Seri 1:
Pernahkah Anda membayangkan bahwa satu jawaban “Ya” yang sederhana untuk sebuah permintaan kecil bisa mengubah garis hidup Anda selamanya? Dalam sains, ini disebut Butterfly Effect—teori di mana kepakan sayap kupu-kupu di satu belahan dunia bisa memicu tornado di belahan dunia lainnya. Bagi saya, “kepakan sayap” itu terjadi empat puluh dua tahun yang lalu, di sebuah apartemen sunyi di pinggiran Massachusetts.
Tamu Tengah Malam
September 1983. Jarum jam menunjukkan pukul 22:00 EST di Princeton Park Apartment, Lowell. Saya baru saja merebahkan diri, mencoba berdamai dengan kesunyian kota kecil di utara Boston itu, ketika sebuah ketukan keras mendarat di pintu kamar.
Dengan sedikit dongkol, saya membuka pintu. Di depan saya berdiri seorang pria brewok yang tampak sangat menyesal. Dia adalah teman sekamar saya yang baru datang dari New Jersey.
“Bisa tidak kita tukar kamar?” tanyanya ragu. “Teman saya dari New Jersey juga ikut ke sini, kami ingin satu unit apartemen.”
BACA JUGA: Cinta di Lirik Panji Sakti, Seperti Kamboja yang Abadi
Saat itu, saya adalah seorang engineer muda yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Amerika. Kemampuan bahasa Inggris saya masih terbatas, dan rasa sungkan sebagai pendatang sangat besar. Meski sudah mengantuk, saya hanya menjawab singkat, “No problem,” sembari meminta mereka membantu mengangkat barang-barang saya ke kamar sebelah.
Saat itulah saya bertemu dengan “si kawan” tersebut. Sosoknya tinggi besar, berkulit hitam legam dengan jemari sekokoh pisang ambon. Namanya Anthonie Collie. Penampilannya mengingatkan saya pada Michael Jordan, sosok yang cukup mengintimidasi bagi saya yang bertubuh kecil. Namun, siapa sangka pria ini akan menjadi malaikat tak bersayap dalam perjalanan saya?
Masalah di Kota Tanpa Kereta
Masalah besar muncul di hari kedua. Training Center (TC) tempat saya belajar terletak di Bedford, sekitar 30 kilometer dari Lowell. Di daerah “nyelempit” itu, tidak ada bus maupun kereta. Satu-satunya pilihan hanyalah taksi, yang biayanya tentu akan menguras kantong saya dalam sekejap.
Di hari pertama pelatihan, seorang petugas administrasi bertanya kepada kelas, “Who has a handicap here?” (Siapa yang punya kendala di sini?).
BACA JUGA: Cerpen: Tetesan Hujan yang Mengukir Jejak Rindu
Saya langsung angkat tangan, mengira dia sedang bertanya soal masalah transportasi. Belum sempat petugas itu menjawab, sebuah suara berat menyahut dari belakang:
“No problem, Harmanto. We can walk together.”
Saya menoleh. Ternyata itu Anthonie! Sebuah kebetulan yang mustahil: dari sekian banyak kelas di pusat pelatihan raksasa itu, kami ternyata berada di kelas yang sama.
Persahabatan di Atas “Kuda Besi”Sejak hari itu, pagi dan sore saya diisi dengan dentuman musik dari mobil besar milik Anthonie. Kami membelah jalanan Massachusetts sepanjang 60 km setiap hari dengan gaya “jedang-jedung” bak di diskotik berjalan.
Ketika saya bertanya, “Berapa saya harus bayar bensin setiap harinya?”, Anthonie justru tersinggung. Dia membantu dengan tulus, membuktikan bahwa di negeri yang katanya serba materi ini, persahabatan tulus itu nyata adanya.
Kejutan tidak berhenti di situ. Suatu hari, mobil Anthonie masuk bengkel. Sebagai ganti, dia meminjam mobil kantor, sebuah Chevrolet Chevy. Tiga hari kemudian, saat mobil pribadinya selesai diperbaiki, dia malah menyerahkan kunci Chevy itu kepada saya.
“Nih, pakai saja mobil ini. Kamu sudah hafal jalannya, kan? Masak seminggu tidak hafal,” katanya santai.
Saya tertegun. Berbekal nekat (karena saya lupa membawa SIM Internasional), saya pun resmi menjadi pengemudi di tanah Amerika. Saya melewati badai salju perdana, suhu minus 15 derajat Celcius yang menggigit, hingga ritual “mengerok” salju setebal 15 cm setiap pagi dari kap mobil.
BACA JUGA: Cerpen: Mencintaimu Adalah Hobiku
Tornado di Jakarta
Empat bulan berlalu. Saya pulang ke Indonesia yang hangat membawa sejuta kenangan. Namun, Butterfly Effect yang sesungguhnya baru terasa saat saya mengaudit tabungan saya.
Karena kebaikan Anthonie, uang jatah sewa mobil dan bensin yang diberikan kantor selama empat bulan utuh tak terpakai. Nominal yang bagi sebagian orang mungkin biasa, namun bagi saya saat itu, jumlahnya cukup untuk membayar uang muka (DP) rumah pertama saya sekaligus biaya renovasi kecil-kecilan.
Rumah itu adalah rumah kenangan yang masih saya tempati hingga hari ini.
Siapa sangka, sebuah ketukan pintu di jam 10 malam dan kerelaan bertukar kamar tidur bisa berujung pada sebuah atap tempat saya berteduh selama puluhan tahun di tanah air?
Hingga saat ini, saya masih sering mencari nama Anthonie Collie di grup FB atau media sosial, berharap bisa mengucapkan terima kasih sekali lagi. Meski belum bertemu, jejak kebaikannya abadi di setiap sudut dinding rumah saya.
Terima kasih, kawan. Di mana pun kau berada, kau adalah bukti bahwa dunia ini digerakkan oleh kebaikan-kebaikan kecil yang tidak terduga.
Matalensaku













