Cerpen: Tetesan Hujan yang Mengukir Jejak Rindu

tetesan hujan cerpen
Cerpen: Tetesan Hujan yang Mengukir Jejak Rindu

Setiap pagi, aku bangun dengan senyuman, meskipun seringkali kesunyian menyelimuti hatiku. Di balik tawa yang kupersembahkan kepada dunia, ada kerinduan yang tak terucapkan, rahasia yang tersimpan dalam benakku. Tetesan hujan

Dalam keramaian, aku terkadang merasa terasing, seolah kata-kata tak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang kurasakan. Namun, aku menyadari, dalam kesendirian inilah aku bisa menemukan diriku yang sebenarnya.

Hujan selalu menjadi teman setiaku. Ketika butiran air itu jatuh, aku merasa seperti sedang diajak bercakap-cakap. Suara rintiknya tetesan hujan mengalun lembut, menenangkan jiwaku yang bergejolak.

Setiap butiran air hujan yang biasanya menyediakan air untuk umat manusia lebih memilih menjadi obat penawar dan mengalir ke dalam tubuhku, bercampur dengan darahku untuk menetralkan kerinduanku.

Menikmati Momen

Hujan mengajarkanku untuk menikmati setiap momen—bahwa dalam kesedihan ada keindahan yang bisa ditemukan. Meski kadang datang tanpa diundang, kehadirannya selalu membawa rasa segar, seolah membersihkan pikiranku yang penuh dengan keraguan.

Namun, segalanya berubah sejak aku memutuskan untuk menempuh perguruan tinggi di kota ini. Kakak-kakakku—Yosepa dan Miat—tak pernah absen meneleponku setiap malam.

“Jangan lupa makan, ya. Kamu terlalu sering lupa kalau sudah sibuk,” kata Yosepa dengan nada tegas, meskipun aku tahu ada rasa khawatir di baliknya. Miat, kakak laki-lakiku, lebih santai. “Hujan di sana bagaimana? Masih setia menemani kamu merenung?” candanya, membuatku tersenyum kecil.

 

BACA JUGA: Cerpen: Kenyamanan yang Terjebak di Antara Waktu dan Ruang

Ambil Alih Peran Tetesan Hujan

Yosepa tak hanya seorang kakak; dia adalah sosok yang selalu aku anggap sebagai pengganti ibu. Setelah ibu kami tiada, Yosepa mengambil alih peran itu tanpa ragu. Ia selalu tahu bagaimana menenangkan hati saya di saat saya lagi kesulitan, entah dengan pelukan hangat atau kata-kata sederhana yang mampu menenangkan badai di pikiranku. Saat kecil, aku ingat bagaimana ia membacakan cerita di tengah hujan, membuat suasana rumah yang sederhana terasa hangat. Tetesan hujan.

Tetapi, ada satu hal yang tak pernah aku ceritakan kepada mereka—sebuah rahasia yang perlahan menggerogoti ketenanganku.

Di kampusku, aku terlibat dalam persaingan dengan seorang rekan, Livia. Ia adalah tipe orang yang cerdas, ambisius, dan selalu tahu cara mendapatkan perhatian. Awalnya, aku hanya merasa kagum, tapi lama-kelamaan aku menyadari, sikapnya sering menjatuhkanku di depan orang lain.

“Kamu yakin laporan ini sudah selesai? Sepertinya masih banyak kekurangan,” katanya suatu hari di ruang diskusi, sambil menatapku dengan senyum sinis.

Aku hanya bisa terdiam, meskipun hatiku bergejolak. Rasa malu dan marah bercampur jadi satu, namun aku terlalu takut untuk membela diri.

Hujan sore itu turun deras, seakan memahami kepedihanku. Aku duduk di dekat jendela, memandang tetesan air yang berlomba jatuh ke tanah.

“Kenapa aku tak bisa sekuat hujan?” gumamku pelan. Aku merindukan rumah, merindukan dukungan tanpa syarat dari Yosepa dan Miat. Tapi aku tahu, aku harus menghadapi ini sendiri.

Puncak masalah terjadi saat proyek besar yang aku kerjakan bersama tim hampir gagal karena kesalahan kecil yang tidak aku perhatikan. Livia dengan mudah menunjukku sebagai penyebabnya di depan dosen pembimbing. “Ini semua karena kelalaiannya,” ucapnya tegas. Aku mencoba menjelaskan, tapi suaraku terdengar kecil di antara tuduhannya.

Malam itu, aku menelepon Yosepa sambil terisak. “Kenapa rasanya berat sekali, Kak? Aku selalu berusaha, tapi tetap saja gagal.”

Yosepa terdiam sejenak, lalu berkata dengan lembut, “Kamu tahu, hujan tak pernah memilih di mana ia jatuh. Kadang di tanah yang gersang, kadang di taman yang subur. Tapi, di mana pun itu, hujan tetap membawa kehidupan. Kamu hanya perlu percaya pada proses, meski saat ini terlihat sulit.”

Menenangkan Hati Tetesan Hujan

Kata-katanya menenangkan hatiku, meskipun rasa perih masih menyelimuti. Aku mulai menyadari bahwa aku tak bisa terus-menerus menghindar. Dalam kesendirian malam itu, aku memutuskan untuk berbicara dengan Livia dan mencari solusi.
Keesokan harinya, saat hujan kembali turun, aku memberanikan diri menghampirinya di kantin kampus. “Livia, bisa kita bicara?” tanyaku, mencoba terdengar tegas meskipun tanganku gemetar.

Dia mengangkat alis, tapi mengangguk. Kami berbicara panjang lebar tentang proyek dan perbedaan cara kerja kami. Awalnya, suasana canggung, tapi perlahan aku mulai merasa lega. Aku menyampaikan pendapatku tanpa takut, dan untuk pertama kalinya, ia mendengarkan dengan serius.

Hujan di luar semakin deras, tapi kali ini aku merasa seperti butiran air itu menari bersamaku. Saat aku pulang, senyum kecil menghiasi wajahku.

Sesampainya di rumah, aku menelepon Yosepa. “Kak, aku sudah bicara dengan Livia. Rasanya aneh, tapi juga lega.”

“Kamu hebat,” jawab Yosepa dengan nada bangga. “Ingat, tak ada badai yang bertahan selamanya. Kamu akan selalu punya tempat untuk kembali, dan kami selalu ada di sini untukmu.”

Petik Pelajaran Tetesan Hujan

Kini, aku memahami bahwa dalam setiap rintik hujan, ada pelajaran yang menanti untuk dipetik. Aku belajar bahwa kekuatan bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang berani menghadapi.

Yosepa, sebagai sosok yang tak pernah lelah membimbing. Sementara Miat, dengan canda yang selalu menghibur, adalah dua pilar yang membuatku berdiri teguh.

Meski kesendirian sering kali terasa sunyi, aku tahu bahwa dalam diam, aku menemukan keberanian untuk terus melangkah.

Tentang Penulis:

Sani Ngep, lahir di Kurumkim pada tanggal 25 September 2005, berasal dari Provinsi Papua Pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang, Distrik Iwur. Saat ini, ia merupakan mahasiswa Universitas Lampung angkatan 2023, jurusan Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Akun Instagramnya adalah @sani_ngep23.