Sekilas Trondheim: Kota Sejarah, Mahasiswa, dan Cahaya Utara

Matalensaku Seri Norwegia 7

Sekilas Trondheim Kota Sejarah, Mahasiswa, dan Cahaya Utara
Kaki mungkin lelah, tetapi memori tentang "Gerbang Kebahagiaan" dan kemegahan Nidaros akan tetap abadi sebelum esok pagi saya melanjutkan perjalanan menuju Bergen.

Merapah.com – Perjalanan dari kota Bodø menuju Trondheim dengan kereta api malam adalah sebuah transisi yang magis. Setelah menempuh waktu semalaman, pagi hari di Trondheim menyambut saya dengan keheningan yang syahdu.

Udara dingin yang menggigit, hamparan salju bersih, dan lapisan es tipis yang berkilau di jalanan mengiringi langkah kaki dari stasiun menuju P-Hotel Brattøra yang terletak tak jauh di sisi kanan.

Geografi yang Memikat

Trondheim merupakan kota terbesar ketiga di Norwegia yang memiliki letak geografis unik. Di sinilah Sungai Nidelva bermuara ke Trondheim Fjord. Pelabuhannya sangat bersih dan terlindung, memberikan nuansa kota maritim yang tenang.

 

BACA JUGA: Buronan Tak Sengaja: Ketegangan 25 Jam dan Aksi Kejar-kejaran di Atlantic City Expressway

 

Secara historis, sungai ini merupakan nadi transportasi utama pada Abad Pertengahan.
Namun, sebuah fenomena alam berupa longsoran lumpur dan batu pada pertengahan abad ke-17 mengubah kedalaman sungai, membuatnya sulit dilalui kapal besar namun justru menciptakan karakter lanskap yang ikonik hingga kini. Jika memandang ke arah daratan, titik tertinggi di kawasan ini adalah bukit Storheia (565 mdpl) yang berdiri kokoh menjaga kota.

Satu hal yang unik adalah fenomena cahayanya. Pada titik balik matahari musim panas (Summer Solstice), matahari terbit pukul 03:00 dan baru terbenam pukul 23:40. Bahkan saat malam tiba, matahari hanya bersembunyi tipis di bawah cakrawala, menciptakan “malam yang terang” yang khas Skandinavia.

Pusat Intelektual dan Pendidikan

Trondheim bukan sekadar kota tua; ia adalah jantung pendidikan Norwegia. Kota ini merupakan rumah bagi Universitas Sains dan Teknologi Norwegia (NTNU) yang prestisius, lengkap dengan fasilitas laboratorium teknis mutakhirnya. Selain itu, terdapat pula BI-Trondheim, kampus satelit dari Sekolah Bisnis Norwegia. Kehadiran ribuan mahasiswa internasional setiap tahunnya memberikan energi muda dan dinamis di tengah arsitektur kota yang klasik.

 

BACA JUGA: “If You Come to San Francisco”

 

Menjelajahi Midtbyen: Jantung Kota di Atas Air

Pusat keramaian Trondheim terkonsentrasi di daerah _Midtbyen_. Uniknya, area ini hampir sepenuhnya dikelilingi oleh aliran Sungai Nidelva, menjadikannya seperti pulau sejarah.
Di sinilah saksi bisu kejayaan masa lalu berdiri tegak:

1. Katedral Nidaros (Nidaros Domkirke): Mahakarya arsitektur Gotik ini dibangun selama 230 tahun (1070–1300 M). Katedral ini berdiri di atas makam Raja Olav II (Santo Pelindung Norwegia). Hingga kini, Nidaros tetap menjadi lokasi tradisional penobatan Raja-Raja Norwegia.

2. Monumen Olav Tryggvason: Berada di pusat alun-alun kota, patung ini menghormati sang pendiri Trondheim (tahun 997) dan sosok yang mendirikan gereja pertama di Norwegia.

3. Gamle Bybro (Jembatan Kota Tua): Jembatan ikonik ini pertama kali dibangun tahun 1681 oleh Johan Caspar von Cicignon sebagai akses rahasia menuju Benteng Kristiansten.

 

BACA JUGA: Ketukan Pintu di Princeton Park: Sebuah Butterfly Effect

 

Gamle Bybro: “Gerbang Kebahagiaan”

Jembatan Gamle Bybro memiliki daya tarik magis tersendiri. Dengan panjang 81 meter dan gerbang kayu berwarna merah yang khas, jembatan ini dijuluki sebagai “Lykkens Portal” atau Portal of Happiness.

Sejak tahun 2016, jembatan ini telah ditutup permanen bagi kendaraan bermotor, memberikan ruang bagi pejalan kaki untuk menikmati pemandangan rumah-rumah kayu warna-warni di pinggir sungai kawasan Bakklandet. Berjalan di sini seperti menembus lorong waktu ke abad ke-17.

Konektivitas dan Suasana

Meskipun kental dengan sejarah, Trondheim tetap modern. Bandara internasionalnya, Værnes di Stjørdal, merupakan bandara tersibuk keempat di Norwegia. Bagi saya, Trondheim memiliki kemiripan rasa dengan Yogyakarta. Keduanya adalah kota pelajar, pusat kebudayaan dengan banyak peninggalan sejarah, dan memiliki pusat keramaian (downtown) yang hangat. Jika Jogja punya Malioboro, maka Trondheim punya Midtbyen dan Trondheim Torg sebagai pusat nadi kehidupan warganya.

Catatan Perjalanan

Waktu sehari semalam memang terasa sangat singkat untuk meresapi setiap sudut Trondheim. Namun, pengalaman memulai hari dengan bus dari depan stasiun, lalu berjalan kaki seharian melintasi Katedral Nidaros hingga kembali ke hotel saat senja, sudah cukup untuk meninggalkan kesan mendalam, apalagi ditengah cuaca dingin dan hamparan salju dimana-mana.

Kaki mungkin lelah, tetapi memori tentang “Gerbang Kebahagiaan” dan kemegahan Nidaros akan tetap abadi sebelum esok pagi saya melanjutkan perjalanan menuju Bergen.

✍️ Matalensaku