Di sebuah perempatan jalan sibuk di pinggiran kota, seorang lelaki tua berdiri memegang sepasang sepatu anak kecil yang lusuh. Sepatu itu terlihat sangat usang, dengan sol hampir copot dan tali yang sudah hilang. Meski demikian, cara lelaki tua itu memegangnya seolah benda tersebut sangat berharga. Banyak orang lalu-lalang.
Beberapa melirik, tapi tak ada yang berhenti. Mereka mungkin mengira lelaki itu sedang menjual barang bekas. Namun kenyataannya, ia hanya diam dan menunggu. Menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.
Pertemuan Tak Terduga: Wartawan dan Lelaki TuaKisah Kebaikan dari Sudut Kota yang Ramai
Seorang wartawan muda bernama Hasan kebetulan sedang mencari inspirasi untuk artikel human interest. Ketika melihat lelaki tua tersebut berdiri dengan sepatu kecil di tangannya, rasa penasarannya muncul.
“Pak, boleh saya tahu… itu sepatu siapa?” tanya Hasan sambil mendekat.
Lelaki itu tersenyum ramah. “Sepatu milik Bima, anak kecil yang biasa duduk di sini menjual tisu. Hari ini dia tidak datang.”
“Kenapa Bapak pegang sepatunya?”
“Saya pinjam dua hari lalu, untuk saya bersihkan dan tambal. Tapi sekarang saya khawatir, karena dia tak muncul.”
Jawaban itu membuat Hasan terdiam sejenak. Ia kemudian duduk di samping lelaki tua itu dan mulai merekam percakapan mereka.
Lelaki Tua yang Punya Masa Lalu Serupa
Namanya Pak Tejo. Umurnya sekitar 70 tahun. Ia bercerita bahwa ia mengenal Bima dari rutinitas sehari-hari. Setiap sore, anak itu menjajakan tisu dengan senyum di wajah meski bajunya lusuh dan sepatunya hampir hancur.
“Saya melihat diri saya dalam anak itu,” ucap Pak Tejo lirih.
Dulu, Pak Tejo juga pernah jadi anak jalanan. Ia kehilangan orang tua sejak kecil, hidup berpindah-pindah, dan sering tidur di kolong jembatan. Hingga suatu hari, ada seorang penjual gorengan yang memberinya nasihat.
“Kamu bisa jadi orang baik, asal jangan berhenti peduli.”
Sejak saat itu, Pak Tejo berjanji untuk hidup bermanfaat. Ia bekerja keras, meski hanya jadi tukang sapu dan penjaga malam. Kini, di masa tuanya, ia tidak memiliki banyak, tapi masih ingin memberi sedikit kebaikan.
BACA JUGA: Kumpulan Cerpen
Sepatu Kecil dan Hujan yang Turun
Langit mendung berubah menjadi gerimis. Hasan menyaksikan Pak Tejo melepas jaketnya dan menutupi sepatu kecil yang diletakkan di bangku trotoar.
“Takut basah. Kalau Bima datang dan lihat sepatunya rusak lagi, saya malu,” katanya.
Hasan tak bisa menahan haru. Di tengah zaman yang penuh pamer kebaikan demi pujian, lelaki tua ini melakukan segalanya tanpa harapan balasan. Ia tidak punya akun media sosial, tidak tahu bahwa tindakannya bisa jadi viral. Ia hanya ingin satu hal: membuat Bima merasa dihargai.
Artikel yang Viral dan Kebaikan yang Menyebar
Malam itu, Hasan menulis artikel berjudul “Sepatu Kecil dan Lelaki yang Menunggu di Perempatan Kota.” Dalam hitungan jam, artikel itu viral. Media sosial ramai dengan komentar haru. Banyak orang ingin tahu lebih banyak tentang Pak Tejo dan Bima. Keesokan harinya, perempatan itu ramai. Orang-orang datang membawa sepatu, makanan, bahkan menawarkan beasiswa untuk Bima. Tapi anak itu tak juga muncul.
Hingga akhirnya, seorang perempuan muda datang dengan wajah panik. Ia mengenakan seragam rumah sakit.
“Saya ibu Bima. Anak saya demam tinggi. Sudah tiga hari tidak jualan,” ucapnya.
Mata wanita itu berkaca-kaca saat melihat sepatu yang bersih dan sudah tertambal.
“Anak saya terus menanyakan sepatunya.”
Pak Tejo tersenyum. Ia menyerahkan sepatu itu perlahan.
“Bilang pada Bima, sepatunya sudah siap untuk dipakai berlari lagi.”
Kepergian yang Diam-Diam
Beberapa hari kemudian, Pak Tejo tak lagi terlihat di perempatan itu. Kata warga, ia dijemput keluarganya di kampung karena kesehatannya menurun. Namun, di tempat biasa ia duduk, tertinggal sebuah kursi kayu dan secarik tulisan di dinding:
“Jadilah orang baik, meski dunia tidak selalu membalas kebaikanmu.”
Kalimat itu menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa kebaikan sejati tidak menuntut tepuk tangan.
Cerita tentang Pak Tejo mengajarkan kita bahwa kebaikan tidak perlu menunggu kaya, terkenal, atau kuat. Cukup dengan niat dan ketulusan, satu tindakan kecil bisa menginspirasi banyak orang. Sepasang sepatu yang ditambal dengan cinta bisa membuka mata dunia bahwa empati masih hidup. Kebaikan bukan tentang jumlah, tapi ketulusan. Bukan tentang viral, tapi dampak. Dan bukan tentang siapa yang melihat, tapi siapa yang merasakan.
Cerpen inspiratif ini adalah pengingat bahwa di balik keramaian kota, masih ada orang-orang kecil yang diam-diam menanam kebaikan. Mereka mungkin tak dikenal, tapi jejaknya akan abadi dalam hati yang tersentuh. Jika kamu membaca cerita ini sampai selesai, mungkin kamu juga punya peran untuk melanjutkan kebaikan itu. Tidak harus besar, cukup dari hal-hal kecil, seperti menambal sepatu seseorang.













