Merapah.com – Tagar save Raja Ampat kini menggema di media sosial, terutama Instagram dan X. Warganet membagikan foto laut, terumbu karang, hingga penyu yang berenang bebas di sana. Namun, keindahan itu terancam oleh ekspansi tambang dan pencemaran yang terus meningkat. Tagar save Raja Ampat menjadi simbol perjuangan menyelamatkan ekosistem dan budaya lokal.
Tambang Nikel Ancam Keanekaragaman Hayati

Pemerintah tengah mendorong hilirisasi nikel untuk mendukung industri kendaraan listrik nasional. Namun, wilayah Raja Ampat kini masuk radar proyek pertambangan nikel tersebut. Greenpeace Indonesia mencatat aktivitas tambang di Pulau Gag, Kawe, dan Manuran.
BACA JUGA: Presiden Baru Korea Selatan Lee Jae-myung Menang Pemilu dan Ajak Korea Utara Berdamai
Tambang ini mengancam hutan, merusak laut, dan mengganggu habitat hewan endemik. Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) menyebut ada 14 konsesi tambang di Papua Barat Daya. Kondisi ini menjadi ancaman besar terhadap keberlangsungan ekosistem Raja Ampat.
Pemerintah Berjanji Evaluasi Tambang
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menanggapi protes masyarakat dan janji lakukan evaluasi izin tambang.
“Supaya tidak terjadi kebingungan, kami melalui Ditjen Minerba telah memutuskan untuk menghentikan sementara operasi PT Gag, yang saat ini memegang Kontrak Karya, hingga proses verifikasi lapangan selesai,”ujar Bahlil.
Sementara itu, DPR RI juga menolak eksplorasi tambang di wilayah konservasi Raja Ampat. Anggota Komisi VII DPR RI menyebut kawasan ini bagian dari warisan dunia yang penting. Undang-Undang Pesisir tidak memperbolehkan eksplorasi tambang di pulau-pulau kecil tersebut.
BACA JUGA: Penyandang Disabilitas Lampung Raih Rekor Muri dalam Jalan Sehat dan Senam Bersama
Pariwisata Tidak Terkendali Picu Masalah Baru
Pariwisata tak ramah lingkungan juga memberi tekanan berat pada kawasan Raja Ampat. Dinas Pariwisata mencatat lebih dari 30.000 wisatawan berkunjung selama tahun 2023. Namun, kapal wisata masih menjatuhkan jangkar sembarangan dan mencederai karang.
Banyak penginapan belum memiliki sistem pengolahan limbah yang memadai hingga hari ini. Hal ini membuat ekosistem laut semakin tertekan dan rentan terhadap kerusakan permanen.
Sampah Laut Mengancam Biota

LIPI mencatat sekitar 1,7 ton sampah plastik masuk perairan Raja Ampat setiap bulannya. Sampah ini terbawa arus dari kota besar seperti Sorong dan sekitarnya. Penyu, ikan, dan burung laut sering tertukar antara makanan dan plastik berbahaya itu.
Komunitas Lokal Melawan Kerusakan
Masyarakat lokal menjalankan konservasi berbasis komunitas untuk menyelamatkan lingkungan. Proyek restorasi karang di Meoswara berhasil menumbuhkan karang seluas 500 meter persegi. Upaya ini menunjukkan harapan masih ada untuk save Raja Ampat secara kolektif.
BACA JUGA: Indonesia Menang atas China 1-0, Penalti Ole Romeny Antar Garuda ke Peringkat Tiga
Save Raja Ampat Bukan Sekadar Tagar

Gerakan save Raja Ampat adalah panggilan untuk menyelamatkan surga terakhir di bumi. Tanpa tindakan tegas, generasi mendatang hanya mengenal Raja Ampat lewat cerita dan foto.













