Bandar Lampung (Merapah.com): Teater Kurusetra Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila sukses menggelar pementasan bertajuk “Ritual of Biha” yang menceritakan tradisi dan budaya Lampung.
Acara itu digelar di Balai Rektorat Universitas Lampung, 10 Desember 2024. Kegiatan itu merupakan program Lab Indonesiana: Dapur LTC Inkubasi Talenta Teater Indonesia. Inisiatornya yakni Manajemen Talenta Nasional Bidang Seni Budaya dari Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan.
Pementasan yang berlangsung di tengah hujan gerimis ini berhasil menarik perhatian sekitar 500 penonton. Mereka terdiri dari perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, seniman dan budayawan, alumni UKMBS Unila, mahasiswa, media, hingga masyarakat umum.

Kehadiran hujan justru memperkuat suasana magis dan emosi yang dibangun dalam pertunjukan ini.
BACA JUGA: Cerpen: Mimpi dari Ujung Papua
Menghidupkan Nilai Tradisi Biha
Dalam sambutannya, Ketua Umum UKMBS Unila menyampaikan bahwa Ritual of Biha adalah dedikasi generasi muda untuk melestarikan tradisi dan budaya lokal Lampung.
“Harapannya, nilai-nilai dari Ritual Biha tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga kita hidupkan kembali sebagai jati diri masyarakat Lampung di era modern ini,” ungkapnya.
Gino Vanolie, alumni sekaligus Ketua Umum UKMBS Unila tahun 1991, memberikan apresiasi kepada UKMBS Unila atas pencapaiannya.
“UKMBS Unila telah menjadi perwakilan Lampung dalam program bergengsi ini setelah melalui seleksi ketat dengan ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Dari wilayah Sumatra, hanya empat orang yang terpilih, dan Lentera Dzulkarnain dari UKMBS Unila menjadi salah satunya,” ujarnya.
BACA JUGA: Cerpen: Joging dan Pertemuan yang Tak Terduga
Kisah Ritual Biha dari Pesisir Barat Lampung
Lentera Dzulkarnain, selaku aktor sekaligus kreator, menjelaskan bahwa pementasan ini mengangkat ritual kuno dari Pekon Biha, Pesisir Barat, Lampung. Nama “Biha” sendiri merupakan singkatan dari nama Ghobi (Bi) dan Igha (Ha).
“Sebelum mengenal peradaban Islam, masyarakat Biha pernah mempraktikkan ritual pengorbanan nyawa manusia demi keselamatan dan keberlangsungan hidup mereka. Relasi antara manusia dan alam ini adalah inti dari kisah yang kami angkat dalam pertunjukan ini,” jelas Lentera.
Pementasan ini menampilkan narasi yang kuat dan visual yang memukau. Didukung atmosfer hujan gerimis, penonton diajak dalam perjalanan lintas waktu untuk memahami kekayaan tradisi Biha, mulai dari nilai spiritual hingga hubungan harmoni antara manusia dan alam.
BACA JUGA: Aneka Roti Ambarawa: Pilihan Roti Premium dan Higienis di Pringsewu
Pementasan Sarat Apresiasi
Acara ini mendapatkan apresiasi tinggi dari berbagai kalangan. Para penonton tak hanya terpukau oleh kekuatan cerita, tetapi juga oleh dedikasi tim produksi dalam menggali budaya lokal Lampung yang mulai terlupakan.
Sebagai pementasan teater yang menjadi representasi budaya Lampung di kancah nasional, *Ritual of Biha* membuktikan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi medium efektif untuk menjaga warisan budaya sekaligus mengedukasi masyarakat.
Pementasan Ritual of Biha oleh Teater Kurusetra UKMBS Unila berhasil menjadi pengingat akan pentingnya merawat tradisi lokal. Dengan memadukan seni, budaya, dan edukasi, pertunjukan ini membawa pesan mendalam tentang harmoni manusia dan alam.
Semoga langkah ini menjadi awal dari upaya lebih besar untuk melestarikan kekayaan budaya Lampung bagi generasi mendatang.













