Merapah.com – Banyak mahasiswa rajin belajar, tetapi kesulitan mempertahankan fokus dan konsistensi akademik. Masalah utama sering muncul dari pengelolaan pengetahuan yang tidak terstruktur.
Kondisi inilah yang mendorong Balik Lampung Community mengangkat topik Personal Knowledge Management System (PKMS) dalam program #BLCendekia.
Digelar secara daring pada Minggu, 21 Desember 2025, pukul 13.00 WIB hingga selesai melalui Zoom Meeting.
Kegiatan yang berlangsung secara daring ini membahas bagaimana sistem digital mampu membantu mahasiswa mencapai IPK optimal melalui manajemen pengetahuan personal yang terencana.
BACA JUGA: Magang Kemnaker 2025 Dibuka, Pemerintah Siapkan Insentif Rp3,3 Juta
Memahami Manajemen Pengetahuan Personal untuk Akademik
Pemateri kegiatan, Listiyani Siti Romlah, menjelaskan bahwa PKMS berfungsi sebagai sistem berpikir yang tertata.
Mahasiswa tidak hanya menyimpan catatan, tetapi juga mengelola, menghubungkan, dan mengembangkan ide secara berkelanjutan.

Ia menekankan bahwa manajemen pengetahuan personal mencakup pengelolaan catatan kuliah dan referensi akademik.
Selain itu, mahasiswa perlu menghubungkan ide dan konsep lintas mata kuliah agar pemahaman menjadi lebih mendalam.
“Mahasiswa cerdas akan belajar untuk bisa menyusun timeline nya dengan baik, mampu mengorganisir dan menggunakan kembali pengetahuannya,” ujar Listiyani dalam sesi pemaparan.
BACA JUGA: Strategi Belajar Menjelang Ujian agar Lebih Efektif: 10 Tips Ampuh
Strategi Organisasi Digital yang Relevan dan Aplikatif
Listiyani menjelaskan strategi organisasi digital yang mudah diterapkan mahasiswa.
Pemateri juga menganjurkan mahasiswa menggunakan folder terstruktur untuk membedakan mata kuliah dan topik.

Selain itu, ia menekankan pemanfaatan cloud storage agar akses materi tetap fleksibel dan aman.
Aplikasi catatan digital menjadi alat utama untuk menghubungkan ide dan konsep. Dengan sistem ini, mahasiswa dapat membangun alur berpikir yang konsisten sepanjang perkuliahan.
Tujuan Pembelajaran dan Dampaknya terhadap IPK
PKMS tidak hanya bertujuan merapikan dokumen akademik. Sistem ini membantu mahasiswa memahami materi kuliah secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Mahasiswa yang mengelola informasi secara rapi dapat menjalani proses belajar lebih efektif dan mudah menelusuri materi.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi. Salah satu mahasiswa, Afira dari UIN B Padang, menanyakan keterkaitan IPK dengan kesiapan kerja setelah lulus.
“Apakah IPK maksimal saat lulus berpengaruh terhadap pekerjaan setelah kuliah?” tanyanya.
Menanggapi hal tersebut, Listiyani menjelaskan bahwa IPK dan keterampilan harus berjalan berimbang.
Menurutnya, dunia kerja, termasuk HRD, tidak hanya melihat nilai akademik, tetapi juga kemampuan dan kesiapan kerja mahasiswa.
Manajemen pengetahuan yang baik berkontribusi langsung terhadap peningkatan IPK.
BACA JUGA: Cara Mengatur Waktu Kuliah dan Organisasi agar Tetap Seimbang
Eka Sastria, salah satu panitia kegiatan menyatakan bahwa #BLCendekia berfungsi sebagai ruang belajar reflektif.
“Kami ingin peserta membawa pulang sistem berpikir, bukan sekadar catatan materi,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Balik Lampung Community berharap mahasiswa mampu membangun kebiasaan belajar yang adaptif.
Pengelolaan pengetahuan personal menjadi fondasi penting menghadapi tantangan akademik dan profesional masa depan.













