. Hal tersebut sangat relevan dengan tujuan inti SDGs yakni: pelestarian lingkungan hidup, ketahanan sosial, kualitas pendidikan, serta penguatan ekonomi.
Dalam kesepakatan multilateral pun. pada tahun 2017 beberapa menteri yang membidangi urusan pembangunan olahraga dari berbagai negara persemakmuran, telah berhasil mendeklarasikan “Rencana Aksi Kazan”. Kazan adalah kota penting yang terletak di wilayah Rusia yang merupakan pusat industri, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan. Para delegasi sepakat untuk menuangkan Action Plan yang sekaligus menuangkan sisi relevan pembangunan olahraga untuk indikator capaian SDGs. Bahkan, Action Plan tersebut pada tahun 2018 telah di-highlight oleh UNESCO.
Pertama, berkaitan dengan isu lingkungan, olahraga berperan dalam memerangi perubahan iklim dan dampaknya (SDGs 13). Event olahraga berskala besar dapat digunakan untuk menghasilkan peluang menyegarkan infrastruktur kuno, meningkatkan transportasi umum dan mendesain kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan. Event olahraga sebagai bagian dari strategi menyeluruh untuk menciptakan warisan melalui perbaikan infrastruktur, industri dan pariwisata berkelanjutan (SDGs 12.b) Program olahraga dapat memperluas penyebaran informasi dan promosi tanggung jawab lingkungan (SDGs 12.6).
BACA JUGA: Cedera Jangan Asal Urut, Ini Layanan Profesional Fitzone Sport Massage Lampung
Kedua, ketahanan sosial dan kohesivitas sosial tercermin dari bagaimana olahraga membangun perdamaian. Penguatan partisipasi olahraga terbukti berkontribusi untuk mengurangi angka ‘kematian dini akibat penyakit tidak menular’, menekan beaya kesehatan akibat “kemiskinan gerak” (SDGs 3.4). Olahraga menyumbang peningkatan kesehatan psikologis dan sosial, serta pencegahan dan penyalahgunaan obat-obatan (SDGs 3.5). Olahraga menjadi leading sector pendidikan berkualitas yang inklusif serta memromosikan pembelajaran sepanjang hayat (SDGs 4). Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan dan anak melalui olahraga (SDGs 5). Menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak dalam olahraga mengedepankan perdamaian (SDG 5.2, 5.3).
Ketiga, olahraga memromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan secara inklusif. Dinamis dalam penyediaan pekerjaan produktif yang layak untuk semua (SDGs 8). Kontribusi olahraga terhadap pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja hingga 1 persen dari PDB global. Perkembangannya dapat berkontribusi pada penyediaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Memaksimalkan potensi wisata olahraga (Sport tourism) menjadi bagian dari fungsi pengolah ranah ekonomi olahraga (SDGs 8.2). Peluang sektor industri olahraga, menantang untuk pelatihan kewirausahaan olahraga (SDGs 8.5, 8.6).
Pembangunan olahraga memiliki relevansi yang tinggi dengan esensi keberlanjutan (Sustainable). Selama ini masyarakat sudah sangat familiar dengan aneka jargon : “olahraga sepanjang hayat”, “tiada hari tanpa olahraga”, “olahraga untuk semua”, dan sebagainya. Ke depan diperlukan formulasi strategis untuk membumikan olahraga “sebagai wilayah layanan publik”. Pemberdayaan masyarakat menjadi program yang sangat vital. Diperlukan aneka intervensi kebijakan untuk memberikan pemerataan akses masyarakat dalam berolahraga. Setiap daerah (provinsi/kabupaten/kota) tentu memiliki cara dan prioritas unik dalam mewujudkannya. Diperlukan Mindset bertumbuh (Growth mindset) untuk mengubah mimpi-mimpi menjadi kenyataan.*****













