Hasil Panen Tak Diserap, Petani Jagung Lampung Timur Menjerit

Petani Jagung Lampung Timur
Petani jagung desa Banjar Agung keluhkan penumpukan hasil panen karena minimnya penyerapan Bulog.

Merapah.com, Lampung Timur – Musim panen seharusnya menjadi waktu paling menguntungkan bagi petani, terutama petani Lampung Timur. Namun, petani jagung di sana justru menghadapi kenyataan pahit. Bukan karena mereka gagal panen, melainkan karena pasar nyaris tak menghargai hasil jerih payah mereka.

Saat ini, tengkulak dan pembeli hanya menghargai jagung petani sebesar Rp3.800 hingga Rp4.200 per kilogram. Padahal, pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp5.500/kg.

“Penetapan HPP sebesar Rp5.500/kg bertujuan melindungi petani dari fluktuasi harga,” ujar Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pangan Nasional.

Namun, perlindungan itu masih sebatas kebijakan di atas kertas. Di lapangan, petani justru makin terjepit.

BACA JUGA: 35 SMA Negeri di Lampung Masuk Daftar Sekolah Unggulan, Ini Daftarnya

Panen Raya Berujung Derita

Tori (46), petani asal Desa Banjar Agung, mengaku tak kuasa menyembunyikan rasa kecewa. Setiap pagi ia melihat jagung hasil panennya menumpuk di halaman rumah, mengering tanpa harapan.

“Harga rendah, nggak ada yang beli. Kalau panen terus, rugi makin besar,” keluh Tori.

Kondisi ini membuat mereka dilema: terus bertani atau menyerah?

Pasar yang Sulit Tekan Petani Putar Otak

Situasi sulit ini tak hanya menimpa petani, tapi juga agen-agen jagung yang biasa menjadi jembatan antara petani dan industri pengolahan.

Maryanto (47), agen jagung di wilayah tersebut, menyampaikan kegelisahannya. Ia menyebut pasar kini bergerak tanpa kendali karena absennya intervensi dari lembaga negara.

“Tanpa Bulog, harga diatur sepihak oleh pabrik. Kami juga bingung harus ambil dari petani dengan harga berapa,” jelasnya.

Ketiadaan acuan harga yang pasti membuat distribusi hasil pertanian terganggu. Sistem yang selama ini menopang mata rantai produksi jagung mulai goyah.

BACA JUGA: Seminar Karir di Universitas Prabumulih Bantu Mahasiswa Temukan Profesi Terbaik

Janji Penyerap Jagung Belum Terwujud

Padahal, pemerintah telah membuat keputusan penting dalam rapat koordinasi nasional bidang pangan pada 24 Maret 2025. Dalam pertemuan yang dipimpin langsung oleh Menko Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, Perum Bulog ditugaskan untuk menyerap jagung petani lokal hingga sebanyak 1 juta ton.

Namun hingga bulan Mei, belum satu pun pembelian dilakukan oleh Bulog di Lampung Timur. Ketika waktu terus berjalan, petani makin kehilangan harapan.

Desakan Petani: Negara Jangan Abai

Petani berharap, janji tak berhenti sebagai wacana. Mereka menunggu langkah konkret dari pemerintah, bukan sekadar statemen di media atau keputusan administratif yang tak menyentuh realitas. Mereka yang selama ini menjaga ketahanan pangan nasional kini terancam putus asa.