Merapah.com – Dinas Perkebunan Provinsi Lampung mewaspadai ancaman cuaca ekstrem terhadap sektor kakao. Ancaman itu muncul setelah BMKG memprediksi potensi Godzilla El Nino pada 2026.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, Desti Arisandi, mengungkapkan fenomena tersebut diperkirakan muncul mulai April hingga Agustus 2026.
“Tahun 2026 BMKG memprediksi potensi terjadi Godzilla El Nino yang akan terjadi pada bulan April hingga Agustus,” ujar Desti.
Ia menyebut fenomena tersebut berpotensi berlangsung hingga akhir tahun. Kondisi itu dapat memicu kekeringan berkepanjangan di sejumlah sentra kakao.
Sebelumnya, Indonesia mengalami fase La Nina berturut-turut sejak 2020. Curah hujan tinggi membuat kelembapan kebun meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dinas Perkebunan menilai perubahan cuaca ekstrem semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat petani menghadapi risiko produksi lebih besar.
BACA JUGA: Produksi Kakao Lampung Turun dalam Lima Tahun
Kekeringan Bisa Tekan Produktivitas Kakao
Desti Arisandi mengatakan cuaca ekstrem dapat menurunkan produktivitas tanaman kakao. Kekeringan mengganggu pembungaan dan pembentukan buah.
“Hal ini akan sangat mempengaruhi penurunan produktivitas, penurunan mutu dan meningkatnya serangan OPT,” kata Desti.
Dinas Perkebunan mencatat kelembapan tinggi selama La Nina mempercepat penyebaran penyakit tanaman. Sentra kakao Lampung menghadapi serangan penyakit secara masif.
Penyakit utama yang menyerang yaitu Vascular Streak Dieback atau VSD. Petani juga menghadapi kanker batang akibat jamur Phytophthora palmivora.
Desti menyebut serangan penyakit dapat merusak sebagian besar produksi kakao. Kerusakan bahkan mencapai 30 hingga 80 persen potensi produksi.
“Serangan Vascular Streak Dieback dan kanker batang dapat merusak 30 hingga 80 persen potensi produksi,” ujar Desti.
Kondisi itu membuat banyak petani menebang tanaman produktif yang terserang penyakit. Sebagian petani melakukan peremajaan dengan penyambungan tunas.
Selain itu, serangan hama juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Penggerek Buah Kakao dan Helopeltis menyerang buah yang tersisa di kebun.
Biaya Produksi Petani Diprediksi Naik
Dinas Perkebunan menilai Godzilla El Nino dapat meningkatkan beban ekonomi petani kakao. Kekeringan memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan.
“Biaya operasional petani tetap atau bahkan meningkat karena harus mengeluarkan dana ekstra untuk pengairan atau nutrisi tambahan,” kata Desti.
Petani membutuhkan biaya lebih besar untuk menjaga kelembapan tanaman. Kondisi tersebut membuat harga pokok produksi ikut meningkat.
Desti mengatakan kenaikan biaya produksi dapat menekan keuntungan petani. Risiko kerugian semakin besar jika harga jual tidak stabil.
Kekeringan juga mempengaruhi kualitas biji kakao Lampung. Cuaca panas ekstrem menghasilkan biji kecil dan keriput.
“Kekeringan ekstrem menghasilkan biji yang kecil dan keriput,” ujar Desti.
Kondisi itu membuat kadar lemak kakao ikut menurun. Buyer internasional dapat memberi penalti harga terhadap biji berkualitas rendah.
BACA JUGA: 600 Tanaman Melon Hidroponik di Green House SPP Lampung, Jadi Media Belajar hingga Peluang Komersial
Daya Saing Kakao Lampung Terancam
Dinas Perkebunan menilai cuaca ekstrem dapat mengganggu daya saing kakao Lampung di pasar global. Ketidakpastian produksi membuat kontrak ekspor berisiko terganggu.
Pembeli internasional dapat beralih ke negara produsen lain yang lebih stabil. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya tawar kakao Lampung.
Selain itu, lonjakan harga kakao dunia juga mempengaruhi industri hilir. Harga bahan baku yang mahal membuat produk cokelat semakin sulit bersaing.
Dinas Perkebunan meminta petani memperkuat mitigasi iklim di tingkat kebun. Pemerintah juga mendorong peremajaan tanaman dan penguatan budidaya kakao rakyat.
Pemerintah berharap langkah tersebut mampu menjaga produksi kakao Lampung. Upaya itu juga diharapkan memperkuat daya saing kakao di tengah ancaman cuaca ekstrem.












