Pada sore yang cerah, sekitar pukul 15.30, saya memutuskan untuk pergi ke lapangan sepak bola di kampus Universitas Lampung (Unila). Sore itu, niat saya hanya sederhana: berolahraga dengan joging untuk menyegarkan tubuh dan pikiran setelah rutinitas yang padat.
Perjalanan menuju lapangan memakan waktu sekitar 20 menit dengan sepeda. Sesampainya di sana pada pukul 15.50, saya sedikit heran karena lapangan terasa lebih sepi dari biasanya. Biasanya, jam-jam segitu, lapangan sudah penuh oleh mahasiswa yang bermain bola atau sekadar joging.
Namun, saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Setelah memarkir sepeda di tempat biasa, saya memastikan sepeda terkunci dengan baik, lalu langsung menuju lapangan untuk memulai pemanasan.
Selama lima menit, saya meregangkan otot-otot tubuh sambil menikmati udara sore yang sejuk. Setelah merasa cukup, saya mulai joging mengitari lapangan.
Sambil berlari, saya mempraktikkan teknik pernapasan yang biasa saya gunakan saat meditasi. Teknik ini membantu saya menjaga ritme napas dan membuat aktivitas joging terasa lebih nyaman.
Setelah beberapa putaran, saya memutuskan untuk memperlambat langkah, beralih ke jalan santai untuk pendinginan. Namun, saat saya menikmati suasana, tiba-tiba muncul perasaan aneh.
Firasat yang Kuat saat Joging
Saya merasa ada seseorang yang memperhatikan saya. Awalnya, saya mencoba mengabaikannya, berpikir itu hanya perasaan saja. Tetapi, semakin lama, firasat itu semakin kuat.
Ketika saya melirik ke sekeliling, saya melihat seorang pria yang tampak memperhatikan saya dari kejauhan. Ketika tatapan kami bertemu, dia tersenyum dan melambaikan tangan, lalu mulai berjalan mendekati saya.
Saat dia sudah lebih dekat, saya baru menyadari bahwa dia adalah seseorang yang pernah saya lihat melalui video call bersama teman saya, Christian.
“Hai, kamu teman Christian, ya?” sapanya dengan ramah.
“Iya, benar. Kamu pasti… tunggu, namamu siapa ya? Rasanya pernah lihat di video call, tapi lupa,” jawab saya sedikit bingung.
Dia tertawa kecil. “Eriko. Aku sahabatnya Christian. Waktu itu kita sempat ngobrol sebentar lewat video call. Kayaknya kamu nggak terlalu ingat, ya?”
Saya mengangguk sambil tersenyum canggung. “Iya, maaf. Aku memang agak susah ingat wajah kalau cuma sekali lihat.”
“Tenang aja, nggak apa-apa. Tadi aku lihat kamu joging sendirian, jadi aku pikir kenapa nggak sekalian sapa,” katanya sambil memasukkan tangan ke saku celananya.
Kami pun mulai berjalan santai mengitari lapangan sambil berbincang. “Kamu sering ke sini?” tanya Eriko.
“Biasanya seminggu dua atau tiga kali. Kalau lagi nggak ada tugas kuliah yang numpuk, aku sempatin buat joging sore,” jawab saya.
Eriko mengangguk. “Bagus juga, ya. Aku jarang banget olahraga. Kalau nggak diajak teman main bola, kayaknya nggak akan ke lapangan.”
Saya tertawa kecil. “Nah, itu harus diubah, dong. Olahraga itu penting. Biar badan nggak gampang capek.”
Obrolan Santai
Obrolan kami semakin santai. Eriko mulai bercerita tentang bagaimana dia sering nongkrong dengan Christian dan teman-temannya. “Christian sering cerita tentang kamu, lho. Katanya, kamu tipe yang pendiam tapi suka bantu teman. Waktu itu, dia juga bilang kamu suka joging sendiri buat menenangkan pikiran.”
Saya terkejut mendengar itu. “Hah? Dia bilang gitu? Aku nggak nyangka Christian merhatiin hal-hal kecil kayak gitu.”
Eriko tertawa. “Dia itu emang perhatian, cuma kadang suka nggak ditunjukin aja. By the way, apa kamu selalu sendiri kalau ke sini?”
“Biasanya, sih, iya. Rasanya lebih nyaman aja kalau sendirian. Bisa fokus sama diri sendiri,” jawab saya sambil tersenyum.
Setelah beberapa menit berbincang, saya melihat jam tangan dan menyadari waktu sudah mulai sore. “Kayaknya aku harus lanjut jalan santai sendiri, nih. Udah mau jam 6 juga.”
“Baiklah, kalau gitu aku nggak ganggu lagi, ya. Senang bisa ketemu langsung sama kamu, bro. Sampai ketemu lagi lain waktu!” kata Eriko sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
“Sama-sama. Sampai ketemu lagi, ya,” balas saya sambil menjabat tangannya.
Setelah itu, saya melanjutkan jalan santai untuk pendinginan selama 15 menit lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang ke kos.
Saat mengayuh sepeda dalam perjalanan pulang, saya merenung tentang pertemuan tak terduga ini. Terkadang, pertemuan kecil seperti ini bisa membawa kehangatan yang sederhana dan menyenangkan dalam hidup.
Tentang Penulis:
Profil Sani Ngep: Mahasiswa Berprestasi dari Pegunungan Papua
Nama: Sani Ngep
Tempat, Tanggal Lahir: Kurumkim, 25 September 2005
Asal: Provinsi Papua Pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang, Distrik Iwur
Pendidikan: Mahasiswa Universitas Lampung, Semester 3
Sani Ngep adalah mahasiswa yang berasal dari wilayah pegunungan di Papua, tepatnya Distrik Iwur, Kabupaten Pegunungan Bintang. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Lampung, membuktikan semangatnya dalam menimba ilmu untuk masa depan yang lebih cerah.













