Belajar Jurnalistik Langsung di Dapur Redaksi, 70 Mahasiswa Unila Intip Cara Media Bertahan di Era Digital

Mahasiswa Unila Belajar Jurnalistik dan Media Digital di Lampung Post

BANDAR LAMPUNG, Merapah.com — Bukan sekadar datang untuk mendengar teori di ruang kelas, sebanyak 70 mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Lampung justru diajak masuk langsung ke “dapur” media saat berkunjung ke Lampung Post, Sabtu, 16 Mei 2026.

Mahasiswa yang tergabung dalam PresComm HMJ Ilmu Komunikasi itu belajar bagaimana sebuah media bekerja di tengah derasnya arus informasi digital dan media sosial yang serba cepat.

 

BACA JUGA: Harvest Unila: Menjembatani Akademisi dan Petani dalam Menghadapi Krisis Produktivitas lahan pangan di Bumi Jaya

 

Suasana kegiatan terasa santai, tetapi tetap penuh insight. Para peserta tampak aktif berdiskusi mulai dari cara membuat berita yang kredibel, etika jurnalistik, sampai strategi media sosial agar konten bisa menjangkau audiens lebih luas tanpa kehilangan akurasi.

Kepala Divisi Pemberitaan Lampung Post, Mustaan Basran, menekankan bahwa kecepatan menyampaikan informasi tidak boleh mengorbankan kebenaran berita.

Menurutnya, generasi muda yang mulai aktif membuat konten maupun terjun ke dunia jurnalistik harus memahami pentingnya kode etik jurnalistik sejak awal.

“Informasi yang disampaikan ke publik harus jelas sumbernya, akurat, dan tidak menyesatkan. Itu yang paling penting,” ujarnya di hadapan peserta.

Tak hanya membahas penulisan berita, mahasiswa juga mendapat materi mengenai pengelolaan media sosial dari Manager Digital Marketing Lampung Post sekaligus jurnalis tingkat madya, Setiaji Bintang Pamungkas.

 

BACA JUGA: Tangis Haru dan IPK Sempurna Warnai Yudisium FEB IIB Darmajaya 2026

 

Dalam pemaparannya, Setiaji menyoroti perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih banyak mengonsumsi informasi melalui platform digital. Karena itu, media mahasiswa dinilai perlu lebih kreatif, kritis, dan dekat dengan isu yang benar-benar dirasakan mahasiswa.

Ia menilai banyak akun media kampus masih terlalu fokus pada unggahan seremonial dan dokumentasi kegiatan semata.

“Pers mahasiswa itu bisa jadi ruang kontrol sosial juga. Jangan cuma upload kegiatan formal, tapi hadirkan isu yang relate dan punya dampak,” katanya.

Pernyataan itu langsung memancing antusiasme peserta. Beberapa mahasiswa bahkan aktif berdiskusi mengenai tantangan membuat konten informatif di tengah tren media sosial yang lebih menyukai hiburan singkat.

Setelah sesi materi selesai, peserta diajak melihat langsung proses produksi media di lingkungan Lampung Post. Mereka mengunjungi studio podcast, ruang redaksi, hingga area percetakan koran.

Momen melihat mesin cetak koran menjadi salah satu pengalaman yang paling menarik perhatian mahasiswa. Di tengah era digital, proses produksi surat kabar ternyata masih membuat banyak peserta penasaran.

Salah satu mahasiswa peserta kegiatan, Marsya Dwi Putri, mengaku kunjungan tersebut membuka pandangannya tentang dunia media yang selama ini hanya ia lihat dari layar ponsel.

“Seru banget karena kita jadi tahu proses di balik sebuah berita sampai akhirnya bisa dibaca masyarakat. Banyak insight baru juga buat PersComm,” ujarnya.

 

BACA JUGA: Film Masha and the Bear Siap Tayang, Produksi Dibidik Rampung 2028

 

Menurut Marsya, sesi tur redaksi menjadi pengalaman yang paling berkesan karena mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana media bekerja di balik layar.

Kegiatan edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan literasi media mahasiswa sekaligus memberi gambaran nyata mengenai tantangan industri media modern yang kini dituntut cepat, kreatif, tetapi tetap menjaga akurasi informasi.