Merapah.com – Dinas Perkebunan Provinsi Lampung mencatat produksi kakao mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan paling besar terjadi pada periode 2021 hingga 2023.
Produksi kakao Lampung mencapai 57.510 ton pada 2020. Jumlah itu turun menjadi 56.588 ton pada 2021.
Produksi kembali turun menjadi 48.200 ton pada 2022. Angka itu kembali merosot menjadi 45.639 ton pada 2023.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, Desti Arisandi, mengatakan produksi kakao mulai menunjukkan perbaikan pada 2024 dan 2025.
“Dari data produksi dan luas lahan di atas, terjadi penurunan produksi kakao di Provinsi Lampung,” ujar Desti berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Lampung.
Ia menyebut penurunan produksi terjadi pada 2021 hingga 2023. Namun, produksi kembali meningkat pada 2024 dan 2025.
BACA JUGA: Hantavirus dari Tikus: Cara Menular, Gejala, dan Pencegahannya
Produktivitas kakao juga ikut turun dalam periode tersebut. Pada 2020, produktivitas mencapai 896 kilogram per hektare.
Angka itu turun menjadi 764 kilogram per hektare pada 2023. Kondisi tersebut menunjukkan penurunan hasil panen di tingkat petani.
Tanaman Tua Jadi Penyebab Utama
Desti Arisandi menyebut tanaman tua menjadi penyebab utama turunnya produksi kakao Lampung. Sebagian besar tanaman kakao rakyat telah berusia lebih dari 20 tahun.
“Tanaman yang sudah tua dan rusak mengalami penurunan produktivitas sehingga hasil panen per hektar menurun,” kata Desti.
Ia menjelaskan tanaman tua lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Kondisi itu membuat kualitas dan jumlah produksi terus menurun.
Selain faktor usia tanaman, petani juga menghadapi keterbatasan teknologi budidaya. Pemupukan dan pemangkasan belum berjalan optimal di sejumlah wilayah.
Dinas Perkebunan juga mencatat penggunaan bibit unggul masih terbatas. Sebagian petani masih menggunakan bibit lokal dengan produktivitas rendah.
Perubahan iklim ikut memperburuk kondisi perkebunan kakao Lampung. Curah hujan tidak menentu mengganggu pembungaan dan pembentukan buah.
“Suhu lebih panas dan musim ekstrem mengganggu pembungaan dan pembentukan buah kakao,” ujar Desti.
BACA JUGA: Wagub Lampung Apresiasi Panen Melon SMKN SPP, Dorong Inovasi Pertanian Berbasis Teknologi
Hama dan Penyakit Perparah Kondisi Kebun
Serangan hama dan penyakit juga mempercepat penurunan produksi kakao Lampung. Petani menghadapi ancaman di hampir seluruh sentra produksi.
Dinas Perkebunan mencatat serangan Penggerek Buah Kakao atau PBK masih tinggi. Hama itu merusak buah dan menurunkan kualitas biji kakao.
Petani juga menghadapi serangan busuk buah akibat jamur Phytophthora. Penyakit tersebut berkembang saat kelembapan kebun meningkat.
Selain itu, penyakit Vascular Streak Dieback atau VSD terus menyerang tanaman produktif. Penyakit itu membuat cabang mengering dan tanaman mati perlahan.
“Serangan Vascular Streak Dieback dan kanker batang dapat merusak 30 hingga 80 persen potensi produksi,” kata Desti.
Cuaca basah selama beberapa tahun terakhir mempercepat penyebaran penyakit. Banyak petani akhirnya menebang tanaman yang rusak berat.
BACA JUGA: Daun Sirih: Herbal Alami dengan Segudang Manfaat Kesehatan
Pendapatan Petani Mulai Tertekan
Penurunan produksi berdampak langsung terhadap pendapatan petani kakao Lampung. Hasil panen yang turun membuat penghasilan petani ikut berkurang.
Tanaman tua juga meningkatkan biaya perawatan kebun. Petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengendalian hama dan penyakit.
“Tanaman kakao yang sudah tua cenderung mengalami penurunan hasil dan kualitas produksi buah,” ujar Desti.
Sebagian petani mulai mempertimbangkan beralih ke komoditas lain. Sawit dan kopi dinilai lebih stabil dibanding kakao.
Namun, kenaikan harga kakao mulai menarik kembali minat petani. Produksi kakao Lampung juga mulai menunjukkan tren peningkatan pada 2024 dan 2025.
Pemerintah kini menyiapkan program peremajaan tanaman kakao rakyat. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas kebun dalam beberapa tahun mendatang.












