Merapah.com – Ada kalanya hidup terasa seperti gelas yang setengah terisi. Airnya ada, cukup untuk diminum, tapi mata kita justru sibuk memperhatikan bagian yang kosong.
Semakin lama dipandang, bagian kosong itu terasa lebih besar daripada isinya. Padahal, tanpa air di dalamnya, gelas itu tidak akan berguna sama sekali.
Perasaan seperti ini sering muncul tanpa kita sadari. Hidup berjalan, kebutuhan terpenuhi, tapi hati tetap merasa kurang.
Kita mulai bertanya, “Kenapa rezekiku begini?” atau “Kenapa orang lain terlihat lebih mudah?” Bukan karena hidup kita benar-benar sempit, melainkan karena pikiran terlalu sering membandingkan.
BACA JUGA: Cerpen: Cinta di Lirik Panji Sakti, Seperti Kamboja yang Abadi
Bersyukur Membuat Hati Pelan-Pelan Lebih Tenang
Aku sadar, rasa kurang itu jarang datang karena ketiadaan. Ia lebih sering lahir karena kita terlalu fokus melihat milik orang lain.
Kita melihat pencapaian mereka, kebahagiaan mereka, lalu merasa hidup sendiri tertinggal. Padahal, kita tidak pernah melihat keseluruhan cerita. Kita hanya melihat potongan yang tampak baik-baik saja.

Analoginya sederhana. Seperti berjalan sambil terus menoleh ke jalan orang lain. Kita tidak benar-benar tahu apakah jalan itu mulus atau berlubang. Namun karena tampak lebih lurus dari jauh, kita merasa jalan sendiri terlalu berat.
Islam mengingatkan kita untuk kembali pada rasa syukur. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi mengingatkan bahwa syukur membuka pintu ketenangan dan keberkahan. Syukur bukan berarti berhenti berharap. Syukur adalah mengakui bahwa di tengah kekurangan, Allah tetap memberi.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.”
(HR. Muslim)
Hadis ini terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini. Kita terlalu sering melihat ke atas, sampai lupa bahwa banyak hal yang dulu kita doakan, kini sudah menjadi bagian dari hidup.
BACA JUGA: Qana’ah dalam Islam: Makna Hidup Cukup yang Membentuk Ketenangan
Saat Aku Sibuk Membandingkan, Syukur Diam-Diam Pergi
Bersyukur bukan perkara besar. Ia hadir dalam hal sederhana. Masih bisa bangun pagi, bertemu teman baik, hingga kembali ke rumah. Semua itu adalah rezeki, meski tidak selalu kita sebutkan satu per satu.
Namun bersyukur juga tidak meniadakan doa. Justru, syukur dan doa berjalan bersama.
Kita bersyukur atas apa yang ada, sambil tetap memohon yang terbaik kepada Allah.
Seperti seorang musafir yang berterima kasih atas air di botolnya, sambil tetap berharap menemukan mata air di perjalanan.
Ketika hati terasa sempit, mungkin yang kita butuhkan bukan tambahan rezeki, tetapi pandangan yang lebih jujur pada diri sendiri.
Bahwa hidup ini memang tidak selalu sesuai rencana, tapi selalu punya alasan untuk disyukuri.
Di akhir hari, kita bisa berdoa sederhana, “Ya Allah, cukupkan hatiku dengan apa yang Engkau beri. Jangan jadikan aku lupa, karena terlalu sibuk membandingkan.”
Karena sering kali, yang membuat hidup terasa berat bukanlah kekurangan, melainkan lupa bahwa Allah selalu membersamai setiap proses.
Terima kasih sudah sampai di sini. Jika hatimu terasa sedikit lebih ringan, semoga itu cukup.
Aku Putri Fajar Andini, teman seperjalananmu. Kita masih belajar berjalan dengan versi terbaik yang kita punya hari ini.













