Jejak Pengabdian dalam Perjalanan KKN Januari 2026

Menyatukan visi tentu bukan hal yang mudah. Namun kekhawatiran itu perlahan memudar ketika kami mulai bekerja bersama di lapangan.

Jejak Pengabdian dalam Perjalanan KKN Januari 2026
Oleh Sani ngep dari Provinsi Papua Pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang Distrik Iwur, Mahasiswa Unila (Universitas Lampung) Jurusan Administrasi Negara, Angkatan 2023

Merapah.com – Ada masa ketika waktu terasa berjalan biasa saja, hingga tanpa disadari ia melesat begitu cepat dan sulit dihentikan. Begitulah yang saya rasakan menjelang Januari 2026. Rasanya baru kemarin saya menikmati akhir perkuliahan pada November 2025, duduk santai tanpa banyak memikirkan apa yang akan datang. Namun tanpa saya sadari, waktu membawa saya pada sebuah fase yang bukan hanya menjadi kewajiban akademik, melainkan juga perjalanan pembelajaran hidup: Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Sebagai mahasiswa Universitas Lampung yang saat itu berada di semester 5 dan bersiap memasuki semester 6, saya menyadari bahwa ada satu tahapan penting yang harus dilewati sebelum benar-benar melangkah ke tingkat berikutnya. KKN bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan jembatan antara teori yang dipelajari di ruang kelas dengan realitas kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

 

BACA JUGA: Cerpen: Mimpi dari Ujung Papua Part 2

 

Kesadaran tersebut membuat saya tidak ingin menjalani KKN tanpa persiapan. Dua bulan sebelum keberangkatan, saya mulai mencari informasi dari kakak tingkat yang telah lebih dahulu melaksanakannya. Saya mendengarkan pengalaman mereka—tentang tantangan, dinamika kelompok, hingga momen-momen tak terduga yang justru menjadi pelajaran berharga. Selain itu, saya juga berdiskusi dengan dosen yang saya percaya untuk memahami hal-hal yang perlu dipersiapkan, baik secara teknis maupun mental. Dari berbagai cerita itu, saya semakin memahami bahwa KKN bukan hanya tentang menyusun dan menjalankan program kerja, tetapi juga tentang belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, memahami karakter masyarakat, mengelola perbedaan dalam tim, serta menguatkan diri ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai rencana.

Meskipun waktu persiapan terasa cukup panjang, pada kenyataannya dua bulan berlalu begitu cepat. Waktu yang awalnya tampak masih jauh perlahan berubah menjadi hitungan hari. Pertemuan pertama—yang kami sebut first meet—menjadi titik awal perjalanan kami. Dalam pertemuan tersebut, kami membahas pembagian kelompok, survei lokasi, penyusunan program kerja, hingga kesiapan pribadi masing-masing. Diskusi berlangsung panjang dan serius, bahkan kerap berakhir larut malam. Meski terasa melelahkan, antusiasme tetap tumbuh di antara kami. Kami menyadari bahwa perjalanan ini akan menjadi pengalaman yang berbeda dari kegiatan perkuliahan pada umumnya.

 

BACA JUGA: Ketukan Pintu di Princeton Park: Sebuah Butterfly Effect

 

Ketika hari keberangkatan tiba, ada satu hal yang cukup mengejutkan saya. Jika biasanya satu kelompok KKN terdiri dari sekitar tujuh orang, kelompok kami berjumlah dua belas anggota ditambah satu koordinator desa, sehingga total menjadi tiga belas orang dalam satu tim. Jumlah tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran. Semakin banyak anggota, semakin besar pula kemungkinan perbedaan pendapat. Menyatukan visi tentu bukan hal yang mudah. Namun kekhawatiran itu perlahan memudar ketika kami mulai bekerja bersama di lapangan.

Saya justru menemukan kenyataan yang jauh lebih indah dari bayangan sebelumnya. Ide-ide brilian bermunculan dari setiap anggota. Diskusi memang sering berlangsung panjang—bahkan tidak jarang saya tertidur karena kelelahan—namun semuanya selalu diakhiri dengan tawa. Suasana kelompok kami dipenuhi canda yang membuat beban terasa lebih ringan. Seiring berjalannya waktu, kami tidak lagi sekadar rekan kerja. Kami tumbuh menjadi keluarga kecil yang saling mendukung dalam proses pengabdian. Ketika satu merasa lelah, yang lain menguatkan. Ketika muncul perbedaan pendapat, kami belajar untuk saling mendengarkan dan memahami.

Program kerja yang kami rancang memang cukup besar dan membutuhkan tenaga ekstra. Namun karena dilakukan bersama, tantangan tersebut terasa lebih mungkin untuk ditaklukkan. Dukungan masyarakat menjadi kekuatan tambahan bagi kami. Bahkan Ibu Lurah, Bu Tanti, turut membantu menyukseskan setiap program yang dijalankan. Kehadiran dan dukungan beliau semakin meyakinkan kami bahwa apa yang kami lakukan benar-benar memiliki arti bagi lingkungan sekitar.

 

BACA JUGA: Cerpen: Lelaki Tua dan Sepatu Kecil di Tepi Jalan

 

Melalui seluruh proses ini, saya menyadari bahwa ilmu tidak akan menemukan maknanya jika hanya berhenti di ruang kelas. Ilmu harus hadir di tengah masyarakat, dirasakan manfaatnya, dan diuji dalam situasi nyata. Saya juga belajar bahwa keberhasilan bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan tentang proses kebersamaan—tentang bagaimana kami tetap berdiri di tengah kelelahan dan bagaimana perbedaan justru dapat menyatukan kami.

Pada akhirnya, KKN bukan hanya meninggalkan laporan dan dokumentasi kegiatan. Ia meninggalkan jejak dalam diri saya berupa pengalaman, pelajaran hidup, serta kenangan yang akan selalu saya ingat. Di sanalah saya memahami bahwa makna pengabdian bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang belajar dan bertumbuh bersama.

Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa proses pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Pendidikan yang sesungguhnya terjadi ketika mahasiswa mampu hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan nyata, serta berkontribusi secara langsung. Melalui KKN, kami tidak hanya belajar menjadi mahasiswa yang lebih bertanggung jawab, tetapi juga pribadi yang lebih dewasa dalam memandang arti kerja sama, empati, dan pengabdian.

Ke depan, pengalaman ini akan kami jadikan bekal untuk terus berkembang—tidak hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai individu yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di mana pun kami berada.

Sani ngep
dari Provinsi Papua Pegunungan, Kabupaten Pegunungan Bintang Distrik Iwur
Mahasiswa Unila (Universitas Lampung) Jurusan Administrasi Negara,
Angkatan 2023