Saya Bukan Orang yang Dia Cari

Saya mengagumi kecantikannya tanpa sepengetahuan dia, bahkan ingin mengetahui banyak hal tentangnya.

cerpen Saya Bukan Orang yang Dia Cari (2)

Oleh: Sani

Merapah.com – Awal mula saya ketemu dia di acara KMK. Entah kenapa perhatian saya tertuju padanya. Dia terlihat cantik, manis, baik, dan juga murah senyum. Bagi saya, dia itu bagaikan pelangi sehabis hujan pada pandangan pertama. Saya mengagumi kecantikannya tanpa sepengetahuan dia, bahkan ingin mengetahui banyak hal tentangnya.

Akan tetapi, karena kita baru kenal, saya pun tidak berani mendekatinya. Ditambah lagi, saya orang yang termasuk introvert yang memang susah bergaul dengan orang lain. Namanya Ana, dia pemilik Danau Toba. Tanpa sengaja saya ketawa ketika melihat dia injak kotoran kucing yang baru saja ditinggalkannya itu, pada saat kita sedang antre isi air minum di lapangan aula yang sering kita mengadakan kegiatan-kegiatan KMK.

“Kenapa kamu ketawa?” tanyanya.

“Kamu tidak sadar kalau kamu itu injak kotoran kucing,” jawab saya.

“Aduh benar kah, kenapa tidak memberi tahu saya dari awal, iih jorok. Titip ya tolong bantu saya isikan air minum, saya mau cuci sandal yang ternodai oleh kotoran yang baru saja ku injak biar tidak bau,” katanya sambil berlalu pergi.

“Okay,” jawab saya.

Semenjak kejadian itu, pertemanan kita dimulai. Kita saling memandang satu sama lain namun tidak langsung melakukan pendekatan karena kita masih canggung mau tegur satu sama lain, sampai acara KMK pun berakhir dan akhirnya kita pulang ke tempat kita masing-masing.

Setelah itu, kita masih berkomunikasi satu sama lain sampai suatu hari saya pun mencoba memberanikan diri untuk ajak dia ketemu.

“Ana makan yuk, mau ga?” tanya saya.

“Boleh tapi saya tidak punya uang,” katanya.

“Tidak papa, saya yang traktir, tapi kita makan nasi goreng ya,” kata saya.

“Tidak papa, okay kalau gitu,” katanya.

Sehabis ngobrol tadi, saya langsung otw naik sepeda ke lokasi yang kita tentukan. Sesampainya di sana, menunggu sembari pesan nasi.

Sesampainya di sana, aku menunggu sembari memesan dua porsi nasi goreng dan es teh manis.

Tanganku sedikit gemetar, bukan karena capek mengayuh sepeda, tapi karena gugup. Entah kenapa setiap mau ketemu dia, jantungku selalu berdetak lebih cepat dari biasanya.

Tak lama kemudian, Ana datang. Dia berjalan pelan sambil tersenyum seperti biasa. Senyum itu… senyum yang pertama kali membuatku memperhatikannya di acara KMK dulu.

“Maaf lama ya,” katanya sambil duduk di depanku.

“Tidak kok, aku juga baru pesan,” jawabku, berusaha terlihat tenang padahal dalam hati sudah seperti drum band.

Kami mulai makan. Awalnya canggung. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Aku ingin bicara banyak hal, ingin tahu tentang hidupnya, keluarganya, mimpinya. Tapi kata-kata seperti macet di tenggorokan.

“Kamu memang pendiam ya?” tanya Ana tiba-tiba.

Aku tersenyum kecil. “Iya… sedikit.”

“Sedikit?” Dia tertawa pelan. “Menurutku banyak.”

Aku ikut tertawa. Entah kenapa bersamanya, aku merasa nyaman walaupun tetap kikuk. Dia bercerita tentang kampung halamannya, tentang keluarganya, tentang betapa rindunya dia pada suasana rumah. Aku hanya mendengarkan, sesekali bertanya. Aku memang bukan tipe laki-laki yang pandai merayu. Tapi aku pandai mendengar.

Hari itu terasa cepat sekali. Setelah makan, kami pulang masing-masing. Tapi sejak hari itu, kami jadi lebih sering bertukar kabar. Chat malam, saling kirim foto kegiatan, kadang saling mengingatkan untuk makan atau istirahat.

Aku mulai merasa ada yang tumbuh dalam hatiku. Bukan sekadar kagum. Lebih dari itu. Suatu malam, setelah lama berpikir, aku memberanikan diri untuk sedikit jujur.

“Ana, boleh aku jujur sesuatu?”

“Jujur apa?” balasnya.

“Aku… nyaman ngobrol sama kamu.”

Dia membalas cukup lama. Jantungku kembali tak karuan.

“Aku juga nyaman kok sama kamu. Kamu baik.”

Jawaban itu membuatku bahagia, tapi sekaligus bingung. “Baik” sering kali menjadi kata yang indah… tapi juga bisa menjadi batas.

Waktu berjalan. Aku semakin berharap. Tapi di saat yang sama, aku mulai sadar sesuatu. Cara dia bercerita tentang masa lalunya.

Tentang seseorang yang pernah mengisi hatinya. Tentang tipe laki-laki yang dia sukai — yang percaya diri, aktif, banyak teman, mudah bergul.